logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 21 Oktober 2002 Ekonomi  
Line

90% Transaksi Gunakan RTGS

JAKARTA-Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Bun Bunan Hutapea, mengatakan kini sekitar 90% transaksi antarbank di Indonesia sudah menggunakan sistem Real Time Gross Settlement (RTGS). "Itu berarti telah terjadi penurunan risiko sistem pembayaran yang sangat signifikan," tutur dia, Sabtu lalu.

Menurut dia, sejak sistem itu diterapkan yang diikuti pemberlakuan capping pada sistem kliring, volume transaksi melalui BI-RTGS rata-rata 14.500/ senilai Rp 59 triliun/hari.

"Nilai ini merupakan 90% dari total perputaran nilai pembayaran antarbank se-Indonesia," jelasnya.

Pemberlakuan capping pada sistem kliring, lanjut dia, adalah pemberian batas maksimum per transaksi transfer melalui kliring pada nilai di bawah Rp 100 juta. Sistem itu sudah diberlakukan sejak 1 Oktober 2002.

"Jika sebagian besar dari nilai itu sebelumnya dilakukan secara netting melalui sistem kliring yang mengandung risiko cukup tinggi karena exposure settlement harian bank-bank yang panjang, maka dapat dikatakan implementasi sistem BI-RTGS telah menurunkan risiko sistem pembayaran," paparnya.

Sistem BI-RTGS, kata dia, merupakan suatu sistem transfer dana elektronik antarbank dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara on-line.

Melalui penerapan sistem itu maka masyarakat yang akan transfer dalam jumlah besar atau bersifat mendesak kini dapat melakukan hanya dalam waktu sekitar 4 detik.

Untuk transfer dana dalam jumlah kecil, tidak mendesak, atau bersifat rutin, kata dia, masih dapat memanfaatkan layanan kliring yang ada saat ini. Wilayah terakhir yang menerapkan sistem itu adalah Kupang (NTT).

Sementara itu, Deputi Kepala Bagian Biro Komunikasi BI, Iing M Hasanudin, dalam keterangan tertulisnya mengatakan BI mencatat terjadi penurunan uang primer Rp 4,21 triliun pada 15 Oktober 2002 menjadi Rp 121,40 triliun.

Penurunan itu, menurut dia, terkait dengan proses uang kartal dalam sistem perbankan yang kembali sejak pekan kedua setiap bulan. Posisi cadangan devisa pada pekan kedua Oktober 2002 juga turun 70 juta dolar AS menjadi 29,91 miliar dolar AS.

Penurunan itu terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri, sedangkan rekening pemerintah bersih di BI naik Rp 5,58 triliun sehingga mencapai Rp 164,34 triliun, terutama berasal dari penerimaan pajak dan penerimaan hasil minyak dan gas.

Kredit Likuiditas BI (KLBI) memberikan pengaruh kontraksi Rp 14 miliar, terutama berasal dari pelunasan sebagian kredit program untuk skim perkebunan.

Operasi Pasar Terbuka (OPT) memberikan pengaruh kontraksi Rp 688 miliar. Atas dasar itu, Net Domestic Asset (NDA) dalam pekan itu memberikan pengaruh kontraksi Rp 3,62 triliun sehingga mencapai negatif Rp 20,66 triliun.(tri-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA