
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Sala & sekitarnya |
Panen Ratusan Hektare Padi Terancam Gagal
SUKOHARJO- Dampak kekeringan semakin menjadi-jadi. Panen ratusan hektare areal tanaman padi di Kecamatan Weru terancam gagal akibat kekurangan air. Kecuali itu, pasokan air dari Waduk Gajah Mungkur dihentikan dengan alasan volume air di sana sudah habis. ''Hujan yang tak kunjung turun menyebabkan kekeringan di Weru terus bertambah. Bahkan warga terpaksa mengurangi konsumsi air,'' papar Wakil Ketua DPRD Sukoharjo Suryanto SH kepada wartawan, kemarin. Menurut wakil rakyat asal Weru itu, beberapa desa yang kesulitan mendapat air bersih meluas. Semula hanya dua desa, yaitu Desa Jatingarang dan Karangmojo. Namun, kini beberapa desa lain seperti Ngreco, Krajan, Alasombo dan Karangtengah bagian selatan terkena dampak kekeringan. ''Memang masih ada air, tetapi sangat sedikit,'' katanya. Bukan hanya kebutuhan air bersih yang kurang, petani pun mulai merasakan kesulitan mengairi sawahnya. Terlebih lagi di areal sawah yang tidak dilalui irigasi teknis. Sebelumnya, kebutuhan air dipasok dari Dam Colo Barat, tetapi belakangan ini volume air terus berkurang. Tidak heran jika petani merasa khawatir panen akan gagal. Kekhawatiran makin bertambah, karena berdasarkan surat edaran dari Proyek Bengawan Solo pasokan air untuk petani mulai hari ini (Rabu, 16/10) dihentikan. Alasannya, volume air di Waduk Gajah Mungkur sudah habis. Akibat dari kebijakan tersebut, diperkirakan 200 ha tanaman padi terancam puso. Pasalnya, para petani sudah telanjur menanam padi. Bahkan diperkirakan sebulan lagi sudah panen. ''Tanaman padi saat ini memasuki masa bunting dan sangat membutuhkan air. Kalau tidak ada air, kemungkinan besar tanaman padi akan puso,'' ujar seorang petani, Sumarno. Dikatakan, kemungkinan puso bisa dihindari bila aliran air dipertahankan minimal seminggu. Beberapa areal yang terancam gagal antara lain di Desa Grogol (100 ha), Tegalsari (75 ha), dan Karakan (30 ha). Petani Kecelik Salah satu aktivis Forum Peduli Petani Sukoharjo, Nurdin, mengatakan saat ini banyak petani di Sukoharjo yang kecelik (terkecoh), karena mereka telanjur menabur bibit padi. Namun, bibit padi itu dibiarkan begitu saja karena hujan tidak lekas turun. ''Kondisi petani saat ini benar-benar terjepit. Untuk penyemaian bibit padi saja mereka sudah rugi ratusan ribu rupiah,'' ungkapnya. Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo Ir Johan Hidayat M Sc membenarkan telah dilakukan penutupan air dari Waduk Gajah Mungkur. Dikatakan, sebelum penutupan sudah dilakukan sosialisasi kepada petani melalui Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) di Kabupaten Sukoharjo, Klaten, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri, serta Ngawi (Jatim). Pihaknya belum bisa memastikan kapan pintu air dibuka kembali. Disinggung tentang kekhawatiran petani tanaman padinya bakal puso, dia mengaku hal tersebut bukan kesalahannya. ''Rencana tersebut sudah dikemukakan kepada petani lewat P3A bulan Mei lalu. Seharusnya petani sudah mengantisipasi sejak dini.'' (G10-70k) |