logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 21 Oktober 2002 Berita Utama  
Line

Analisis Berita

Rekayasa atau Bukan?

PERTANYAAN itu selalu mencuat selama sepekan terakhir, berkaitan dengan penangkapan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, sesepuh Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Sebenarnya rekayasa atau tidak tuduhan yang dialamatkan kepadanya? Pertanyaan yang lain yang tidak kalah penting untuk dijawab, pesanan Amerika Serikat ataukah memang upaya penegakan hukum pemerintah Megawati?

Lebih-lebih muncul ganjalan ketika Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil tiba-tiba langsung buka mulut bahwa pelaku pengeboman di Bali adalah teroris domestik anggota kelompok jaringan Al Qaedah.

Kalau yang mengeluarkan pernyataan itu seorang Suta atau Naya yang hanya tukang becak, atau sopir angkot, mungkin tidak akan berpengaruh. Tapi karena yang menyatakan itu seorang Matori, orang yang mengomandani Departemen Pertahanan, jelas semua orang terhenyak.

Kenapa pejabat sepenting dan sekelas dia berani mengeluarkan pernyataan seperti itu, sementara pejabat yang terkait dengan keamanan seperti Panglima TNI, KSAD, Kapolri, bahkan Kepala BIN saja tidak berani memberikan vonis demikian terbuka.

Yang lebih merasa aneh, di saat yang sama, Matori dengan lantangnya meneriakkan bahwa upaya penegakan hukum di negara demokratis harus terus diupayakan. Sebab, ciri negara demokratif akan selalu menjalankan demokrasi berbarengan masalah keterbukaan dengan upaya penegakan hukum.

Dalam sebuah upaya penegakan hukum, salah satu kaidah yang harus dihormati adalah menghormati asas praduga tidak bersalah. Artinya, selama seseorang belum dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim, dia belum bisa dikatakan bersalah.

Nah, kaidah inilah yang menjadikan pernyataan Matori itu sangat aneh. Bagaimana mungkin dia menghormati asas itu, sementara secara terus terang dia mengatakan jaringan Al Qaedah domestik melakukan pengeboman di Bali. Alasan dia bahwa itu merupakan hasil analisis logis yang dilakukannya, tetap saja tidak bisa digunakan untuk menuding sebuah kelompok tertentu.

Abu Bakar Ba'asyir

Dalam kaitan ini, penangkapan Ustaz Ba'asyir menjadi sangat rancu. Tentu saja ini juga terkait dengan persoalan teroris yang selama ini menjadi momok. Kaitannya dengan pernyataan Matori, karena selama ini sudah kadung kaprah Al Qaedah yang dipimpin Usamah Bin Laden di Afghanistan itu sebagai biang terorisme global, jaringan terorisme internasional.

Padahal, Ustaz Ba'asyir juga dikaitkan dengan teror tersebut. Nah, tuduhan yang dialamatkan saat ini, sangat terasa agak sumir dan sangat mungkin karena pesanan, tidak seperti yang dikatakan Matori, yakni upaya penegakan hukum untuk menciptakan keamanan negara.

Mari kita urai sedikit. Ketika ramai-ramai memberantas terorisme dikembangkan oleh AS, mereka langsung membombardir dan menuduh Usamah Bin Laden sebagai terpidana yang harus dihancurkan. Tanpa peduli suara dunia internasional, mereka menghancurkan Afghanistan, yang korbannya tidak kalah dibandingkan dengan jumlah korban peledakan Gedung WTC.

Pemberantasan terorisme ala AS itu makin berkembang ketika mereka mulai merambah ke Asia Tenggara. Saat itu langsung santer diberitakan, mereka meminta tiga tokoh di Indonesia, yakni Ja'far Umar Thalib, Habib Rizieq, dan Abu Bakar Ba'asyir ditangkap. Pesan itu disampaikan Wapres Hamzah Haz kepada ketiga orang itu saat bertemu. Pesan serupa juga disampaikan Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra.

Nah, kedua tokoh tersebut, dengan alasan berlainan, sudah berhasil ditahan. Ja'far bahkan dua kali terkena kasus, yang pertama soal hukum rajam dan kemudian dibebaskan demi hukum, sedangkan yang kedua kasus penghinaan kepada Presiden, dan kini statusnya tahanan kota.

