
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Berita Utama |
''Saya Lihat Mayat Bergelimpangan...''MUJUR benar nasib yang dialami Made Ferry Kurniawan, disk jockey Paddy's, sebuah kelab malam yang berada di depan Sari Club, yang hancur total akibat ledakan bom dahsyat pada ''Malam Minggu Kelabu'' lalu. Bagaimana tidak, saat kejadian sang DJ Paddy's yang telah bekerja selama 2,5 tahun itu sedang on, memutarkan beberapa lagu untuk pengunjung kelab malamnya. Bagi lelaki berumur 31 tahun yang masih betah membujang dan bertempat tinggal di Jalan Cokroaminoto Gang Swari 4C, Denpasar itu malam Minggu 12 Oktober mungkin merupakan hari paling "istimewa" dalam hidupnya. Tuhan Yang Maha Kuasa tetap menakdirkan dia tetap bernyawa dan menghirup udara segar pascatragedi yang mengakibatkan setidaknya 181 orang tewas dan ratusan korban lainnya mengalami luka-luka berat, bahkan mungkin cacat. Ferry adalah satu di antara banyak orang yang selamat dari peristiwa yang sangat mengerikan tersebut. Dengan raut muka tegang Ferry mengungkapkan, saat terjadi ledakan dia baru memutar tiga lagu permintaan dari pengunjung Diskotek Paddy's. Tak disangka, terdengar suara ledakan sangat keras. Bunyi ledakan - yang kemudian ternyata bom itu - mengalahkan ingar-bingar musik malam yang saat itu disetel dengan volume cukup tinggi. "Pada ledakan pertama saya masih belum sadar apa yang terjadi, tetapi pada tiga detik kemudian terdengar ledakan kedua yang bunyinya sama kerasnya. Setelah itu saya langsung lari ke belakang untuk menyelamatkan diri. Sebab, di belakang tempat kelab malam kami kerja, ada pintu khusus untuk karyawan. Saat itu lampu kelab langsung padam," paparnya dengan nada terbata-bata dan kepala diperban. Kini, pemuda lajang itu harus rela di kepalanya ada tiga bagian yang dijahit akibat terluka. Lokasi kelab malam Paddy's sangat dekat dengan Sari Club, terletak di depannya. Dia menceritakan, begitu terjadi ledakan sangat dahsyat, barang-barang yang ada di kelab malam tersebut dan juga beberapa pengunjung terlempar beberapa sentimeter ke udara. "Saya tak tahu harus berbuat apa. Jujur saja, saya shock. Rasanya otak ini tak bisa bekerja normal," katanya. Bukan hal mudah bagi Ferry saat itu untuk mencapai pintu darurat. Sekitar 75 karyawan yang malam itu masuk kerja juga ingin keluar untuk menyelamatkan diri melalui pintu yang sama. Selain itu, turis yang kebetulan ingin menghabiskan malam minggunya di sini juga ikut berebut keluar. Karena itu, dia sempat beberapa kali jatuh akibat terantuk benda keras atau kaki orang lain. "Kelab tempat kami bekerja kan dua lantai. Saat kejadian saya berada di lantai satu. Ruangan belum penuh, tetapi pengunjung cukup banyak. Para pengunjung itu masih duduk di kursi masing-masing dan belum ada yang melantai," ungkapnya. Mungkin karena masih lajang dan kondisinya masih jos, dia berhasil menyelamatkan diri. Selain itu, struktur konstruksi kelab malam tempatnya bekerja sebagian besar terdiri atas bangunan permanen dari beton. Dengan demikian, tak mudah disambar api dari pusat ledakan ketika bom berkekuatan dahsyat itu. Hal itu berbeda dari kondisi konstruksi Sari Club, yang sebagian besar komponen bangunannya memakai kayu dan atapnya berjerami. Begitu menyambar, si jago merah itu langsung melumat apa saja yang ada di depannya. Dijahit Berhasil lolos dari sergapan maut di Malam Minggu Kelabu, Ferry dengan ditemani dua orang teman kerjanya, dengan naik sepeda motor menuju klinik Kimia Farma di Kartika Plasa. Di klinik itu DJ Diskotek Paddy's tersebut dijahit kepalanya. Dia mengaku sangat bersyukur, karena masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar. Mungkin terdorong emosi jiwa mudanya yang masih menggelora, setelah diobati di Klinik Kimia Farma, Ferry bukannya menjauhi lokasi kejadian. Dia kembali ke belakang bangunan tempatnya bekerja yang telah luluh lantak dihantam bom, untuk melihat. Tak ada perasaan ketakutan ketika itu. "Saya melihat keadaan setelah terjadi ledakan dari belakang bangunan kelab malam, dari Hotel Dewi Sri," ujarnya. Dia melihat langsung bagaimana bangunan kelab malamnya dan bangunan lainnya di sekitarnya hancur total. Selain itu, banyak mayat bergelimpangan di kelab malamnya dan tempat lainnya. Namun, dia tidak bisa memberikan bantuan apa-apa karena kondisi fisiknya sangat lemah dan mental ya down. "Saya saat itu melihat mayat bergelimpangan tanpa tahu harus berbuat apa. Saya bingung sekali," ceritanya. DJ Paddy's ini sampai sekarang menyimpan beban sangat berat akibat tragedi malam Minggu itu. Dia trauma dan kini mudah terkejut jika ada bunyi agak keras dari luar. Dulu dia pemuda periang dan gampang bergaul. "Sejak peristiwa itu, Mas Ferry jadi mudah terkejut dan sangat sensitif pada sesuatu yang sifatnya mendadak dan bunyinya keras," tutur Ni Luh Dian, rekan dekatnya. (ro-16k) |