
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Berita Utama |
Kapolri: Ditemukan Unsur Bom C-4
JAKARTA-Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar mengatakan, bom yang meledak mengandung unsur-unsur C-4. ''Hasil penyelidikan sementara dari tempat kejadian ditemukan unsur-unsur bahan peledak. Bahan peledak itu diindikasikan mengandung unsur C-4 high explosive,'' ungkapnya sebelum menghadiri acara silaturahmi di Wisma Bhayangkari, Jakarta Selatan, kemarin. Menurutnya, temuan di tempat kejadian menunjukkan bom itu berbentuk seperti plastik. Namun Da'i tidak bersedia memerincinya. ''Sampai saat ini masih diselidiki apakah ada unsur lain,'' katanya. Mengingat besarnya ledakan dan sisa-sisa ledakan, termasuk lubang besar berukuran 3 X 4 meter dengan kedalaman lebih dari 1 meter, diduga bom itu berasal dari jenis C-4 (C-Four). Bom jenis C-4 ini, menurut beberapa ahli bom dari kalangan TNI, memiliki ledakan yang dahsyat. Baja setebal 5 cm pun akan jebol ditembus ledakan bom C-4. Bom ini juga tidak mudah dideteksi. Aromanya bisa berbau cokelat. Bahkan, rasanya pun bisa dibuat rasa strawberi atau rasa cokelat. Malah bisa juga beraroma durian. Bom C-4 tidak diproduksi di Indonesia. Bahkan, Jenderal Rusdihardjo ketika masih menjabat Kapolri ketika Kedubes Filipina dibom pada 2000, menyatakan bahwa bom C-4 yang juga digunakan untuk mengebom Kedubes Filipina di Jakarta kemungkinan didatangkan dari AS. Jenis seperti ini, selain bisa dipakai untuk meledakkan batu, juga dipastikan tidak berasal dan tidak diproduksi di Indonesia. ''Itu pasti dari luar, kemungkinan Amerika,'' ungkap Rusdihardjo pada waktu itu. KTP Berinisial MF Sementara itu, mengenai penemuan KTP (kartu tanda penduduk) di lokasi ledakan bom di Jalan Legian, Kuta, Bali, kemarin mulai terkuak. Nama yang tertulis di KTP tersebut berinisial MF. ''Saya kasih tahu inisialnya saja, MF. Dia orang Indonesia dan keluarganya sudah dimintai keterangan,'' kata Da'i Bachtiar. Seperti diketahui, selembar KTP ditemukan tidak jauh dari mobil yang diduga menjadi tempat penyimpanan bom yang meledak. Meski bodi mobil hancur lantak, demikian juga barang-barang di sekitarnya, tapi uniknya selembar KTP masih utuh. Pada bagian lain Kapolri menyatakan, Indonesia juga mendapat bantuan dari Australia dan AS untuk mengidentifikasi jenazah. ''Rencananya juga akan datang bantuan dari Jepang berupa tes DNA untuk memeriksa jenazah yang tidak teridentifikasi,'' katanya. Mengenai saksi, Kapolri mengutarakan masih diperiksa untuk merekonstruksi kembali apakah para saksi tahu persis kejadiannya. ''Misalnya mereka melihat ada seseorang menaruh bungkusan plastik putih, tetapi ketika ditegur diam saja dan cepat-cepat pergi. Lalu kemudian meledak,'' katanya lagi. Amat Canggih Pengeboman pada klab malam Sari Club di pulau wisata Bali, dilakukan oleh sebuah kelompok teroris ''canggih'', mengingat besarnya jumlah bahan peledak berkekuatan tinggi yang digunakan dan koordinasi serangan tersebut, kata seorang pejabat intelijen AS, kemarin. Itulah sebabnya, badan-badan intelijen AS meyakini pengeboman Sabtu malam lalu itu kemungkinan aksi sebuah kelompok yang berkaitan dengan Al Qaedah, yang punya kemampuan untuk melakukan serangan dengan jenis ledakan seperti itu. ''Kami belum sampai pada kesimpulan akhir, tapi jelaslah itu pekerjaan organisasi teroris canggih, yang hanya ada sedikit (di muka bumi ini). Ada beberapa di wilayah tersebut (Asia Tenggara) yang punya kaitan dengan Al Qaedah, seperti Jamaah Islamiah (JI),'' kata pejabat intelijen AS itu, pada Reuters. ''Ada ledakan-ledakan hampir bersamaan yang dirancang untuk menimbulkan jumlah korban besar pada orang-orang yang tak berdosa,'' tambahnya. Al Qaedah disebut-sebut telah mengoordinasi serangan-serangan terhadap sasaran-sasaran Barat, seperti pengeboman pada Kedubes AS di Tanzania dan Kenya pada 1998, dan aksi kamikaze 11 September 2001 yang menggunakan empat pesawat bajakan sebagai senjata. Jaringan itu juga berkaitan dengan pengeboman kapal perang USS Cole pada tahun 2000, ketika sebuah kapal kecil yang membawa peledak menabrakkan diri ke kapal perusak AS tersebut di lepas pantai Yaman. Serangan itu membuat lubang besar di kedua sisi USS Cole. Sel Independen Badan-badan intelijen AS juga menganalisis, apakah pengeboman di Bali dalam beberapa hal berkaitan dengan baku tembak yang menewaskan Marinir AS di Kuwait dan ledakan pada kapal tanker Prancis di lepas pantai Yaman. Spekulasi yang berkembang adalah, semua itu bisa jadi merupakan pekerjaan sel-sel teroris independen yang merespons seruan para pemimpin Al Qaedah untuk meningkatkan aksi, kata para pejabat AS. Televisi Qatar, Al Jazeera, belum lama ini menyiarkan rekaman suara Usamah bin Ladin dan pembantunya utamanya, Ayman al-Zawahri, serta sebuah pernyataan dengan dibubuhi tanda tangan Usamah yang menurut stasiun TV tersebut dikirimkan melalui faksimil. Pesan itu menyerukan kaum muslim untuk melakukan perang terhadap AS dan Israel. Para pejabat intelijen AS mengatakan keaslian pernyataan Usamah yang dilaporkan terakhir itu, belum dapat dipastikan. Badan-badan intelijen AS segera memastikan bahwa rekaman suara itu mungkin asli. Satu rekaman suara Zawahri dibuat dalam beberapa bulan terakhir, tetapi kapan tepatnya waktu pembuatan untuk rekaman suara Usamah, tidak dapat dipastikan, kata mereka. Pesan-pesan Al Qaedah yang disiarkan melalui Al Jazeera dan media elektronik lain, yang diperoleh badan-badan intelijen AS, telah menunjukkan ''obrolan'' di kalangan orang-orang yang diduga teroris. Obrolan semacam itu dilakukan sebelum serangan-serangan terakhir, kata Senator Richard Shelby, seorang anggota Partai Republik dari Negara Bagian Alabama. ''Sering kali serangan teroris terjadi tak lama setelah ada banyak tanda-tanda,'' kata Shelby, wakil ketua Komisi Intelijen Senat AS. Itu terjadi sebelum pengeboman Kedubes AS di Afrika pada 1998, serangan pada USS Cole, dan serangan 11 September 2001 di AS, kata dia. ''Semuanya bukan peristiwa terpisah,'' katanya, tentang serangan bom di Bali, Kuwait, dan Yaman belum lama ini. ''Serangan-serangan tersebut dilakukan, direncanakan, dan merupakan bagian dari serangan-serangan teroris. Masih akan ada lagi serangan seperti itu,'' tambahnya pada Reuters. Tuding Al Qaedah Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil menyinyalir peledakan bom di Bali dilakukan oleh jaringan Al Qaedah di Indonesia. ''Selama ini masyarakat terbuai oleh nyanyian sekelompok orang yang anti-Amerika Serikat, sehingga setiap info dari AS selalu disebut sebagai fitnah atau rekayasa,'' kata Menhan kepada wartawan sebelum acara latihan Batalyon Kavaleri Kostrad, di Cipenda, Sukabumi, Selasa kemarin. Menurutnya, dari ledakan di Bali, terlihat perbuatan itu dilakukan oleh teroris yang profesional. Apa yang dikemukakannya itu didasarkan atas laporan intelijen Indonesia dan internasional. Dia menambahkan, sebelumnya sudah ada info bahwa jaringan Al Qaedah bekerja sama dengan jaringan lokal. Namun, mengenai kelompok lokal yang dimaksud, dia mengatakan, intelijen di Indonesia sedang mengusutnya. Pendapat Menhan itu ditanggapi Polri sebagai penjelasan yang didasarkan atas pemahaman logika saja. ''Pada intinya, kami tidak perlu menanggapi pernyataan itu,'' kata Kabahumas Polri Irjen Pol Saleh Saaf, Selasa kemarin. Menurutnya, ungkapan Menhan itu hanya dijadikan sebagai petunjuk, karena pemahaman logika harus didukung fakta yuridis. Di tempat berbeda, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menegaskan, pihaknya belum mengambil kesimpulan bahwa Al Qaedah berada di belakang peledakan bom di Bali. Meski demikian, dia menghargai penyataan Menhan tersebut. Dinilai Gegabah Sementara itu, Tim Pengacara Muslim (TPM) menilai Matori bertindak gegabah dengan menuding Al Qaedah dan teroris lokal sebagai pelaku. ''Itu pernyataan gegabah. Dalam keadaan sekarang, komentar yang mengambang