logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Berita Utama  
Line

Cara FBI Mengintai Teroris (1)

Telepon Warga Disadap 30 Hari

Apa yang dilakukan FBI setelah tragedi 11 September 2001, barangkali bisa menjadi pembanding bagi intelijen Indonesia. Berikut laporan yang diambilkan dari berbagai sumber.

KURANG lebih setahun sebelum peristiwa 11 September 2001, Biro Penyelidik Rahasia AS (FBI) mulai menggunakan instalasi piranti lunak Carnivore pada setiap server ISP (internet service provider). Upaya ini akhirnya dibenarkan lewat ketetapan undang-undang.

Tindakan vital itu guna memungkinkan FBI dapat memonitor lalu lintas data elektronik lewat jaringan ISP demi alasan kepentingan sistem keamanan dalam negeri AS.

Dengan instalasi Carnivore - yang namanya belakangan diganti dengan DCS1000 untuk menghilangkan arti ''pemangsa ganas'' yang kesannya seram-praktis FBI mendapat akses yang cukup leluasa dalam mengawasi setiap lalu lintas e-mail, instant messages, dan kegiatan selancar atau web surfing.

Carnivore pada dasarnya menjalankan sistem sniffer technology dengan sekumpulan built-in filter pelacak yang mampu menangkap jalannya lalu lintas data lewat jaringan milik ISP. Pemasangan instalasinya merupakan implementasi ketentuan Communications Assistance for Law Enforcement Act (CALEA) 1994.

Berikut langkah-langkah yang ditempuh FBI untuk mengintai dan melumpuhkan teroris setelah tragedi 11 September 2001:

''Memagari'' Riset

Dengan ketentuan hukum USA Patriot Act yang disahkan Oktober 2001, masyarakat AS kini malahan menghadapi beberapa pembatasan demi pertimbangan kepentingan sistem keamanan dalam negeri. Salah satu di antaranya ketentuan yang mengatur kebijakan antiteror, yang membatasi sifat keterbukaan beberapa jenis riset strategis di universitas-universitas di AS.

Jika riset-riset itu dibiarkan bebas terbuka, bisa jadi nanti berpotensi mengancam ketahanan nasional. Misalnya pemberlakuan larangan bagi mahasiswa universitas di AS yang berkewarganegaraan Kuba, Irak, Iran, Libia, Suriah, Sudan, serta Korea Utara untuk dapat terlibat dalam riset strategis di beberapa jenis disiplin ilmu biologi.

Akibat langkah ''pemagaran'' ini, tidak kurang tokoh-tokoh riset ilmiah paling terkemuka dari Massachussetts Institute of Technology (MIT) telah menyuarakan kritik keras.

MIT menyuarakan dalih bahwa pembatasan akses terhadap riset serupa itu dapat bertentangan dari kebijakan nilai-nilai kebebasan ilmiah yang selama ini dianut institut bergengsi itu. Dalam menyikapinya, kalangan ilmuwan MIT menegaskan perlunya keseimbangan antara kebebasan akademik dan tuntutan keamanan nasional.

Guna menghasilkan suatu sikap akhir berupa rekomendasi yang mantap mengenai pantas atau tidak dikenakan pembatasan terhadap kebebasan akademik di bidang riset ini, maka segenap pengajar sivitas akademika MIT berencana berhimpun bersama serta melakukan voting pada akhir musim gugur tahun ini.

Penyadapan Telepon

Aturan hukum lain yang sebenarnya layak menimbulkan keberatan, yakni proses yang lebih memudahkan aparat keamanan untuk melakukan tindakan penyadapan atas telepon (wire-tap). Khususnya terhadap anggota masyarakat yang dicurigai sedang aktif dalam aksi yang mengancam sistem keamanan nasional di AS dan bertujuan melakukan aksi teror.

Namun pada situasi traumatik pascatragedi 11 September, kebanyakan masyarakat di AS agaknya lebih dapat menerima untuk hidup di tengah pembatasan-pembatasan yang menomorsatukan tindakan beralasan keamanan. Terbukti, penerapan ketentuan yang sejatinya cukup mengganggu wilayah privasi publik seperti itu, kini tidaklah menimbulkan reaksi seheboh kasus Carnivore.

Hanya sedikit tokoh media komunikasi atau aktivis hak-hak kemasyarakatan yang menyatakan prihatin atas ketentuan ini. Padahal, dengan ketentuan CALEA 1994, pihak FBI dengan surat persetujuan pihak otoritas kehakiman (Federal Jury) sangat dipermudah dalam menyadap koneksi telepon siapa pun yang dicurigai sedang melakukan tindakan yang mengancam keamanan masyarakat.

Kewenangan yang membolehkan bagi FBI untuk melakukan aksi penyadapan selama maksimal 30 hari itu pun masih dapat diperpanjang menurut jangka waktu yang sama pula bila dipandang perlu.

Sampai batas 30 Juni lalu, FBI telah mewajibkan setiap penyedia jaringan telekomunikasi telepon untuk meng-up-grade sistem sentral telekomunikasi yang memungkinkan dilakukan penyadapan. Ini berlaku baik yang berkategori terbatas (hanya untuk memberikan informasi call identification) maupun kategori penyadapan penuh (full wire-tap) yang bisa memberikan info seluruh muatan data isi percakapan telepon. (24t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA