
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Berita Utama |
Waffiq Juara MTQ Internasional
SEMARANG-Jateng mengukir prestasi baru dalam dunia Alquran. Waffiq Azizah, murid Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Magelang, keluar sebagai qariah terbaik I Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional golongan anak-anak di Kuala Lumpur, Malaysia. Juara II direbut tuan rumah Malaysia dan juara III Singapura. Qari terbaik anak-anak juga direbut Indonesia atas nama Qadarasmadi Bin Rosidin Bay dari Nanggroe Aceh Darussalam. Juara II dan III Singapura dan Malaysia. Sedangkan Brunei Darussalam tak mendapatkan juara baik qari maupun qariah. Atas prestasinya, Waffiq mendapatkan hadiah dari Pusat Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) Kuala Lumpur uang 2.000 ringgit atau senilai Rp 5 juta dan piagam penghargaan. Selama di negara jiran, dia mengaku hanya didampingi Sholehuddin dan Ny Dadah Holidah dari Departemen Agama RI. "Sejak berangkat saya sudah mantap harus mendapatkan yang terbaik," tuturnya ketika tiba di Stasiun Tawang Semarang, kemarin siang. Dia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada pelatihnya, Siti Zaenatun, yang selama ini membimbing dan mengarahkannya sebelum berangkat ke Kuala Lumpur. "Bahkan, saya sempat bermalam beberapa hari di rumah Mbak Zaenatun," tuturnya. Ketika mendarat di Jakarta, Waffiq sempat diterima Menag Prof Dr Said Agil Husin Al-Munawar di ruang kerjanya. Ketika ditanya apakah Menag menjanjikan bonus lain karena prestasinya, gadis imut itu hanya menggelengkan kepala. "Insya Allah saya akan menunaikan umrah, hadiah sebagai qariah terbaik golongan anak-anak dalam Seleksi Tilawatil Quran (STQ) di Mataram, NTB," katanya. Tanpa Sambutan Sayangnya, kedatangan Sang Juara sama sekali tak mendapat perhatian atau sambutan dari pemerintah dan masyarakat Jateng. Bahkan, dari Jakarta dia hanya diantar Kepala Seksi MTQ Kanwil Depag Jateng Drs H Moh Ahyani sampai di Stasiun Gambir. Ahyani berada di Jakarta secara kebetulan sedang mengikuti penataran. Waffiq yang menggunakan kereta api Argo Muria tiba di Stasiun Tawang pukul 12.30. Dia hanya disambut pelatihnya, Siti Zaenatun, dan staf Penais Kanwil Depag Ulinnuha SAg, dan H Agus Fathuddin Yusuf, Ketua Pusdok Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Jateng. Untuk sampai di Stasiun Tawang itu pun mereka harus nyarter taksi karena menurut mereka di kantornya tidak tersedia mobil dinas. Drs H Noor Achmad MA dari LPTQ Jateng sangat menyesalkan tidak adanya penyambutan tersebut. "Mestinya Waffiq yang telah membawa nama harum Jawa Tengah dan Indonesia di MTQ internasional layak mendapat sambutan dan penghargaan dari pemerintah dan masyarakat Jateng," katanya. Apalagi tak ada satu pun pejabat baik dari Pemda maupun Depag yang ikut menjemputnya di Stasiun Tawang. "Coba bandingkan dengan atlet olahraga yang pulang dari pertandingan. Mereka disambut seperti pahlawan. Dielu-elukan, disediakan mobil hias, diarak keliling kota, dan bonusnya mulai dari rumah, mobil, deposito mengalir dengan sendirinya. Ini Waffiq juara MTQ internasional mana sambuatan masyarakat? Sungguh ini menunjukkan belum adanya keseimbangan fisik dan spritiual atau lebih jauh keseimbangan duniawi dan ukhrowi," tegasnya. Tidak adanya sambutan tersebut Waffiq menganggapnya tidak masalah. "Disambut atau tidak bagi saya tidak masalah," katanya. Beberapa saat sebelum meninggalkan Stasiun Tawang, ayah Waffiq, Buhtari, dan Kepala Seksi Penerangan Agama Islam (Penais) Kandepag Magelang Dra Maimunatun mencegatnya di tempat parkir. Mereka memakai mobil dinas dari Kandepag Magelang. (B13-60t) | |||||