
| Senin, 21 Oktober 2002 | Ekonomi |
Analisis BeritaWaspadai Globalisasi PasarPERISTIWA bom di Bali yang mengejutkan telah terjadi dan dampaknya terasa langsung pada pasar modal Indonesia. Dalam sehari bursa IHSG yang semula pada posisi 376,5 langsung turun tajam menjadi 337,5 atau 10,4%. Mengingat penurunan yang sangat tajam, secara teknikal kemudian mulai naik lagi. Sesuai dengan karakteristik pasar modal di Indonesia, yakni penyesuaian turun cepat tetapi untuk penyesuaian naik lambat, dalam empat hari belum dapat pulih. IHSG naik lagi menjadi 360,9 atau baru naik 6,5%. Tidak sedikit investor yang menjadi korban, yakni investor yang dilanda kepanikan dan ketakutan mendalam sehingga menjual sahamnya pada posisi indeks di bawah. Penyesalan pun timbul, tetapi terlambat tatkala indeks kemudian perlahan naik. Sebagian investor asing ternyata tak takut pada bom. Terbukti yang semula gencar menjual sahamnya, kemudian berbalik arah. Mereka membeli saham ketika indeks menyentuh level sangat rendah, yakni mulai pada posisi 324. Investor asing yang pada awal indeks dalam posisi di bawah banyak beli (net buying), pada hari berikutnya saat perlahan-lahan indeks naik lebih banyak jual (net selling). Hal itu mengindikasikan bahwa investor asing merupakan pihak yang akhirnya mendapatkan porsi banyak dalam keuntungan. Pada suatu pasar yang berciri mendekati pasar global, model transaksi demikian sesuai dengan aturan memang dibenarkan. Pasar global akan selalu diwarnai dan diiringi oleh ideologi yang bersifat liberal, sedangkan dimensi liberalisme berupa persaingan, inisiatif individu, dan mekanisme pasar. Ketiga unsur itu akan membentuk dan mengembangkan globalisasi pasar. Paham Persaingan Sejalan dengan yang disampaikan oleh Prof Dr Sri Edi Swasono pada rangkaian acara temu alumni FE Undip, yakni paham kompetitivisme (persaingan) telah melahirkan adagium bebas keluar dan bebas masuk, bebas hidup dan bebas gulung tikar. Pada suatu pasar yang demikian, masalahnya adalah pihak mana yang akan diuntungkan dan mana yang dirugikan? Globalisasi dengan persaingan bebas dan pasar bebas telah melahirkan pemenang (the winner), ketidakberdayaan (disempowerment), dan kemiskinan (impoverishment) terhadap pihak yang lemah. Pada pasar modal di Indonesia dalam perkembangannya di samping prestasi positif yang telah dihasilkan, ternyata juga melahirkan hal negatif seperti itu. Dengan demikian, bukan berarti kita menyongsong globalisasi, tetapi globalisasi merupakan hal yang tak dapat dihindari dan kita harus waspada. Waspada berasal dari kata bahasa Jawa (Dr Kartini Kartono). Artinya, mempunyai ketajaman, juga mampu menembus penglihatan ke depan, serta mampu mengadakan forecasting atau futuristic. Kewaspadaan para investor, terutama investor individu (si lemah) dapat diwujudkan dalam berbagai aspek tindakan dan kerja sama dalam lembaga. Kerja sama (cooperation) di kalangan investor dikembangkan dan dioptimalkan. Kerja sama itu dapat berbentuk dana (modal) untuk investasi pada saham atau berbagi informasi. Pertama, berbagi informasi dapat berupa berbagai bentuk informasi tentang saham-saham pilihan. Para investor memerlukan berbagi informasi tentang tolak ukur saham pilihan, baik saham blue chip, lapis kedua, maupun lapis ketiga. Kedua, berbagi informasi dalam penentuan harga wajar suatu jenis saham. Dengan mengetahui kewajaran harga suatu saham, para investor dapat menilai saham yang harganya relatif mudah atau yang sudah mahal. Ketiga, berbagi informasi dalam hal waktu yang tepat (timing) untuk tindakan beli atau jual saham. Dengan demikian, investor yang tergabung dalam kerja sama dapat mempunyai persepsi yang sama soal kapan beli dan kapan jual. Keempat, berbagi informasi dalam metode atau strategi yang tepat dalam transaksi perdagangan. Dengan persepsi yang sama dalam metode dan strategi perdagangan diharapkan tercipta koordinasi yang optimal. Sebagai ilustrasi, pemimpin bangsa terdahulu, yakni Sosro Kartono, telah mengemukakan empat landasan diplomasi. Di antaranya adalah menang tanpa mengalahkan (menang tanpa ngasorake). Bertransaksi di bursa perlu juga berdiplomasi. Dalam keadaan pasar sepi, dengan jumlah transaksi dan nilai transaksi yang rendah, kaum spekulan dapat optimal melakukan strategi menggoreng saham. Sifat khas spekulan penggoreng saham adalah tidak mau didahului dan dikalahkan. Dia akan melawan investor individu untuk mendapatkan keuntungan. Investor individu yang terlihat membeli saham dalam jumlah banyak akan membangkitkan selera mereka untuk mengalahkan dengan cara menurunkan harga. Investor dengan strategi beli secara bertahap tidak akan begitu tertangkap oleh radar penglihatan mereka. Para investor yang menerapkan strategi itu pada umumnya dapat mengalahkan mereka (investor spekulan), karena mereka tidak merasa dikalahkan. (Sugeng Wahyudi, pengajar pada Program MM Undip-53t) |