
| Senin, 21 Oktober 2002 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Kawanan Kera Jumprit Bisa Obati StresINGIN udara sejuk sambil menikmati tingkah polah kawanan kera liar? Datang saja ke wana wisata Jumprit di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Di sana puluhan kera sanggup menghilangkan stres yang dialami pengunjung. Untuk menjangkau Jumprit tak sulit. Dari kota Temanggung sekitar 22 km arah utara dengan medan ringan dan jalan mulus beraspal. Hanya 5 km setelah Ngadirejo jalan agak menanjak. Udara di kawasan berketinggian sekitar 1.500 m di atas permukaan laut di kaki Gunung Sindoro itu sangat sejuk. Sering pada siang hari udara terasa dingin. Terkadang selepas tengah hari kabut turun. Sebenarnya Jumprit hanya sebuah kawasan wisata ritual di lahan milik PT Perhutani. Di sana ada makam Ki Ageng Jumprit serta wana wisata yang tak seberapa luas. Tetapi tempat itu memiliki keistimewaan. Yakni, pusat sumber air yang selama ini selalu dijadikan sarana puja bakti umat Buddha setiap Hari Raya Waisak. Jumprit sekarang kian menarik karena keberadaan sekelompok kera liar yang menghuni rimba di sekitar makam. Sejauh ini belum ada catatan sejak kapan kera berekor panjang itu ada. Tetapi penduduk memperkirakan mereka sudah ada ratusan tahun. Yang unik, populasi kera ini setiap tahun tak jauh berubah. Kendati ada yang lahir dan mati, jumlah mereka hanya 40-an ekor. ''Kadang-kadang lebih dari 40 ekor. Tetapi sering kurang dari itu. Pokoknya sejak dulu tak jauh dari 40 ekor,'' kata Mohtasori (35), penjaga wana wisata. Dia menuturkan banyak kera di kawasan itu berumur puluhan tahun. Paling tua kera betina bernama Mince yang lahir tahun 1962. Kendati paling tua, Mince bukan pemimpin kelompok itu. ''Yang jadi pemimpin Kasdut. Tubuhnya paling besar, sehingga tak ada kera di sini berani melawan. Apa pun kemauannya selalu dituruti kera-kera lain,'' ujar Mohtasori. Kera itu diberi nama Kasdut karena lahir hampir bersamaan dengan penangkapan Kusni Kasdut, seorang penjahat, pada tahun 1976. Itu berarti dia sekarang berumur 26 tahun. Tetapi fisiknya masih sangat prima. Kasdut tampaknya mampu melindungi kawan-kawannya. Tanaman Buah Berbeda dari Mince, yang belakangan terlihat lemah dan sering sakit-sakitan. Sehari-hari si tua itu lebih banyak menyendiri dengan menghabiskan waktu di pojok gapura. Selama ini Kasdut dan kawan-kawan mengandalkan makan dari para pengunjung. Jika pengunjung sepi, Mohtasori yang menyediakan makan seadanya. Ada upaya lain untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. PT Perhutani, sebagai pemilik lahan sekaligus pengelola hutan wisata, menanam buah-buahan di lahan 0,5 ha di sekitar makam. Pohon yang ditanam antara lain pisang dan jambu. Akhmat menuturkan berdasar cerita turun-temurun kera di Jumprit ada sejak zaman Majapahit. Semula seorang bangsawan kerajaan bernama Singo Negoro memutuskan menghabiskan masa tua di Jumprit sambil bersemedi. Dia diikuti seekor kera putih piaraannya yang diberi nama Ki Dipo. (Narto Budhi-74g) |