logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 21 Oktober 2002 Ragam  
Line

Teori Evolusi Darwin

Berisi Kebohongan Filsafat dan Ideologi

ANDA punya hubungan kekerabatan dengan kera?. Atau memiliki nenek moyang yang sama dengan gorila?. Anda yang mengimani Alquran pasti akan berkata tegas, ''tidak!'', sebab Allah Swt melalui kitab suci-Nya menjelaskan setiap manusia di muka bumi adalah keturunan manusia pertama yang bernama Adam alaihi salam.

Bahkan Adam tidak mempunyai hubungan kekerabatan apa pun dengan kera dan hewan mana pun. Ia merupakan manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah. Adam tidak memiliki ayah, ibu dan saudara, tetapi yang ia miliki hanya lah istri, anak serta keturunannya. Tetapi mereka yang ''mengimani'' teori evolusi percaya jika mereka punya hubungan kekerabatan dengan kera, gorila, orang hutan dan sejenisnya.

Hanya saja, bicara masalah evolusi tidak akan lepas dari peran seseorang petualang Charles Robert Darwin (1809-1892) asal Inggris. Bagi banyak evolusionis (penganut teori evolusi), Darwin dianggap sebagai bapak evolusi. Meski sesungguhnya kepercayaan satu spesies merupakan keturunan spesies lain sudah dikemukakan ilmuwan-ilmuwan lain sebelumnya, seperti ahli biologi Prancis Jean Baptiste Lamarck.

Namun kepercayaan semacam itu diketahui sudah ada sejak zaman purba. Misal bangsa Sumeria yang hidup beberapa alaf (milenium) silam di Mesopotamia, yang diketahui mempunyai kepercayaan tentang proses terciptanya dewa mereka, yang muncul tiba-tiba dari banjir besar, selanjutnya berevolusi menjadi alam semesta dan makhluk hidup di dalamnya.

Penemuan Fosil

Adanya zaman purba tersebut berkaitan dengan peran berakhirnya zaman prasejarah yang tidak sama bagi tiap-tiap bangsa, melainkan tergantung dari maju mundurnya bangsa itu sendiri. Contohnya, bangsa Mesir kira-kira 4.000 tahun sebelum masehi meninggalkan zaman prasejarah. Penduduk asli Australia meninggalkan zaman prasejarah baru pada abad ke-20.

Bangsa Indonesia mulai meninggalkan zaman prasejarah tahun 400 masehi, yang dapat diketahui dari batu bertulis yang ditemukan di Muara Kaman, Kalimantan Timur asal peninggalan Kerajaan Kutai.

Sedangkan untuk mengetahui segala sesuatu tentang manusia purba, para ahli mendasarkan atas sumber-sumber informasi yang tidak mengaitkan dengan teori evolusi Darwin. Tetapi hanya didukung data yang ilmiah. Antara lain dari hasil penggalian dan penemuan fosil, tempat perlindungan di bawah karang (abris sous roches), dapur sampah, dan alat-alat yang digunakan oleh manusia purba.

Berdasarkan keempat informasi itu para ahli purbakala dapat mengetahui jenis manusia purba di Indonesia, yaitu Meganthropus Palaeojavanicus dan Pithecanthropus Mojokertensis serta Erectus. Termasuk ditemukannya fosil Homo seperti Homo Wajakensis dan Homo Soloensis.

Hal itu juga terbukti adanya penemuan fosil manusia purba di Cina pada 1929-1980 oleh ahli purbakala David Son Black dan Franz Waidenreich di gua Chou Kou Tien dekat Peking, yang diberi nama Sinanthropus Pekinensis. Tahun 1924 Raymond Dart, seorang evolusionis Afrika Selatan, menemukan fosil manusia purba di Desa Taung Bechunaland, Afrika Selatan, yang diberi nama Australopithecus. Artinya kera Afrika Selatan atau manusia kera. Namun beberapa tahun kemudian pembuktian itu gugur, karena hanya spesies kera punah.

Seleksi Alam

Sebagai tokoh evolusi, Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi, tetapi ia mempunyai ketertarikan yang besar terhadap alam dan makhluk hidup. Minat itu mendorongnya untuk ikut serta dalam ekspedisi pelayaran tahun 1832, dengan mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun.

Akhirnya Darwin berpendapat, jika beragam spesies, maka makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan, tapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam. Selanjutnya individu-individu beradaptasi pada habitat mereka, dengan cara terbaik akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya.

Darwin menamakan proses itu ''evolusi melalui seleksi alam''. Ia mengira menemukan ''asal-usul spesies'' yakni suatu spesies berasal dari spesies lain. Dia mempublikasikan buku itu berjudul ''The Origin of Species by Means of Natural Selection'' (Asal-usul Spesies, melalui Seleksi Alam).

Namun Darwin sejak awal sudah menyadari jika teorinya banyak masalah. Terutama tidak ditemukannya catatan fosil dan organ-organ rumit ma-khluk hidup, yang tidak mungkin dijelaskan dengan konsep terjadi secara kebetulan dan naluri makhluk hidup.

Sejak awal digulirkan teori itu sudah menuai banyak kritik dan sanggahan, khususnya dari kalangan agamawan. Sebab apa yang dipaparkan Darwin bertentangan dengan ajaran Yahudi, Kristen dan Islam. Sedang pandangan agamawan, setiap jenis makhluk diciptakan masing-masing oleh Tuhan, bukan merupakan keturunan dari jenis yang lain.

Propaganda Atheisme

Menyadari hal itu, seorang cendekiawan asal Turki Harun Yahya yang nama asli Adnan Oktar kelahiran Ankara 1956, selama duapuluh tahun terakhir bersama kelompoknya aktif melakukan riset dengan mengumpulkan berbagai bukti ilmiah, yang menyanggah teori evolusi dan mempublikasikannya secara besar-besaran ke seluruh dunia.

Di lingkungan Universitas Mimar Sinan Istanbul, ternyata Harun Yahya berhasil mengumpulkan informasi yang berlimpah.

Tentang berbagai kebuntuan, kontradiksi dan kebohongan yang terdapat dalam filsafat dan ideologi, yang didasarkan pada pengingkaran kepada Allah.

Lalu Harun akhirnya menyebarkan fakta-fakta itu, sekaligus sering menjelaskan kelemahan dan kekeliruan filsafat materialistik dan marxisme di hadapan mahasiswa serta dosen yang ditemuinya.

Beberapa dosen yang aktif mengajarkan teori evolusi dan propaganda Atheisme kerap didebat Harun sampai mereka terpojok, dan tidak mampu mempertahankan argumentasinya. Lalu beberapa mahasiswa militan pendukung ideologi kiri, mengancam akan membunuh Harun jika tidak menghentikan aktivitas dakwahnya. Namun Harun tidak merasa gentar, dan tetap menjalankan dakwahnya melawan ideologi kafir.

Selanjutnya teori evolusi Darwin disanggah keras oleh Harun Yahya, yang dalam bukunya berjudul ''The Evolution Deceit'' atau ''Keruntuhan Teori Evolusi''. Sedang penerbit Mizan menerbitkan buku ''Evolusi Ruhani: Kritik Parenial atas Teori Darwin'' (1996), terjemahan dari ''Critique of Evolutionary Theory''. Isinya mengkritik teori evolusi yang ditulis delapan pakar dari berbagai ilmu, di antaranya Sayyed Hossein Nasr, Osman Bakar, WR Thompson, Martin Lings dan Giuseppe Sermonti. (Djoko Sadono, dari berbagai sumber-35)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA