logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 21 Oktober 2002 Ragam  
Line

Serat Pisang Abaka

Alternatif Bahan Baku Pulp

PENANAMAN pisang abaka (Musa textilis) untuk tujuan komersial tampaknya mulai diminati di Indonesia. Sejumlah investor telah menanamkan modalnya di Jawa Timur dan Sulawesi Tengah untuk menanam pisang jenis ini. Pada zaman penjajahan Belanda, penanaman abaka yang cukup luas pernah diusahakan di Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

SERAT abaka dapat menghasilkan kertas istimewa dengan kekuatan dan daya simpan tinggi, misalnya kertas dokumen, kertas uang, kertas berharga lainnya dan kantung teh celup. Di Filipina, barang kerajinan dengan bahan baku serat abaka sangat dibanggakan sebagai produk nasional. Kepala Lembaga Penelitian Universitas Mulawarwan (Unmul) Prof Dr Ir Sipon Muladi mengatakan, pemanfaatan batang pisang abaka sebagai bahan baku pulp merupakan alternatif terbaik, mengingat persediaan kayu yang selama ini digunakan sebagai bahan baku pokok semakin berkurang.

''Kayu hutan alam tropis di Kalimantan Timur (Kaltim) makin hari makin berkurang. Hal ini terjadi karena maraknya penebangan liar yang terjadi di wilayah tersebut. Selama 2001 tercatat sekitar 60 juta hektar hutan mengalami kerusakan,'' katanya. Selama tahun 2000 kebutuhan pulp Indonesia mencapai 2.660.259 ton, dengan asumsi satu ton pulp atau kertas membutuhkan lima meter kubik kayu.

Kebutuhan bahan baku serat untuk pulp dan kertas sekitar 2,6 juta ton. Jumlah ini diperkirakan setara dengan 13 juta meter kubik kayu. Hingga saat ini konsumsi kertas masyarakat Indonesia cenderung terus meningkat dan diperkirakan mencapai sekitar 12 persen per tahun.

Abaka, khususnya abaka liar, yang tumbuh tidak beraturan merupakan gulma atau tanaman pengganggu di areal hutan yang hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian tumbuhan tersebut nantinya tidak perlu diberantas, tetapi dibudidayakan dengan pengelolaan yang intensif untuk menghasilkan serat dengan kualitas tinggi.

''Penelitian dan pemikiran ini merupakan salah satu solusi yang dapat ditindaklanjuti serta diterapkan guna menanggulangi masalah kekurangan pasokan bahan baku pulp dan kertas yang terjadi selama ini,'' kata Prof Sipon.

Kadar Air Tinggi

Abaka dimanfaatkan upihnya yang memiliki kadar air sangat tinggi, yaitu dapat mencapai 90 persen dari bobot basah. Pemanfaatan abaka memerlukan teknik pasca-panen tertentu untuk mendapat serat dengan kualitas maksimal, dan selanjutnya diolah menjadi bahan baku pulp atau bubur kertas. Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Suminar S Achmadi mengatakan, kandungan kadar air abaka yang tinggi dapat menimbulkan tiga masalah, yaitu bahan menjadi cepat busuk, perolehan serat per hektarnya rendah dan transportasi pengangkutan bahan dari tempat panen ke tempat pengolahan menjadi mahal.

Serat abaka tergolong panjang. Apabila diolah menjadi bahan baku pulp, dan kertas, abaka menghasilkan kertas dengan diameter sedang. Berdasarkan nilai keefisien kelenturan, serat tersebut tergolong dalam kelas II dan III, serta menghasilkan kertas yang kasar, kecuali bila diberi perlakuan penggilingan secukupnya.

Pemanenan Serat

Pemanenan batang abaka dilakukan dengan menebang batang pisang tersebut, kemudian sekitar 10 sampai 15 upihnya diambil. Bagian tengah batang umumnya ditinggal karena kadar seratnya rendah. Prof Suminar mencontohkan, di Filipina pemanenan dilakukan dengan proses dekortikasi yaitu menggunakan pisau bergerigi (dekortikator).

Bagian terluar upih dikuliti lalu dijepit di antara dekortikator, hasilnya berupa serat memanjang kemudian dijemur. Dalam bentuk serat, komoditas ini dapat diolah menjadi pulp.

''Untuk membuat bahan baku pulp, perolehan serat sekurang-kurangnya mencapai 1,5 persen dari bobot batang basah,'' katanya. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperoleh serat abaka dengan menggunakan bahan kimia. Lapisan terluar dari setiap upih dikelupas kemudian didihkan dalam larutan natrium hidroksida (NaOH) dengan konsentrasi satu persen selama 30 menit.

Selanjutnya serat dicuci bersih hingga diperoleh filamen berwarna kuning keemasan dan dijemur sampai kering. Rata-rata serat abaka memiliki panjang berkisar antara dua hingga 4,4 mili-meter (mm). Serat yang panjang umumnya menghasilkan kertas dengan keteguhan sobek tinggi karena ikatan antar-serat lebih banyak, namun kelemahannya permukaan kertas yang dihasilkan cenderung kasar.

Pembuatan pulp dari serat abaka dapat dilakukan dengan proses semikimia sulfit netral (NSSC), yaitu menggunakan campuran natrium sulfit (Na2S203) ataupun proses soda menggunakan larutan alkali (NaOH) dengan suhu pemasakan tidak berbeda yaitu sekitar 160 derajat Celsius. Setelah semua bahan disiapkan, serat dimasukkan ke dalam ketel pemasak (digester).

Penggilingan

Pulp hasil pemasakan umumnya perlu digiling agar seratnya menjadi lebih gepeng, tipis dan membuat efek fibrilasi untuk menghasilkan sifat mekanik pulp yang lebih baik, yaitu indeks retak, indeks tarik dan ketahanan lipat terbaik.

''Untuk memperoleh indeks sobek yang tinggi diperlukan waktu penggilingan seminimal mungkin, sedangkan untuk mendapatkan indeks retak, indeks tarik dan ketahanan lipat yang baik waktu giling lebih lama. Jadi harus hati-hati agar kualitas kertas yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan,'' katanya.

Lama waktu penggilingan juga dapat mempengaruhi nilai opasitas kertas, yaitu banyak tidaknya jumlah sinar yang dapat menembus selembar kertas, yang dinyatakan dalam persen. Terdapat keragaman opasitas akibat kondisi pemasakan dan penggilingan yang berbeda. Penggilingan dalam waktu singkat dapat sedikit meningkatkan opasitas.

''Mengingat kualitas kertas yang dihasilkan cukup baik bila dibandingkan dengan kertas berbahan baku pulp kayu tropis, maka tidak ada salahnya alternatif pemilihan serat batang pisang abaka sebagai bahan baku kertas diterapkan pada industri kertas di Indonesia,'' katanya.(Aspek-35)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA