
| Senin, 21 Oktober 2002 | Sala |
UNS, Wajah yang Kehilangan KecantikanKECANTIKAN kampus UNS kini memudar. Bukan hanya termakan usia, melainkan juga karena terlindas perkembangan zaman. Sekitar tujuh tahun lalu pemandangan bagian dalam bisa disaksikan melalui pagar dari besi. Beberapa waktu kemudian hal itu tak memungkinkan lagi. Selain usang disana-sini, pagar kampus tertutup pedagang kaki lima yang berjajar dari samping timur hingga belakang kampus. Mereka pun terus bertambah. Yanto, penjual bakso, menuturkan sekitar tahun 1995 hanya ada tiga pedagang belakang kampus. Kini sudah ratusan pedagang. Pemandangan itu mungkin tak terlihat bakal terlihat kembali dengan pembangunan pagar tembok di belakang dan di samping kampus. 'Pemandangan itu makin tak kelihatan. Tetapi demi keamanan ya bagaimana lagi?'' ujar seorang mahasiswa saat melintas di depan Masjid Nurul Huda. Mahfud Anshory, Ketua Partai Cinta Pertama, menolak pembangunan pagar tembok di belakang kampus. Sebab, pagar tembok setinggi itu tak ramah lingkungan. ''Cukup dipagari seperti dulu, sehingga tak menutupi perwajahan kampus,'' ujar dia. Tinggi pagar tembok 3 m pun jelas tak ramah lingkungan dan berkesan memisahkan diri. ''Seharusnya kampus menjadi pelopor pembangunan yang berwawasan lingkungan. Tetapi dengan ketinggian pagar tembok 3 m berkesan menutup diri,'' kata dia. Pendapat yang sama diutarakan Hari Purwanto, mahasiswa FISIP. Dia menyatakan wajah kampus makin kacau. ''Bukan hanya karena banyak PKL menutupi belakang kampus, melainkan juga muncul kesan memisahkan dari lingkungan setelah pembangunan pagar tembok.'' Pelaksana Humas UNS Drs Soenardiono mengatakan, pemagaran dengan tembok untuk keamanan karena selama ini pencuri sering masuk dan sembunyi di kampus. Secara pribadi dia mengemukakan pagar belakang sebaiknya bercelah, sehingga pemandangan bagian dalam kampus tetap terlihat. Pintu Tembus Ditutup Pembangunan pagar tembok membuat pintu kecil untuk pejalan kaki ditutup. Sebelumnya di depan Masjid Nurul Huda ada jalan kecil yang disebut jalan tikus atau gigi satu. Jalan kecil menurun itu bisa dilalui satu orang, sehingga bagi mahasiswa lebih dekat ketimbang masuk lewat gerbang belakang. Namun rencananya pintu itu dan beberapa pintu tembus lain ditutup. ''Seluruh pintu tembus saya dengar akan ditutup,'' ujar Mahfud. Hal itulah, kata dia, yang ditolak mahasiswa. Penutupan beberapa pintu tembus seperti di dekat Fakultas Teknik dan depan Masjid Nurul Huda akan membuat pejalan kaki menempuh jarak lebih jauh. Kepala Bagian Tata Usaha Rumah Tangga Humas dan Tata Laksana Lina Sutadi SH mengemukakan penutupan pintu kecil untuk menambah keamanan. ''Pintu-pintu kecil dimasuki penggembala hewan dan mengurangi keamanan. Jadi ya diputuskan ditutup,'' tegas dia. Kelak pintu masuk hanya tiga dan seluruh pintu kecil atau pintu tembus ditutup. Pintu masuk adalah gerbang depan, gerbang belakang, dan pintu darurat yang direncanakan dibuat antara FISIP dan Fakultas Hukum. Pintu darurat hanya dibuka pada saat-saat tertentu. (Evie Kusnindya -42g) |