logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Tajuk Rencana  
Line

Dalam Olahraga Haruskah Kita Juga Terpuruk?

- Relevankah keterpurukan kehidupan suatu bangsa pada banyak dimensi memantul pada prestasi olahraganya? Jika kemerosotan prestasi olahraga Indonesia di kancah Asia Tenggara dan Asia dijadikan parameter, hipotesis itu bisa relevan. Meski demikian, tentu saja antihepotesis itu patut disimak. Sejumlah catatan gemilang ditoreh justru dalam kondisi krisis multidimensi seperti saat para pebulutangkis kita mempertahankan Piala Thomas pada 1998, 2000, dan 2002, serta meraih medali emas Olimpiade Sydney 2000, juga dua gelar juara dari Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2001 di Sevilla. Tetapi hasil Asian Games XIV di Busan, Korea Selatan tak terelakkan mengundang kecurigaan: jangan-jangan keterpurukan prestasi atlet-atlet kita memang tidak sepenuhnya terpisahkan dari kondisi makro bangsa ini.

- Empat tahun lalu di Bangkok, kontingen Merah Putih meraih enam medali emas, 10 perak, dan 11 perunggu untuk menduduki peringkat ke-11. Kini dari target tujuh emas atlet-atlet kita hanya mampu memenuhi empat. Dengan tambahan tujuh perak dan 12 perunggu - bahkan jauh di bawah "motivasi" Presiden Megawati Soekarnoputri yang meminta 15 emas. Dalam peringkat, kontingen berbiaya Rp 32 miliar itu anjlok tiga tangga di bawah negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand (14 emas, peringkat VI), Malaysia (6, XII), Singapura (5, XIII), dan setangga di atas Vietnam (4, XIV). Posisi demikian tampaknya mengikuti tren pemudaran hegemoni olahraga di Asia Tenggara yang pernah kita sandang dua dasawarsa sejak 1977. Di dua SEA Games terakhir, 1999 dan 2001, nyata-nyata kita sudah di bawah Thailand dan Malaysia.

- Tanpa perlu berbasa-basi lagi, itulah fakta. Olahraga Indonesia bukan hanya mengalami stagnasi pembinaan justru kemerosotan. Di kancah Asia, dahulu kita masih mempunyai kantong-kantong medali dari bulutangkis, tenis, tinju, dan atletik. Tetapi kini, bisa mendapatkan satu emas saja dari cabang-cabang andalan itu sudah luar biasa. Kemerosotan pada level regional Asia Tenggara terasa di cabang tinju, atletik, renang, dan panahan yang sebelumnya tambang medali. Kita dapat saja berkilah, kini belum lagi muncul bakat-bakat hebat seperti yang pernah menopang kejayaan. Seperti Kristiono Sumono di cabang renang, Donald Pandiangan di cabang panahan, Purnomo di cabang atletik, Yustedjo Tarik di pentas tenis. Tetapi banyak indikator yang mengonstruksi fakta baru.

- Adalah fakta kenapa pembinaan di negara-negara lain - seperti Thailand dan Malaysia - berjalan seakan-akan deret ukur di hadapan Indonesia yang bagai deret hitung? Mengapa kita belum lagi sanggup memunculkan atlet dengan bakat sehebat legenda pada dekade-dekade lalu? Fakta-fakta itu terkonstruksi oleh kondisi yang tidak berdiri sendiri. Ukuran bakat mungkin relatif lantaran yang tak kalah penting adalah sistem dan organisasi untuk mengeksplorasi talenta itu, mengasah sekaligus mengembangkannya. Sistem dan organisasi juga akan bergantung pada dukungan politik pemerintah bila kita bicara perbandingan pada negara-negara yang kini melampaui Indonesia. Dukungan itu tentu pada komitmen anggaran olahraga, sebab sejauh ini alur pembinaan lebih banyak bergantung pada peran swasta.

- Mengeksplorasi peran swasta memang menjadi salah satu jalan. Ada hubungan simbiosis mutualisme dalam konteks pembinaan olahraga. Masalahnya, pada masa-masa krisis sekarang tak sembarang orang swasta yang berani mengikatkan diri pada komitmen sebesar masa-masa silam. Kita masih melihat klub-klub yang hidup dan besar dari topangan kecintaan para pengusaha atau sejumlah atlet yang menjadi "anak angkat" perusahaan-perusahaan besar. Tetapi bagaimanapun mendorong peran swasta tak bisa ditawar-tawar, karena itu sama artinya dengan memberi hak kepada masyarakat untuk sepenuhnya mengaktualisasikan diri lewat keterlibatan membina olahraga. Namun anggaran negara tetap saja menjadi kunci tatkala berbicara tentang multievent yang mengatasnamakan kontingen negara.

- Hasil-hasil di Busan diyakini tak terlepas dari refleksi makrokehidupan kita sebagai bangsa. Tentu sangat memprihatinkan pada saat olahraga diharapkan menjadi penawar dahaga kebanggaan. Fakta demikian harus menjadi entry penting bagi pemerintah untuk menggalang komitmen baru dalam pembinaan olahraga, justru saat sadar dunia internasional sedang memandang sebelah mata kepada Indonesia dalam banyak hal yang serbamerendahkan dari korupsi, kemanusiaan, kriminalitas, disintegrasi hingga terorisme. Yang lebih penting lagi, tak ada prestasi yang dapat diraih lewat cara-cara instan. Basis utama pembinaan melalui efektivitas kompetisi di berbagai jenjang usia. Jalan untuk menggodok pematangan teknik, fisik, mental hingga jam terbang inilah yang mutlak harus dihidupkan dan digairahkan.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA