
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Berita Utama |
Polisi Australia Tambah 40 PersonelDENPASAR - Pemerintah Australia all out dalam membantu Pemerintah Indonesia dalam mengusut pelaku peledakan Sari Club yang mengakibatkan setidaknya 181 jiwa melayang sia-sia. Setelah Senin (14/10) 17 personel AFP (Australian Federal Police), tiba hari Selasa (15/10) 40 personel AFP juga mendarat di Bandara Ngurah Rai Bali. Tujuannya, mereka mem-back-up tim yang dibentuk Mabes Polri untuk mengusut dan menangkap pelaku pengeboman di Sari Club Jalan Legian Kuta Bali. "Sore ini (kemarin, Red), 40 personel AFP datang ke sini. Mereka membantu tugas polisi Indonesia mengungkap pelaku teror yang tak beradab di Bali. Sebelumnya telah datang 17 personel AFP," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Alexander Downer kepada wartawan di Denpasar, Selasa (15/10). Selain petugas FBI Amerika Serikat dan AFP, Menlu Australia ini juga menambahkan, intelijen negaranya bekerja sama dengan intelijen Indonesia (BIN), intelijen dari Jerman, Jepang, dan Inggris bekerja bahu-membahu untuk membantu polisi Indonesia mengungkap pelaku Malam Minggu Kelabu di Bali tersebut. Kini, katanya, mereka sedang berkoordinasi dan segera bekerja di lapangan. "Sebab, ini tragedi kemanusiaan terbesar setelah WTC pada September 2001," tambahnya. Menlu Australia yang ketika ramai pergolakan Timtim dikenal banyak ngomong yang memojokkan Indonesia ini menegaskan, terlibatnya intelijen banyak negara untuk membantu Indonesia mengungkap tragedi Malam Minggu Kelabu di Bali, karena korban tragedi tersebut bukan hanya rakyat dan pemerintah serta Australia, tapi juga masyarakat internasional. Dengan demikian, partisipasi masyarakat internasional, katanya, sangat wajar dan rasional. "Kita cuma membantu pemerintah Anda (Indonesia) untuk mengatasi ini. Selain itu, tragedi ini menimbulkan banyak korban di antara warga kami sendiri," jelasnya. Warga negeri yang dipimpin PM John Howard yang tewas akibat peledakan bom di Bali memang yang terbesar dibandingkan dengan warga negara lainnya. Karena itu, selain memberikan bantuan intelijen, negerinya juga memberikan bantuan uang sebesar dolar Australia 300.000. Bantuan itu diwujudkan dalam bentuk peralatan kesehatan, obat-obatan, dan cold storage (peti kemas ber-AC yang dipergunakan untuk menyimpan mayat yang belum teridentifikasi). Menlu Australia ini saat berada di Bali sempat mengunjungi lokasi ledakan di depan Sari Club Legian Kuta. Saat berada di pusat ledakan, dia sempat melakukan doa bersama dengan pimpinan agama dan ormas lainnya di Bali. Yang ikut doa bersama di antaranya tokoh NU, Muhammadiyah, Buddha, Hindu, dan Kristen. Dibantah Sementara itu, mengenai disebutnya 10 warga Pakistan terlibat dalam kasus peledakan di Legian dan Renon dibantah keras oleh Kadispen Polda Bali AKBP Y Suyatmo. ''Mereka memang dipanggil ke Polda dan sangat koperatif karena mereka mau datang ke Polda Bali,'' katanya. Keterangan yang diperoleh dari mereka, satu bulan lalu memang melakukan kegiatan berupa ceramah berkaitan dengan masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan di daerah Nusa Dua. Mereka pun sudah diminta sidik jari dan identitas lainnya. "Mereka tidak berbeda dari orang asing lainnya, yang datang ke Bali harus diketahui secara jelas identitasnya. Ke-10 warga Pakistan datang ke Bali dengan visa wisata," kata Y Suyatmo kemarin pagi di Polda Bali. Untuk sementara ini mereka belum diketahui keberadaannya hingga sekarang, namun diyakini Kadispen, bila sewaktu-waktu dibutuhkan mereka siap datang. Kalaupun tidak bersedia pihak kepolisian yang akan memanggilnya. Dalam kesempatan itu Kadispen meminta dengan sangat agar jangan mengait-kaitkan mereka (warga Pakistan-Red) dengan kasus peledakan itu. Apalagi kini tim penyidik sedang melakukan tugasnya ke berbagai lokasi, sementara tim forensik juga sedang menyisir tempat-tempat untuk mencari barang bukti terutama yang bisa dikumpulkan di lapangan. Kalaupun ada orang yang dimintai keterangannya yang mungkin tahu dengan kasus peledakan, mereka baru sebatas saksi yang mungkin mengetahui kejadiannya. Mereka terdiri atas warga setempat dan orang asing. Sedangkan Kapolda menegaskan, sampai sekarang belum ada petunjuk yang mengindikasikan keterlibatan jaringan Al Qaidah dalam tragedi peledakan bom di Bali tersebut. "Tapi kasus tersebut bukan tak mungkin melibatkan jaringan internasional," katanya. Orang pertama di Polda Bali itu menambahkan, pihaknya tak mau berandai-andai dalam memberikan komentar terkait motif dan pelaku peledakan bom di Bali tersebut. Sebab, semuanya harus disandarkan pada bukti hukum yang bersifat substantif. Waspadai Tampaknya pendekatan negara-negara Barat yang menuding keterlibatan jaringan Al Qaedah, yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok Islam garis keras (fundamentalis) di Indonesia atas tragedi Malam Minggu Kelabu di Bali, sangat kuat. Saat bertemu dengan Ketua MPR RI Amien Rais di Hotel Radisson Bali, Menlu Downer meminta Pemerintah RI melalui Amien Rais untuk mewaspadai dan mengawasi kegiatan kelompok Islam fundamentalis di Indonesia. Dan permintaan itu diiyakan Amien Rais. Namun orang pertama di MPR RI itu mengingatkan, semua pihak dan kelompok di Indonesia bisa saja dimintai keterangan terkait dengan tragedi di Bali tersebut. Tapi, tentu proses hukum itu mengacu pada prinsip praduga tak bersalah. Menurut Amien, Abu bakar Basyir juga bisa diminta keterangan jika dipandang perlu oleh penyidik dari kepolisian. "Pada pertemuan saya dengan Downer, tak ada permintaan yang sifatnya tekanan kepada pemerintah kita. Beliau menyatakan, tragedi Bali menjadikan Indonesia dan Australia sama-sama sebagai korban," katanya. Amien menyatakan, kalau melihat potret Islam di Indonesia jangan mengacu pada suara dan ideologi 4-7 orang yang mengatasnamakan Islam dan warna ideologinya selama ini dicap fundamentalis. "Mainstream Islam di Indonesia adalah Muhammadiyah dan NU, karena keduanya merupakan ormas Islam terbesar di negeri kita," tuturnya. "Andaikata ada suara ekstrem yang diwakili 100 orang Islam itu jangan dikatakan mewakili seluruh umat Islam Indonesia yang jumlahnya 182 juta. Jika itu terjadi, kita akan terjerembab pada generalisasi yang menyesatkan," tandasnya. Ditanya kemungkinan terlibatnya jaringan Al Qaedah dalam tragedi Bali, Ketua Umum PAN ini menegaskan, "Kita harus kerja keras untuk membuktikan hal itu, perlu dimonitor apa benar beberapa kelompok di negara kita itu terkait dengan Al Qaedah." 10 Warga Pakistan Berdasarkan informasi yang dihimpun Suara Merdeka di lapangan Selasa (15/10), selain meminta keterangan beberapa saksi, tim penyidik polisi yang dibantu FBI dan AFP juga mengarahkan perhatian dan penyelidikan mereka kepada 10 warga asal Pakistan. Kesepuluh warga negeri yang dipimpin PM Pervez Musharraf ini sekitar sebulan lalu datang ke Bali. Tujuannya, untuk berwisata. "Tapi mereka juga melakukan kegiatan ceramah bidang sosial," kata Kadispen Polda Bali AKBP Y Suyatmo kepada wartawan di kantornya. Apakah mereka juga berceramah agama? "Pokoknya berceramah dan beraktivitas sebagaimana lazimnya turis yang datang ke Bali," tukasnya. Aktivitas kesepuluh warga Pakistan itu dilakukan jauh hari sebelum tragedi Malam Minggu Kelabu di Legian Kuta Bali meledak. Karena mereka beraktivitas tak sebagaimana lazimnya turis mancanegara yang datang ke Pulau Dewata tersebut, mereka dimintai keterangan oleh petugas Polda. "Jadi, kita sekarang punya data tentang kesepuluh warga Pakistan tersebut," jelasnya. Diambil Keluarga Delapan jenazah warga Indonesia korban tewas tragedi ledakan bom di depan Sari Club Bali Jalan Legian Kuta, kemarin (15/10) telah diambil keluarganya. Mereka telah diidentifikasi dan dimakamkan di daerah masing-masing. Mereka antara lain Kadek Bima Prima, Achmad Suharto, Fathurrahman, Aris Munandar, Mugianto, Agus Suheri, Kadek Sukarna, dan Widayati. Berdasarkan informasi yang diperoleh Suara Merdeka di kamar jenazah RSUP Shangla Denpasar Bali, kedelapan korban tewas itu sebagian besar warga Bali. Tapi, di antara mereka ada juga warga luar Bali, seperti Widayati. Hasil identifikasi yang dilakukan Tim Forensik Gabungan di RSUP Shangla sampai kemarin, sebanyak 39 korban tewas. Dari 39 korban tewas yang teridentifikasi itu, 8 WNI dan 31 korban lainnya WNA. Korban terbanyak dari Australia disusul Inggris, Singapura, Jerman, New Zealand, Belanda, Ekuador, dan Prancis. Sampai kemarin, berdasar data yang dihimpun di Posko I RSUP Shangla, belum ada laporan mengenai tewasnya 3 warga Amerika Serikat dan satu warga lainnya dari negeri Paman Sam itu dikabarkan hilang. (ro,jo-16t) |