
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Sala & sekitarnya |
Kestalan, Kandang Kuda Pacu Pembesar dan Pelesir MalamSIANG terik sekitar 1770, Lapangan Banjarsari (sekarang Monumen Juang 45-Red) penuh berbagai jenis kuda yang tengah dituntun para joki. Sementara itu pada tribun, duduk berjajar para pembesar Pura Mangkunegaran dan pejabat kolonial Belanda. Rakyat biasa memenuhi pinggiran lapangan. Mereka ingin melihat kuda-kuda bagus itu berlaga dalam suatu pacuan. Demi memenuhi kebutuhan olahraga sekaligus rekreasi para pembesar itu, kuda-kuda perlu dirawat secara baik. Karena itu, secara khusus penguasa Pura Mengkunegaran membuat sebuah gedhogan jaran di sekitar arena. Kandang kuda itu dalam bahasa Belanda disebut staal. Dan, di situlah cikal-bakal perkampungan yang selanjutnya disebut Kestalan. Zaman berubah dan arena pacuan kuda di situ harus berpindah ke tempat baru di Lapangan Manahan. Berdasarkan beberapa sumber tertulis, itu terjadi sekitar 1880 tepatnya pada akhir pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono XI. Kepindahan arena pacuan memengaruhi keberadaan gedhogan jaran milik Mangkunegaran. Kandang menjadi kosong dan berubah menjadi sebuah perkampungan yang belum bernama. Ketika diberi nama, istilah dalam bahasa Belanda itu yang dipakai dan lahirlah Kampung Kestalan. Lokasinya sekarang mulai dari belakang RRI Solo menyusur jembatan Balapan (Srambatan) ke timur hingga jembatan Pasar Legi (Ngebrusan). Sementara di wilayah sekitar bekas arena pacuan kuda dibangun rumah-rumah bagus milik orang Belanda yang lebih terkenal dengan sebutan vila. Puluhan vila di situ menciptakan suatu kawasan tertentu yang disebut Villa Park. Itu terjadi saat pemerintahan Mangkunegara VI (1896-1916) dan pada 1942 tempat itu berubah nama Banjarsari. Versi Lain Versi lain, RM Sajid dalam Babad Sala menulis, sekitar 1910 kegiatan pacuan kuda masih berlangsung. Bahkan, dia beberapa kali melihatnya. Katanya, ''Papan wiyar kados ara-ara kaleres saeleripun Pasar Legi kala kula taksih alit (kinten-kinten 1910) taksih nyumerepi papan punika kangge balapan jaran. Ing sisih kilen wonten gedhogan kandhangipun jaran (Di tempat luas utara Pasar Legi, saat saya masih kecil (sekitar 1910) melihat di situ untuk pacuan kuda. Di sebelah barat ada kandang kuda).'' Dia juga menyebut kampung bekas arena pacuan itu sebagai Kampung Balapan. Yang unik sekarang, dari 51 kelurahan di Kota Solo hanya Kestalan yang memiliki banyak hotel. Tak ada catatan sejak kapan wilayah itu dikenal sebagai tempat pelesir malam. (Saroni Asikin-70j) |