Habib Rizieq ditangkap usai diperiksa kasus penghasutan perusakan yang dilakukan para anggota FPI. Itu pun juga masih sumir karena pada saat bersamaan dia mengaku tidak di Jakarta, jauh di luar Jawa.

Kini, sasaran tembak terakhir dan paling susah adalah Ustaz Ba'asyir. Pria yang sudah mulai uzur, usianya 64 tahun, yang lahir dengan tanggal pas dengan Hari Proklamasi itu harus dicarikan alasan yang sangat valid.

Kebetulan beberapa waktu lalu, polisi menangkap seorang pria, Umar Al Faruq. Saat ditangkap di Bogor, dia - yang lahir dan besar di Bogor dan beristri orang asli Bogor - ternyata memiliki identitas kewarganegaraan Kuwait. Karena itu, dakwaan awal dia sekadar menyalahi persoalan imigrasi, sehingga harus diekstradisi ke luar negeri.

Nah, di sinilah mulai muncul persoalan. Ternyata dia diekstradisi ke Afghanistan (atau ke AS?). Dia diserahkan ke CIA, agen AS itu. Di situ dia ternyata diinterogasi seputar persoalan bom dan terorisme internasional.

Sungguh mengejutkan, tiba-tiba Faruq mengaku pernah merencanakan melakukan pembunuhan dengan bom untuk menghabisi Presiden Megawati. Dia juga mengaku di-suport total oleh Ustaz Ba'asyir yang juga menjadi Imam Jamaah Islamiyah (JI) organisasi yang dituding teroris yang berkiprah di Singapura dan Malaysia.

Sebuah pengakuan yang sangat tidak logis sebagaimana dikatakan oleh ahli intelijen, seperti Soeripto. Sama dengan dugaan Habib Rizieq, terlalu kecil kalau Al Qaedah dan jaringannya membunuh Megawati. Sebab, musuh mereka AS. Tidak ada kaitan antara Mega dengan Bush. Jadi, tidak ada alasan membunuh.

Tapi jika dikaitkan dengan keinginan AS menghabiskan segala yang berbau Islam radikal - seperti kelompok Usamah Bin Laden - yang memberlakukan syariat Islam dengan teguh, maka pantas kalau mereka perlu nabok nyilih tangan pemerintah Megawati untuk menekuk ketiga tokoh yang juga dianggap tokoh garis keras itu.

Yang jelas, sejak saat itu Ustaz Ba'asyir bertubi-tubi menjadi sasaran tembak. Tuduhan demi tuduhan dilontarkan kepadanya. Saat itu dia sering mengatakan suatu saat pasti akan ditangkap juga.

Dugaan itu ternyata benar. Polisi dengan sangat sigap langsung meluncur ke Afghanistan menemui CIA. Dari situlah mereka membawa sejumlah bukti hukum, berupa pengakuan Faruq kepada CIA tersebut. Dengan bukti itu, dugaan Ba'asyir menjadi nyata, dia ditangkap.

Memang, bila diurai sedikit, ada sejumlah kejanggalan, yang kemudian disebut pihak Ustaz Ba'asyir sebagai sebuah rekayasa global. Sebab, pengakuan Faruq sekadar sebuah pengakuan sepihak. Polisi bahkan tidak mau mendokumentasikan pengakuan Faruq di dalam sebuah video. Alasannya aneh, tidak lazim. Nah!

Karena itulah, kalau sekarang Ba'asyir ngotot minta dikonfrontasi dengan Faruq, adalah suatu permintaan yang wajar. Semestinya polisi memenuhi itu, jika memang benar bisa membuktikan ada kaitan antara Ba'asyir dan berbagai pengeboman di tahun 2000 dan pembunuhan Megawati.

Tapi, jelas hal itu tidak akan dilakukan polisi. Hampir pasti polisi hanya akan menggunakan pengakuan Faruq yang didapat dari CIA, sebagai alat bukti. Sebab, sasaran akhir bukan itu, namun memenuhi pesanan saudara yang selama ini menjadi tumpuan donor. Dengan demikian, siapa bilang penangkapan itu bukan atas pesanan AS? (Joko Dwi Hastanto-16t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA