
| Senin, 21 Oktober 2002 | Berita Utama |
Catatan dari GSE Rotary International di Jepang (1)Eratkan Persahabatan lewat ''Bengawan Solo''
Rotary Indonesia District 3400 baru-baru ini mengirim lima peserta Group Study Exchange (GSE) ke District 2500 Jepang. Apa saja kegiatan selama lima minggu di sana? Berikut catatan wartawan Suara Merdeka Sriyanto Saputro yang mengikuti program tersebut. MALAM itu ruang pertemuan sebuah hotel di Kota Nemuro, Hokkaido, begitu semarak. Beberapa orang anggota rotary (rotarian) sibuk mengatur tempat duduk. Sebagian di antaranya membagikan selembar kertas. Ya, waktu itu peserta GSE dari Indonesia yang dipimpin PDG Wibowo Kusumadi sedang diundang dalam pertemuan Rotary Club setempat. Terasa haru ketika di awal acara ''Indonesia Raya'' berkumandang yang kemudian disusul dengan ''Kimigayo'', lagu kebangsaan Jepang. Di tempat itu pula ada surprise bagi kami, tatkala sekitar 50 orang Jepang itu kemudian bersama-sama menyanyikan ''Bengawan Solo'' sambil mengeja teks yang ditulis di selembar kertas. Lagu ciptaan Gesang itu memang begitu dikenal di Negeri Sakura. Meski dengan lirik dan intonasi sekenanya, mereka begitu semangat dan menghayati lagu keroncong yang dimaksudkan untuk mempererat persahabatan. ''Tiga bulan kami latihan untuk menyambut kedatangan Anda,'' demikian pengakuan mereka. Kami pun juga berusaha memberi surprise untuk mereka. ''Kokoro no Tomo'' yang pernah ngetop di Indonesia sekitar tahun 1987 dan dibawakan oleh penyanyi Jepang Mayumi Itsuwa pun kami nyanyikan. Fenomena tersebut hanyalah sebagian dari sekian banyak aktivitas yang merupakan bentuk nyata persahabatan internasional yang menjadi salah satu misi dari Rotary. Program GSE yang pesertanya dari beragam profesi dan pebisnis itu selama di Jepang begitu padat acaranya. Peserta diajak berkeliling sambil mengunjungi perusahaan, rumah sakit, instansi pemerintah, objek wisata, lembaga sosial, dan seabrek kegiatan lain. Kebetulan kami dari beragam profesi, Wibowo Kusumadi dan Maria Mexitalia (dokter), ADP Prasetyo (manajer hotel), Ma'ruf Muliawan (dosen), dan Sriyanto Saputro (wartawan), sehingga kegiatannya pun disesuaikan dengan keterkaitan profesi masing-masing. Ketika akan berangkat, kami sempat pesimistis terhadap tuan rumah dalam berinteraksi dengan kami. Hal ini karena Jepang yang dikenal masyarakatnya supersibuk, kami khawatir mereka tidak punya waktu untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Ternyata bayangan kami meleset. Di sembilan kota yang kami singgahi, tak ada hambatan yang berarti. Bahkan, mereka memperlakukan peserta GSE dari Indonesia ini begitu simpatik. Bisa jadi, mereka ingin ''balas budi'' karena dulu negara itu pernah menjajah Indonesia. Untuk urusan yang satu ini, meski tak diutarakan secara vulger, namun dari pembicaraan, sebagian di antara mereka mengaku tahu bahwa Jepang pernah menjajah Indonesia. Mereka mengistilahkan para pendahulunya pernah ''bertugas'' di Indonesia. Di sisi lain, kehadiran kami seakan-akan menjadi penghibur di tengah kesibukannya sehari-hari. Bercanda ria, saling gojlok, selalu mewarnai dalam setiap kesempatan kita bertemu. Sampai-sampai ketika kami ber-poco-poco, mereka berebut untuk minta diajari sambil jingkrak-jingkrak mengikut alunan musik. Masalah Bahasa Sedikit kendala ketika berkomunikasi dengan rotarian di sana menyangkut bahasa. Tidak mudah menjumpai orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris, meski dia anggota Rotary. Begitu juga para pejabatnya. Tak pelak, semua aktivitas selama kami berkeliling di Hokkaido selalu didampingi penerjemah. Bahkan, di sejumlah hotel berbintang pun, manajernya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Begitu pula para pengusaha yang sudah sering ke luar negeri. ''Di sekolahan tidak diajarkan bahasa Inggris. Kalau ingin belajar, ya kursus privat,'' kata Jun Tamori, aktivis Rotary di Obihoro yang juga pengusaha sukses. Tak heran, ketika kami harus menginap di rumah rotarian yang tak bisa berbahasa Inggris, dalam komunikasi sehari-hari menggunakan ''bahasa Tarzan''. Sesekali kami saling buka kamus. Hampir di setiap kota yang menjadi objek kegiatan anggota GSE, kami selalu dilibatkan dalam meeting rutin Rotary. Dalam kesempatan itulah kami bertukar informasi, baik menyangkut kegiatan Rotary maupun hal lain. Kami pun mencoba menginformasikan berbagai potensi di negeri ini. Tak ketinggalan Pulau Bali selalu saja kami pamerkan sebagai objek wisata yang indah, murah, dan aman. Mereka umumnya begitu mengenal Pulau Dewata, bahkan tidak jarang orang Jepang yang kami temui pernah berkunjung ke sana. Bisa jadi apa yang kami sampaikan itu kemudian kini menimbulkan tanda tanya besar setelah kami kembali ke Tanah Air. Betapa tidak, hanya selang dua hari setelah kami pulang ke Indonesia, kemudian muncul kasus mengagetkan dunia internasional dengan dibomnya Sari Club di Legian, Kuta, Bali, dan menewaskan 180 orang lebih. ''Baru saja kami pamerkan, eh tak tahunya malah jadinya seperti itu (Bali dibom-Red),'' ungkap Ma'ruf Muliawan, peserta GSE dari Purwokerto. Keruan saja, kami juga menerima beberapa e-mail dari Jepang yang intinya tanya informasi seputar kasus mengagetkan itu. Sebab, di antara mereka semula berencana pada tahun baru nanti akan berlibur di Bali. Kami pun mencoba meyakinkan mereka bahwa Bali tetap aman, meski apa yang kami sampaikan itu belum sepenuhnya diyakini. Selain Bali, objek wisata yang dikenal di sana adalah Candi Borobudur. Ini karena sebagian warga Jepang beragama Buddha. Mereka terheran-heran ketika mendengarkan presentasi bahwa Indonesia memiliki 13.000 pulau dengan penduduk 213 juta jiwa. (29t) | |||||