logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 21 Oktober 2002 Berita Utama  
Line

Seorang Wanita dan 2 Nelayan Diperiksa

DENPASAR - Tim penyidik Polri, kemarin, melakukan pemeriksaan terhadap dua nelayan dan seorang wanita dalam kasus peledakan bom di Bali.

Ketiga orang itu diperiksa, karena diduga mengetahui ledakan bom yang terjadi 12 Oktober 2002 itu. Seorang wanita yang diselidiki ini diduga berada sangat dekat dengan ledakan bom di Paddys Club. Tapi kini sedang dibawa ke Australia untuk menjalani perawatan, karena termasuk menjadi korban.

Sedangkan dua nelayan juga dimintai keterangan oleh tim penyelidik, karena diduga mengetahui tentang bahan-bahan peledak. Mereka adalah para nelayan di daerah Kepaung, Denpasar.

Tapi, aparat penyelidik Polri mengaku sampai sekarang belum ada orang yang ditahan. Demikian disampaikan Wakabahumas Mabes Polri Brigjen Pol Edward Aritonang dalam keterangan pers di Hotel Hard Rock, Kuta, Bali, Minggu kemarin.

Lebih lanjut, Aritonang mengatakan, sampai sekarang belum ada perkembangan yang signifikan dari penyelidikan tim investigasi, baik dari Indonesia dan negara-negara lainnya.

Aritonang juga menjelaskan, hari ini ada satu lagi jenazah korban ledakan bom Bali yang bisa diidentifikasi. Satu korban tewas yang bisa diidentifikasi itu adalah warga Jepang bernama Yoka Suzuki. Dengan demikian, sampai sekarang sudah 48 jenazah yang bisa diidentifikasi.

Sementara itu, ketika ditanya wartawan apakah seorang wanita yang diperiksa itu merupakan seseorang yang dikabarkan keluar dari mobil yang diledakkan, Aritonang membantahnya. Menurut dia, wanita itu adalah salah seorang korban di Paddys Club yang posisinya sangat dekat dengan ledakan.

Sementara itu, korban tewas yang semula ada 184 orang, kini bertambah menjadi 185 orang. Kadek Alit Margarini yang dievakuasi ke Australia dinyatakan meninggal sesampai di Negeri Kangguru.

Namun, kabar meninggalnya Kadek belum diterima RS Sanglah sehingga daftar korban tewas masih tercatat 184. RS ini juga mencatat bahwa dari 184 korban tewas, 20 jenazah telah diambil keluarganya.

Rp 480 Miliar

Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Dr Ir Soenarno Dipl HE mengemukakan, pemerintah pusat mengalokasikan dana sedikitnya Rp 480 miliar untuk menangani pascatragedi "Malam Minggu Kelabu", peledakan bom di Legian-Kuta, Bali, 12 Oktober lalu.

''Dana tersebut sebagian besar diarahkan untuk memperbaiki atau membangun fisik yang porak-poranda akibat guncangan bom yang dahsyat,'' katanya.

Saat mengunjungi Posko Penanggulangan 'Tragedi Bali', di Kantor Gubernur, dia mengatakan, dana itu juga diarahkan untuk penataan lingkungan dan perbaikan jalan yang rusak akibat ledakan.

''Pelaksanaannya segera dilakukan setelah puing-puing kehancuran di lokasi dibersihkan. Mudah-mudahan pekan depan kita sudah bisa mulai masuk ke lokasi itu," katanya.

Menkimpraswil berkunjung ke Posko setelah sebelumnya meninjau lokasi tempat kejadian di Legian dan meninjau korban ledakan bom yang masih dirawat secara intensif di RSUP Sanglah Denpasar.

Bersama tiga menteri Kabinet Gotong Royong lainnya, yakni Menpan Feisal Tamin, Mennakertrans Jacob Nuwawea, dan Menristek Ir M Hatta Rajasa, Soenarno menuturkan, berdasarkan hasil di lapangan, 450 bangunan rusak.

Bangunan tersebut terdiri atas toko penjual cenderamata, kafe, warung sepanjang jalan, dan rumah penduduk. Dalam memperbaiki prasarana dan sarana itu, diterapkan tiga zone.

Zone pertama dengan radius 50 meter dari lokasi kejadian bom, semua bangunan fisik yang ada hancur hingga harus dibangun kembali dari awal. Zone kedua dengan radius 100 meter, bangunan yang rusak masih perlu dikaji lebih lanjut, apakah layak diperbaiki atau harus dibongkar seluruhnya.

Sedangkan zone ketiga dengan radius 200 meter, struktur bangunannya masih bangus, sehingga tinggal memperbaiki/renovasi bagian-bagian yang rusak, ujar Menteri Soenarno.

Australia Berkabung

Australia menyatakan tekad untuk tetap ikut dengan sepenuh hati dalam perang global terhadap terorisme.

Tekad tersebut dikemukakan Minggu kemarin, ketika negara itu menandai hari berkabung nasional untuk menghormati sekitar 100 warganya yang tewas dalam serangan bom di Bali.

''Kita harus tetap ikut serta dalam perang terhadap terorisme, karena ini (pengeboman Bali) adalah bagian darinya,'' kata PM John Howard pada televisi Nine Network.

''Dalam hati, saya tidak percaya ini insiden terpisah yang khusus (terjadi pada) Indonesia. Saya yakin, meski tidak dapat membuktikan, (ia) merupakan bagian dari operasi terorisme dunia.''

Howard mengingatkan, ada peningkatan risiko serangan terhadap Australia menyusul pengeboman 12 Oktober di Bali yang menewaskan lebih dari 180 orang, sebagian besar di antaranya turis asing.

Presiden AS George W Bush dalam sebuah pidato yang ditujukan pada Australia, berjanji membantu memburu mereka yang bertanggung jawab atas pengeboman tersebut.

''Negara kami turut berduka bersama Anda, dan kami turut menderita bersama Anda. Dan kami berdoa untuk keluarga-keluarga yang sedang bersedih, dan kami berdoa agar mereka yang terluka segera pulih,'' kata Bush, dalam sebuah pesan yang direkam sepekan setelah pengeboman maut itu.

''Minggu ini adalah hari berkabung nasional di Australia, suatu hari yang sahabat-sahabat kita berkabung atas kehilangan nyawa secara sia-sia,'' katanya.

''Kami sangat ingat pada doa, simpati, dukungan kuat Anda (kepada kami) setelah 11 September 2001. Dan kami tidak akan melupakannya. Pada hari yang menyedihkan ini, pada hari berkabung ini, Amerika bersama Anda.''

Tak Dapat Lari

Ketika kecemasan meningkat mengenai lebih banyak serangan yang bakal muncul, AS, Australia, dan beberapa negara Eropa mengeluarkan peringatan tentang ancaman terhadap orang-orang Barat di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara.

Menlu AS Colin Powell segera meminta Australia untuk tidak menarik diri dari kampanye global terhadap terorisme.

''Saya harap, rakyat Australia tidak akan memandangnya dengan cara ini: pengeboman di Bali terjadi karena partisipasinya dalam perang terhadap terorisme, dan karena itu harus mundur dari kampanye melawan terorisme,'' kata Powell pada Australian Broadcasting Corp.

''Anda tidak dapat bersembunyi dari ini. Anda tidak dapat menjauh, Anda tidak dapat lari darinya.''

Australia adalah pendukung kuat AS dan sikapnya keras terhadap Irak. Menlu Alexander Downer menyangkal laporan sebuah media, yang menyebutkan suatu taklimat tentang keamanan di Canberra telah membahas ancaman serangan pada Bali, lima hari sebelum pengeboman tersebut.

''Itu tidak benar, tidak ada pembahasan mengenai ancaman bom di Bali di Komisi Keamanan Nasional Kabinet (Australia),'' kata Downer pada televisi Seven Network.

Harian Sunday Herald Sun melaporkan, seorang pejabat keamanan Australia pada taklimat tersebut memberikan konfirmasi tentang laporan intelijen AS yang disampaikan pada pihak berwenang Australia.

Laporan intelijen Amerika itu mengidentifikasi Bali sebagai ''target yang berisiko tinggi''.(ant,rtr-ben-30,29t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA