logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Tajuk Rencana  
Line

Bencana Itu pun Memesankan Persatuan

- Sampai hari ketiga laporan dan gambar-gambar sangat mengharukan masih kita lihat di Legian Bali. Antara lain tentang penanganan mayat korban, kesibukan aparat keamanan meneliti puing-puing bekas bom, dan bangunan-banguan besar yang runtuh meninggalkan sisa-sisa kehitaman bekas terbakar. Beton cor dan besi-besi tulang yang kehitaman salah satu bukti betapa dahsyat ledakan bom dan pancaran api yang menyembur menyertai ledakan. Pancaran api itulah yang membawa paling banyak korban. Karena itu pula, banyak yang sulit dikenali identitasnya sebab bagian-bagian tubuhnya termasuk wajah banyak yang sudah tidak utuh lagi. Dari 18l korban yang meninggal di tempat, belum ada separo yang bisa ditemukan dan dikenali identitasnya.

- Di rumah-rumah sakit para dokter dan perawat kita bekerja bersama rekan-rekannya dari Australia berusaha menyelamatkan nyawa ratusan korban luka. Sementara itu di luar, di lokasi bencana, di atas pasir pantai Legian, di pura, orang menebarkan bunga dan memanjatkan doa bersama tanpa menghiraukan agama atau kepercayaan masing-masing. Karangan tanda duka cita tampak di tempat bencana dan di Kedubes Australia di Jakarta. Sejumlah tokoh agama bertemu di kantor PB NU Jakarta. Mereka adalah KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB NU Hasjim Muzadi, Ketua KWI Mgr Kardinal Julius Darmaatmadja, Ketua PGI Pendeta SAE Nababan, tokoh umat Hindu Gede Natih, dan wakil umat Konghucu Djaengrana. Mereka memesankan kesatuan dan persatuan dan menyerukan umat membantu pemerintah menyelesaikan masalah dengan jujur dan benar.

- Peristiwa itu menunjukkan, bom di Legian selain menebarkan bencana juga memesankan persatuan. Tak hanya bangsa Indonesia, tetapi juga bangsa lain berduka atas peristiwa yang merenggut orang-orang tak berdosa. Semua mengutuk terorisme. Mereka yang berkulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang semua seperasaan. Menyampaikan duka cita yang dalam kepada para korban dan keluarganya, serta mengutuk keras pelaku perbuatan biadab itu. Siapa pun pelaku itu. Orang asing atau lokal. Khususnya bagi kita bangsa Indonesia, selama ini lebih banyak dibingungkan tentang ada atau tidak teroris di negeri ini. Jika toh ada, apakah teroris lokal atau ada kaitannya dengan jaringan internasional. Juga debat tentang perlu atau tidak, atau bagaimana seharusnya UU Terorisme.

- Debat terus bergulir saat bom-bom sudah berledakan di sana-sini. Yang terjadi justru saling tuduh dan salah menyalahkan. Pada satu pihak, jajaran intelijen misalnya, dituduh tumpul tak mampu mendeteksi masalah-masalah yang membahayakan kehidupan bangsa itu secara dini. Pada pihak lain, sangat kentara kalau pihak-pihak yang seharusnya menangani merasa gamang. Sangat mungkin kegamangan itu terjadi lantaran debat dan pendapat yang simpang-siur tentang sesuatu masalah termasuk soal terorisme. Yang terjadi seolah-olah kontes ketajaman lidah saat memperdebatkan masalah-masalah yang sebenarnya sangat rawan bagi kehidupan bangsa kita. Bukan berbicara tentang bagaimana mencari jalan keluar yang paling baik dari persoalan tersebut.

- Sejak reformasi bergulir empat tahun lalu, persatuan dan kesatuan bangsa seolah-olah sudah tidak menjadi fokus perhatian lagi. Meskipun semua sadar dan tetap bicara masalah itu, terbatas hanya dalam wacana saja. Elite politik bangsa lebih banyak bertikai tentang kepentingan partai, golongan, atau malah pribadi. Lihatlah sidang-sidang MPR dan DPR yang lebih diwarnai debat yang dilatarbelakangi kepentingan politik. Kepentingan nasional hanya sebagai bungkus luaran saja. Setidak-tidaknya cuma menjadi pembicaraan di depan forum, tetapi terabaikan begitu sidang usai. Ketika persoalan muncul, muncul pula salah-menyalahkan legislatif dan eksekutif. Pendapat, Megawati akan dibiarkan dalam ketidakberhasilan semakin lama semakin kentara.

- Bom di Legian telah menempatkan bangsa kita dalam persoalan mahaberat, bukan cuma lantaran krisis yang berkepanjangan. Seperti telah kita kemukakan, persoalan yang dihadapi bakal makin melebar mulai dari masalah ekonomi, politik, sampai masalah citra bangsa dalam pergaulan internasional. Saatnyalah sekarang para pemimpin lebih menekankan kembali persatuan dan kesatuan. Seruan tokoh-tokoh agama di Jakarta seharusnya menjadi landasan pemikiran. Semua pihak harus membantu usaha pemerintah memecahkan masalah dengan jujur dan benar. Kejujuran untuk berbicara yang benar belakangan seolah-olah makin hilang dari perbendaharaan hidup para pemimpin bangsa kita. September Kelabu mempersatukan bangsa AS. Bisakah kita belajar dari sana?


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA