logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 21 Oktober 2002 Berita Utama  
Line

Muncul Isu Peledakan Pesawat

Bandara A Yani Di-sweeping

SEMARANG- Isu terorisme kembali muncul. Kemarin, sebuah pesawat Garuda Indonesia penerbangan Jakarta-Semarang dikabarkan dibajak dan akan diledakkan oleh teroris yang menumpang pesawat tersebut. Akan tetapi hingga penerbangan terakhir pukul 19.15, isu tersebut tidak menjadi kenyataan. Tak ada pesawat yang dibajak, apalagi diledakkan.

Kemunculan isu tersebut membuat sibuk aparat keamanan. Semua kendaraan tamu pengantar diperiksa menggunakan metal detector.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, ancaman itu menyebutkan, ada penumpang Garuda akan membajak pesawat. Tidak disebutkan motif dan latar belakang ancaman tersebut. ''Informasi kali pertama datang dari Jakarta,'' kata polisi.

Pembajak dikabarkan menggunakan penerbangan sekitar pukul 11.00, dari Jakarta dengan tujuan Bandara Ahmad Yani Semarang. Meski demikian, informasi tersebut baru diterima Polda Jateng sekitar pukul 16.00, dan selanjutnya diteruskan ke Poltabes.

Polisi yang dibantu aparat Kodam IV Diponegoro segera bergerak. Apalagi, bersamaan dengan itu tersiar pula kabar, selain pembajakan akan ada peledakan pesawat. Upaya penyisiran di bandara pun dilaksanakan, termasuk memeriksa tas penumpang yang dicurigai membawa bahan-bahan yang membahayakan.

Untuk menghindari kepanikan penumpang, pemeriksaan dilaksanakan dengan sangat hati-hati dan menghindari tindakan yang bisa mengundang perhatian. Kendati dilaksanakan sembunyi-sembunyi, beberapa penumpang yang menunggu di ruang pemberangkatan tetap bertanya-tanya, apalagi setelah mereka melihat kedatangan puluhan anggota Dalmas Poltabes.

Langkah antisipasi terhadap segala kemungkinan buruk yang terjadi dilaksanakan di semua sudut bandara. Pintu masuk pun dijaga. Semua mobil yang akan masuk ke halaman parkir diperiksa menggunakan metal detector. Pemeriksaan hingga menjelang pemberangkatan pesawat terakhir sekitar pukul 19.00.

Pemeriksaan tidak hanya di Bandara Ahmad Yani. Sejumlah penumpang mengatakan, sejak dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta semua barang bawaan sudah digeledah. Tapi para penumpang tidak tahu bahwa salah satu tujuan penggeledahan itu karena ada ancaman pembajakan dan peledakan pesawat.

''Tidak seperti biasanya, pemeriksaan kali ini sangat ketat,'' ujar seorang pria penumpang Garuda Indonesia Airways yang kebetulan satu rombongan dengan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, setibanya di Bandara A Yani.

Para pengantar, penjemput, dan calon penumpang yang sedang menanti pemberangkatan pesawat agaknya tidak banyak mengetahui isu tersebut. Terbukti, sebagian besar di antara mereka tetap tenang dan tidak panik.

Pemeriksaan berlangsung hingga pukul 20.00, setelah semua pesawat yang hendak take off atau landing habis. Kendati hanya isu, kejadian tersebut menjadi perhatian serius aparat. Bahkan, Waka Polda Jateng Brigjen Drs Dodi S dan Kapoltabes Kombes Drs Noer Ali pun datang mengecek bandara.

Tidak ada keterangan resmi dari para pejabat kepolisian tersebut menanggapi isu terorisme yang mengancam maskapai penerbangan nasional terbesar itu. Beberapa perwira polisi tampak berusaha menutup-nutupi keberadaan isu teror tersebut. Guna menghindari kemungkinan terburuk, hingga semalam polisi masih berjaga-jaga di sekitar bandara.

UKSW Dijaga Ketat

Kampus UKSW, di Jalan P Diponegoro, Salatiga, sejak Sabtu sore hingga Minggu malam dijaga ketat oleh aparat keamanan. Semua orang yang akan masuk ke kampus setempat dilarang.

Hal itu berkaitan dengan teror lewat telepon yang diterima seorang Satuan Keamanan Kampus (Satkam) UKSW bernama Kusairi, Sabtu (19/10), sekitar pukul 16.00. Telepon itu menyebutkan, beberapa intelektual UKSW berada di balik pengeboman di Kuta, Bali. Karena itu, kampus UKSW ganti akan dibom. Benda berbahaya tersebut sudah diletakkan di salah satu sudut bangunan.

Mendengar ancaman itu, Kusairi langsung menghubungi Rektor Prof Pdt Dr John A Titaley, aparat kepolisian, Korem, dan Kodim. Sekitar 150 aparat keamanan yang datang langsung menyisir setiap sudut gedung di kampus UKSW.

''Setelah disisir hingga malam hari, tak ditemukan bom,'' ujar seorang petugas.

Namun, sejak itu hingga Minggu malam, kampus terus dijaga ketat oleh sejumlah petugas keamanan. Warga atau mahasiswa yang biasa bersepakbola dan tenis, tidak diperbolehkan.

Demikian pula warga di belakang kampus yang biasa menggunakan jalan kampus untuk menuju ke kota.

John menambahkan, orang yang menelepon ke Satkam UKSW itu beraksen Jawa. (D7,G3,A2-16t,29e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA