
| Senin, 21 Oktober 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Baru Sebatas Antisipasi GlobalisasiSEMARANG-Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang paling penting dalam menghadapi globalisasi. Namun, Indonesia sejauh ini belum melakukan tindakan nyata dan baru sebatas mengantisipasi, misalnya melalui seminar di perguruan tinggi. Hal itu diungkapkan Dr Achmad S Ruky MA dalam seminar ''Pengembangan Fakultas Ekonomi Undip Menghadapi Tantangan pada Era Globalisasi'' yang diadakan di Gedung Magister Manajemen Jl Erlangga, Sabtu . Pembicara lain Prof Dr Sri Edi Swasono (keynote speaker), Ir Hendropranoto Suselo MPW, dan Prof Dr Budhy Tjahjati S MSc dengan moderator Sasongko Tedjo SE MM. Seminar diselenggarakan oleh Panitia Reuni Akbar 2002 Ikatan Alumni FE Undip. ''Sewaktu saya berkunjung ke Malaysia 14 tahun silam, Mahathir Mohamad mencanangkan Malaysia 2020, karena dia tahu WTO diberlakukan pada 2020. Malaysia tak hanya bicara, tetapi melakukan tindakan nyata dengan meningkatkan kualitas SDM dan hasilnya sudah bisa dilihat sekarang,'' papar Ruky. Konsultan SDM itu menjelaskan, pada 1955 Indonesia mengirim guru dan dosen ke Malaysia untuk mendidik orang-orang di sana. Namun sekarang, negeri jiran itu justru menawarkan kita untuk belajar ke sana karena sistem dan fasilitas pendidikannya sudah lebih maju. Dia juga mengkritik kurikulum pendidikan di Indonesia yang terlalu membebani peserta didik. Pelajar dan mahasiswa kita dijejali banyak hal, tetapi dalam kapasitas yang setengah-setengah. Seharusnya, anak didik mempelajari hal yang spesifik tetapi secara mendalam. Pembicara lain, Budhy Tjahjati, menilai peran perguruan tinggi kini tidak sebatas sebagai pendidik tetapi diharapkan juga sebagai pendamping masyarakat. Penguasaan iptek terkini melalui jalinan kerja sama dengan perguruan tinggi asing juga perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi globalisasi. ''Kegiatan seperti joint research, faculty exchange, dan student exchange perlu dipacu. Namun, hasil dari kerja sama itu harus disesuaikan dengan kondisi dan aspirasi masyarakat lokal,'' paparnya. Guru besar ITB itu menambahkan, globalisasi mengubah pola dan struktur lapangan kerja serta memasukkan konteks internasional dalam permasalahan lokal. Sebaliknya, kota dan kawasan sekitarnya membentuk terjadinya globalisasi dengan penyediaan infrastruktur dan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses tersebut.(D18-71k) |