
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Sala & sekitarnya |
Monggo MampirBebek Goreng H Slamet, Daging Tua tapi EmpukSEBAGIAN orang boleh jadi menganggap daging bebek afkiran pasti alot dan liat. Akan tetapi, anggapan itu segera sirna bila mencicipi bebek goreng di warung H Slamet di Kartasura. Meskipun dari bebek afkiran yang sudah tua, dagingnya tetap empuk. Bahkan dengan mudah dagingnya dipisahkan dari tulangnya. Rasanya memang oke. Penyajiannya dilengkapi irisan mentimun, daun kemangi, dan sambal korek. Sangat nikmat dimakan hangat. Apalagi harga relatif terjangkau. Untuk tepong Rp 5.500/potong, menthok Rp 5.000, dan hati Rp 2.700. Tak mengherankan bila pelanggan sangat banyak. Bahkan Presiden Megawati pun tercatat sebagai salah satu pelanggannya. Meski demikian, apa yang dicapai sekarang tidak serta merta diraih begitu saja. Sebaliknya, dilalui dengan kerja keras tak kenal lelah. Slamet mulai berjualan pada 1986. Saat itu dia membuka warung di tepi Jalan Ahmad Yani. Selain menu bebek goreng, warungnya juga menyajikan menu lain, seperti soto dan ayam goreng. Namun karena terkena pelebaran jalan, lalu dia memindahkan warungnya ke rumahnya yang 50 meter masuk gang. Di depan rumahnya di Kampung Sedahromo, Kelurahan Kartasura, dia mendirikan warung yang kini khusus menyediakan menu bebek goreng. Terbyata di tempat baru tidak kehilangan pelanggan. Bahkan perlahan, pelanggan mulai bertambah. Setiap hari tidak kurang 70 ekor bebek disembelih untuk memenuhi pelanggan. Jumlah tersebut meningkat menjadi lebih 100 ekor pada Minggu atau hari libur. Daftar Untuk memenuhi keinginan pelanggannya, pada 1993 dia membuka cabang di Tipes, Solo. Dia memercayakan pengelolaan cabang tersebut kepada lima anaknya yang belum menikah. Yang unik, di sana pun pembeli harus antre dengan mendaftar terlebih dahulu. ''Mirip dengan pasien yang akan berobat ke dokter. Jam buka mulai pukul 18.00, dan dalam tempo dua jam sudah habis,'' tutur H Slamet. Bila dagangan habis, dia tidak mau menambah lagi meskipun jam buka masih panjang. Alasannya, menyiapkan daging bebek tidak seperti daging ayam yang dapat diproses cepat dan bahan tersedia. Untuk menghasilkan daging empuk, bebek yang sudah dibersihkan dipotong- potong, direbus dalam panci lebih kurang empat jam dengan suhu tertentu. Tujuannya agar daging terasa empuk. Itulah alasannya, kenapa dia tidak mau menggunakan daging bebek muda karena dapat hancur. ''Setelah itu tinggal digoreng bila ada yang beli. Tentu saja kami beri bumbu yang tidak bisa kami beberkan. Maaf rahasia.'' Karena kesuksesan itulah, kini bebek gorengnya ditiru banyak pedagang. Akan tetapi, dia tak merasa risau lantaran yakin pelanggan tetap setia dengan menu yang dia sajikan. Yang aneh, H Slamet tidak tertarik bekerja sama dengan orang lain membuka cabang di kota lain. ''Banyak yang nawari kerja sama di Jakarta dan kota besar lain, malah ada yang nawari tempat gratis. Tapi saya tak mau, biar seperti ini saja. Sebab saya yakin, tak mungkin gratis dan tentu ada maksud tertentu. La iya to, jer basuki mawa beya.''(Djoko Murdowo-70j) |