dapat memancing masalah menjadi lebar. Tuduhan semacam itu, katanya, justru dapat menarik perhatian Al Qaedah yang semula tidak ikut campur. Selain itu, yang dia sebut sebagai teroris lokal itu siapa, apa ada?'' kata Koordinator TPM M Mahendradatta. Sementara itu, Wakil Presiden Hamzah Haz tidak mau berspekulasi tentang kemungkinan adanya keterlibatan jaringan teroris internasional, termasuk Al Qaedah, dalam ledakan bom di Legian, Kuta, Bali, Sabtu (12/10) lalu. ''Ada atau tidak jaringan teroris internasional itu baru dapat diketahui setelah penyelidikan kasus itu selesai,'' katanya ketika menerima Pengurus Pusat Pemuda (PPP) Katolik di Istana Wapres, Selasa kemarin. Hamzah, seperti dikutip Ketua PPP Katolik Nicolaus Uskono, mengemukakan, dari penyelidikan aparat, baru akan dapat dibuktikan ada atau tidak jaringan teroris di Indonesia. Kepada Wapres, PPP Katolik menyampaikan harapannya agar pejabat pemerintahan dapat melakukan koordinasi sebelum memberikan keterangan, sehingga informasi yang disampaikan tidak saling bertentangan. ''Kalau tidak sama, akan membingungkan masyarakat dan memberi peluang kepada orang lain untuk melakukan rekayasa-rekayasa demi kepentingan pribadi dan golongan,'' kata Uskono. Mereka juga mengharapkan pemerintah menyosialisasikan bahwa antara agama dan terorisme tidak dapat dikaitkan secara langsung maupun tidak langsung. Ketua MPR Amien Rais mengingatkan para menteri dalam kabinet hendaknya tidak saling lempar tanggung jawab atau saling melemparkan tuduhan yang belum jelas alasannya. Sebab, yang perlu dilakukan sekarang adalah membentuk tim internasional untuk menyelidiki peristiwa tersebut dengan Indonesia sebagai koordinatornya. ''Daripada saling lempar tanggung jawab, saling tuduh di antara menteri-menteri dalam kabinet sendiri, lebih bagus pimpinan nasional menetapkan tim internasional, dan Indonesia bisa sebagai koordinatornya,'' katanya di Gedung DPR, Selasa kemarin, usai berkunjung ke Bali. Dia mengemukakan hal itu ketika diminta tanggapannya atas pernyataan Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil yang menyebutkan adanya keterlibatan jaringan Al Qaeda. Dia mengatakan, pembentukan tim internasional itu perlu dan tidak bisa ditunda-tunda guna melacak sampai bisa menemukan pelaku pengeboman yang biadab itu. ''Apalagi masalah ini sifatnya bukan ke dalam negeri saja, melainkan juga ada korban yang terdiri atas bangsa-bangsa lain. Forum Diskusi Intelektual (FDI) Universitas Diponegoro menyatakan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya tragedi peledakan bom di kawasan Legian, Kuta Bali, Sabtu malam lalu. ''Tragedi peledakan bom yang menewaskan ratusan turis asing dan masyarakat Bali di Legian Bali, kita harapkan tidak akan terulang lagi,'' kata Rektor Prof Ir Eko Budihardjo MSc dalam diskusi terbatas yang diadakan FDI, Senin malam. Acara berlangsung dari pukul 19.00 hingga 22.00 dipandu mantan Rektor IKIP Semarang Prof Retmono, diikuti para cendekiawan dari Undip, tokoh lintas agama serta beberapa LSM di Semarang. Hadir antara lain Dr Agnes Widanti SHCN, Sri Rahayu Prihatati (Dekan Fakultas Sastra), Dr Ari Pradanawati, Prof Dr Nurdin Kistanto, Drs Darmanto Jatman, Pdt Sri Handoko, Romo Edy dan tokoh dari agama Budha serta tokoh masyarakat Cina. Menurut Prof Eko, tragedi Legian adalah peristiwa yang paling besar terjadi di Indonesia yang menimbulkan rasa ketakutan dan kecemasan mendalam. Tak dapat dipungkiri, musibah bisa terjadi di mana saja. Saat ini ribuan orang Bali berduka. Betapa dapat dibayangkan, ribuan orang Bali akan kehilangan mata pencaharian di dunia kepariwisataan yang selama puluhan tahun menjadi mata pencaharian utama mereka. Kalangan dunia usaha pariwisata, yang terdiri dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Pengusaha Perjalanan (Asita) dan Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (Akkindo) mengutuk pengeboman di Bali. (rtr,ben,sri,F1,bu, A20,nas,ant-30) | |||||