logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 21 Oktober 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Jembatan Tak Atasi Kesemrawutan

  • Penghubung Antarmal di Simpanglima

SEMARANG- Pembangunan jembatan yang menghubungkan dua hotel dan mal di Simpanglima, tidak dapat menghilangkan kesemrawutan di kawasan itu. Fasilitas tersebut hanya akan memberikan kemudahan bagi warga untuk datang dari mal ke mal, tanpa harus turun dulu ke bawah dan menyeberang jalan.

Menurut Sekretaris Program Pascasarjana Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota Undip - Kimpraswil Ir Ragil Hananto MSc, warga yang datang ke kawasan itu tidak hanya mengunjungi mal. Banyak pula yang hanya sekadar makan atau membeli barang di tempat dasaran pedagang kaki lima (PKL).

''Untuk mengurangi kesemrawutan, sebagian PKL perlu diberi tempat di jembatan penghubung tersebut,'' kata Ragil.

Dia menilai, hubungan yang kuat antarmal merupakan pertimbangan utama pembangunan jembatan tersebut.

Namun demikian, sebelum rencana itu diwujudkan, Pemkot dan investor perlu mengkaji dan membuat rencana kawasan. Dikatakan, rencana kawasan Simpanglima secara matang belum pernah dibuat. Akibatnya, pertumbuhan kawasan itu berkesan berjalan sendiri-sendiri secara alami.

Dalam perencanaan kawasan itu, juga perlu memperhitungkan perkembangan yang ada. Akibat hilangnya Alun-alun Kota Semarang, Simpanglima menjadi pusat keramaian. Tidak heran jika pedagang kecil dan investor besar melihat kawasan itu sebagai tempat yang prospektif. Kecenderungan semacam itu terlihat kini dengan adanya pembangunan pasar swalayan dan hotel-hotel baru.

Namun jika dicermati, kawasan itu sudah sulit untuk berkembang secara horizontal. Karena itu, dalam menata kawasan, upaya yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan ruang yang ada.

Selain membangun jembatan penghubung, upaya tersebut bisa dilakukan dengan membuat bangunan-bangunan di dalam tanah.

Dia memberikan contoh, bangunan semacam itu dapat dibuat di bawah lapangan Pancasila. Di atas lapangan itu tetap bisa digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti upacara atau pentas hiburan.

Fungsinya antara lain untuk tempat parkir. Hal itu bermanfaat untuk mengurangi kesemrawutan parkir di bagian atas, seperti misalnya di Jl Erlangga dan Jl Anggrek. Tempat parkir tersebut juga perlu dilengkapi jalan akses ke setiap mal dan hotel. Karena itu, jalan penghubung antarmal tidak harus selalu berada di atas.

''Memang ada kendala soal banjir di kawasan itu. Namun, dengan teknologi hal itu bisa diatasi,'' tandasnya.

Dia juga mengingatkan, perkembangan kawasan itu hendaknya tidak sampai menghilangkan eksistensi Masjid Besar Baiturrahman di sisi barat Simpanglima. Menurutnya, masjid itu justru mendukung eksistensi Simpanglima sebagai kawasan perbelanjaan. Hal itu sesuai dengan konsep alun-alun Jawa.

Untuk STM Pembangunan di sisi barat daya, lokasinya bisa dipindahkan ke tempat lain yang lebih sesuai. Dia menilai, jika dalam sekolah itu tidak terdapat program yang mengarah ke pasar komersial, sebaiknya dipindahkan. Jika tidak, keberadaan Simpanglima sebagai kawasan komersial justru merugikan sekolah itu.

Kasubbid Pengembangan Kawasan Bappeda Kota Ir M Farkhan mengatakan, pembangunan jembatan penghubung antarmal di kawasan Simpanglima untuk menjadi superblock perlu dikaji matang. Menurutnya, sebelum hal itu direalisasikan perlu disusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).(G6-71k)

Nilai Plus

Bagi publik

Bisa berpindah mal/ pertokoan tanpa harus turun dan menyeberang Jl KH Ahmad Dahlan

Bagi lingkungan

Mengurangi titik kemacetan di kawasan Simpanglima

Mempermudah pencapaian ke Rumah Sakit Telogorejo (bagi pasien dari arah barat, yang butuh pertolongan cepat)

Bagi investor

Bisa menyewakan toko yang dibangun di kanan kiri jembatan penghubung

''Menahan'' orang lebih lama di kompleks pertokoan/ mal tersebut sehingga probabilitas berbelanja semakin besar. (C27)

WACANA

Perlu jembatan yang menghubungkan antara Plasa Simpanglima (Pertokoan Matahari) dan Mal Ciputra untuk mengurangi kemacetan akibat lalu-lalangnya orang menyeberang Jalan KA Ahmad Dahlan (depan Dunkin Donats). Jembatan itu berlantai dua, dan di kanan kirinya dibangun sejumlah toko yang bisa disewakan.

Ir Tata Pradana, Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) Kota: Rencana pembangunan jembatan penghubung itu sudah dipersiapkan sejak lama. Dana pembangunannya ditanggung bersama (masing-masing 50%) oleh pengelola Plasa Simpanglima dan Mal Ciputra.

Sukawi Sutarip SH, Wali Kota: Proyek itu bisa digarap pengelola kedua pertokoan besar tersebut. Karena dibangun di atas lahan Pemkot, nantinya menjadi milik Pemkot, dan sistem pengelolaannya bisa build, operate, and transfer, misalnya untuk jangka 25 tahun.

Sriyono, Ketua Komisi D DPRD Kota: Pemkot tidak perlu membangun dengan APBD tetapi cukup melibatkan investor. Mereka punya peluang memasang iklan di badan jembatan.

AY Sujiyanto SAg, Anggota Komisi D DPRD Kota: Jembatan penghubung itu bisa memberikan banyak manfaat. Antara lain mengurangi kesemrawutan di bagian bawah (Jalan KH Ahmad Dahlan/ Anggrek), memberi kemudahan, dan mengurangi risiko kecelakaan bagi pejalan kaki. (C27)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA