
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Berita Utama |
Ba'asyir Ditangkap, Solichin Ancam "Bom Syahid"SOLO-Tuduhan bertubi-tubi yang dialamatkan kepada tokoh pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Abu Bakar Ba'asyir, ternyata justru makin mengukuhkan tekad para pengikutnya, untuk selalu melindungi pimpinannya itu. Bahkan, mereka sudah menyiapkan rencana akhir, melakukan aksi "bom syahid". ''Bila Ustaz Ba'asyir ditangkap tanpa bukti dan alasan yang jelas, kami berjanji akan melakukan bom syahid. Kami sudah bertekad, itulah cara terakhir kami membela Islam dan kebenaran,'' kata Solichin, salah satu santri senior dan pembantu terdekat Ba'asyir, kemarin. Berbicara kepada para wartawan di kompleks Pondok Al-Mukmin, lelaki paroh baya yang selama ini selalu diajak ke mana pun Ba'asyir pergi itu mengatakan, banyak santri dan pengikut setia yang memiliki pendirian demikian. ''Itu merupakan bakti kami terhadap tegaknya agama. Kami merasakan yang dizalimi bukan sekadar Ustaz, tetapi Islam,'' ujar dia. Mereka beranggapan, yang selama ini dilakukan Abu Bakar Ba'asyir adalah representasi dari sikap keislamannya yang tegas. Dan itu tidak disenangi oleh berbagai kalangan, terutama Amerika Serikat dan antek-anteknya. Karena itulah, segala cara dilakukan untuk menangkap dia. ''Karena itu, kalau sampai akhirnya Ustaz dizalimi, ditangkap tanpa dasar dan bukti kesalahan, kami akan membela sampai titik akhir kemampuan kami. Bahkan, aksi bom syahid pun akan kami lakukan jika perlu,'' tutur Solichin. Dari mana mereka mendapatkan bom? Dia mengakui banyak cara untuk mendapatkannya. Itu dianggap hanya sekadar persoalan teknis. Apalagi bagi anggota jamaah yang pernah dikirim ke Ambon dan Poso untuk membantu menegakkan jihad bagi kaum muslimin yang dianiaya di wilayah konflik tersebut. ''Bagi yang sudah pernah masuk Ambon, merakit bom adalah pekerjaan mudah. Bahannya bisa kita dapatkan dari berbagai tempat. Tapi kami hanya akan melakukan jika pimpinan kami dizalimi. Entah nanti akan ditabrakkan kepada orang atau apa, itu urusan nanti,'' papar dia penuh semangat. Berapa jumlah santri Ba'asyir yang siap melakukan bom bunuh diri? Solichin tidak mau menjelaskan lebih lanjut. ''Pokoknya banyak, tak hanya satu dua orang yang memiliki kesamaan sikap seperti ini.'' Tak Tanggapi Bagaimana tanggapan Ba'asyir mengenai rencana bom bunuh diri yang akan dilakukan pendukungnya bila dia benar-benar ditangkap? ''Saya kok ndak pernah dengar seperti itu, ya. Paling-paling hanya ucapan anak-anak, dan sifatnya hanya emosional,'' jelas dia saat dimintai konfirmasi Suara Merdeka, petang kemarin. Dia meyakini pendukungnya yang nota bene merupakan santrinya tidak mungkin melakukan tindakan tersebut. Hal ini lantaran pihak pondok tidak pernah mengajarkan teori apa pun tentang merakit bom. ''Saya ndak percaya mereka mampu melakukannya. Itu hanya ucapan emosional belaka. Biasa anak-anak,'' urai pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki itu seraya tertawa. Meski berbagai komentar miring sehubungan dengan berbagai aksi peledakan bom sudah mulai muncul dan diarahkan atau dikait-kaitkan dengan keberadaan kelompok yang dia pimpin, Ba'asyir tidak menampakkan perubahan. ''Sama seperti komentar saya dulu, buktikan dulu jika menuduh. Tidak usah banyak bicara. Saya sudah bosan menanggapi,'' ujarnya, pendek. Pria kelahiran Jombang yang selalu mengenakan jubah putih berkibar ini tetap tenang, seperti tidak ada masalah apa pun. Sehari kemarin dia menjalankan aktivitasnya yang makin sibuk, mulai dari mengajar para santri bakda subuh hingga waktu dhuha, disambung menerima tamu, termasuk beberapa wartawan asing yang antre ingin berwawancara dengannya. Semuanya dilayani dengan ramah bergantian. Siang harinya, didampingi beberapa santrinya, dia pergi ke Yogyakarta, menghadiri undangan untuk ceramah di sebuah seminar tentang globalisme, fundamentalisme, dan terorisme, yang diselenggarakan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Yogyakarta pimpinan Dr Rizal Panggabean. Solo Peduli Sementara itu, Masyarakat Solo Peduli Perdamaian (MSPP) yang merupakan kumpulan warga dari berbagai elemen mengadakan pertemuan di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Windan, Sukoharjo, Senin malam. Mereka menyerukan seluruh warga Solo untuk mengukuhkan persatuan dan menciptakan rasa aman.(an,G10,ae-t) |