logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Sala & sekitarnya  
Line

Wali Kota Kenakan Beskap Landhung

''LHO, Pak Wali kok macak dhalang? Ada apa, datang ke paripurna menggunakan pakaian Jawa beskap?'' Bisik-bisik bernada rasa heran itu terucap dari mulut sejumlah anggota DPRD Surakarta menjelang rapat paripurna penetapan perubahan APBD 2002, Senin (14/10) malam lalu.

Sementara orang yang dirasani, yakni Wali Kota Slamet Suryanto tampak senyum-senyum, meski kedatangannya terlambat sekitar satu jam dari jadwal yang dicantumkan pada undangan rapat.

Beberapa kali pria berkumis tebal yang mengenakan beskap landung warna merah maron, lengkap dengan blangkon dan selop itu, menyalami sebagian anggota Dewan yang sudah ada di ruang paripurna.

Kedatangannya ''dikawal'' Sekda Drs H Qomaruddin MM yang juga mengenakan beskap. Komentar pun mengalir.

Juru bicara Fraksi Pembaharuan (FP) Darsono SE dalam prolog pendapat akhir fraksinya, berkelakar, ''Apabila Wali Kota berpakaian kejawen seperti ini setiap hari, maka kami akan tetap mendukungnya sampai akhir masa jabatan tahun 2005.''

Lontaran itu, spontan disambut tawa hadirin. Namun kepada Suara Merdeka dia secara serius mengatakan, penampilan Wali Kota malam itu surprise.

Jurubicara FPG, RM Kus Raharjo yang tampil berikutnya, juga menyampaikan rasa bangganya terhadap orang pertama di jajaran Pemkot Surakarta yang mengenakan busana kejawen.

''Hanya bangsa besar yang mampu menghargai budaya bangsanya sendiri. Sekaligus saya ucapkan selamat kepada Pak Slamet Suryanto yang Rabu (9/10) lalu mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Suryo Adi Nagoro dari Keraton Surakarta,'' tuturnya.

Rekannya sesama anggota FPG, H Sali Basuki (FPG), juga menyatakan senada. ''Itu kejutan. Sekali-sekali Wali Kota menggunakan busana Jawa dalam momentum seperti ini, memang bagus,'' ujarnya.

Tapi kenapa Wali Kota menghadiri paripurna dengan pakaian Jawa? Teka-teki itu terjawab, begitu dia mendapat giliran maju ke podium untuk menyampaikan sambutan atas penetapan perubahan APBD 2002.

Seraya meminta maaf, dia mengatakan keterlambatannya karena usai menerima peserta rakernas PHRI di rumah dinasnya, Loji Gandrung.

''Maka saya juga mohon maaf karena masih menggunakan PSJL, Pakaian Sipil Jawa Landhung. Tapi saya tadi sudah izin ke Pak Bambang Mudiarto (Ketua DPRD) dan Pak Yusuf Hidayat (Wakil Ketua DPRD), katanya boleh datang menggunakan beskap,'' tuturnya.(Setyo Wiyono-51)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA