logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Olahraga  
Line

Perlu Pemberdayaan Atlet lewat Kompetisi

JAKARTA-Memberdayakan atlet lewat berbagai kompetisi mulai dari daerah hingga nasional adalah suatu hal yang amat penting bagi terciptanya sebuah prestasi. Tugas seperti ini harus dilakukan PB PASI untuk menjawab mentoknya prestasi beberapa atletnya di berbagai arena internasional. Kabid Pembinaan dan Prestasi PB PASI Ria Lumintuarso mengemukakan hal tersebut di Jakarta, kemarin.

''Kejurnas yang sekarang sepertinya bukan menjadi puncak persaingan dan pencapaian prestasi atlet. Kompetisi di berbagai daerah juga tidak jalan bagus. Kejurnas yang dilaksanakan kurang gereget,'' ujarnya.

Menurut dia, PB PASI perlu memperbanyak dan memperbaiki sistem kompetisi yang telah berjalan. Kompetisi yang dinamis dan berjenjang akan merangsang atlet untuk memacu prestasinya.

''Banyak kompetisi akan makin bagus. Kejurnas mestinya jadi puncak persaingan dan pencapaian prestasi. Pembinaan juga harus dilakukan berkesinambungan. Mencetak prestasi butuh waktu dan tidak instan,'' tutur Ria Lumintuarso.

PB PASI pun direncanakan hari ini akan mulai menggelar Kejurnas Yunior dan Grand Prix Atletik 2002. Acara ini akan diikuti oleh 389 atlet dari 27 pengda PASI.

''Kejurnas dan Grand Prix merupakan komitmen PB PASI. Kami ingin menjaring atlet muda untuk regenerasi. Atlet terpilih akan dibina dalam pelatnas jangka panjang di Jakarta. Kejurnas mempertandingkan 22 nomor putra dan 21 nomor putri,'' jelas Ketua Panpel Sumartoyo Martodiharjo, kemarin.

Gagal

Rapat Anggota Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) di Jakarta, kemarin, dalam satu butir penilaiannya menyebutkan dunia atletik Indonesia telah gagal menunjukkan prestasi di Asian Games Busan, yang berakhir Senin (14/10).

Dalam telaah tentang kondisi atletik Indonesia, peserta rapat mengakui target di Asian Games tidak tercapai, menyusul kegagalan serupa pada SEA Games Kuala Lumpur 2001.

Anggota Komisi Pendataan PB PASI Umaryono mengakui, pembinaan atletik Indonesia kini makin jauh tertinggal dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. "Bahkan, kini Vietnam juga sudah mulai lebih unggul dibandingkan dengan kita."

Pada Asian Games Busan, I Gede Karang Asem hanya menempati posisi 11 dari 15 peserta maraton, demikian pula Yurita Ariani dan Ni Putu Desy gagal berbuat banyak.

Saat menyikapi kondisi itu, tutur Umaryono, jajaran keluarga besar atletik nasional menyadari tidak ada jalan lain kecuali kerja keras, khususnya pengda-pengda diminta proaktif dalam pencarian dan pengembangan bibit-bibit berbakat.

Dia mencatat beberapa poin penting untuk pembinaan atletik di masa datang. "Mengaktifkan kembali kejuaraan daerah serta pelatnas dari sentralisasi ke desentralisasi," katanya.

Saat ditanya daerah mana yang siap sarana dan prasarana pelatnas desentralisasi, dia menjawab singkat, "Sumatera Selatan." Namun, dia mengungkapkan beberapa daerah juga siap melakukan hal itu seperti Sidoarjo, Jawa Timur.(D3,ant-22t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA