
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Semarang & sekitarnya |
Memburuknya Pelayanan PDAMFaktor Alam Jangan Dijadikan AlasanBALAI KOTA- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Semarang jangan menjadikan faktor alam sebagai alasan tak dapat memenuhi pelayanan. PDAM semestinya bisa mengatasi masalah itu secara teknis. Wakil Ketua Komisi B Ir H R Heru Widyatmoko MM mengibaratkan masalah itu dengan pembangunan gedung yang tak mudah roboh, meski berdiri di wilayah yang sering terlanda gempa. Upaya menyiasati faktor seperti itulah yang perlu dilakukan PDAM untuk mengatasi memburuknya pelayanan akhir-akhir ini. Dia mencontohkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pucang Gading bisa diatasi dengan penyambungan pipa penyedot. Mulut pipa harus berada di bawah permukaan air Kali Babon pada musim kemarau. Upaya itu secara teknis bisa dilakukan karena air Kali Babon masih setinggi perut orang dewasa. Hal itu tak membutuhkan banyak biaya dan PDAM bisa segera melakukan. Dengan demikian, pelanggan bisa segera tertolong, tanpa menunggu musim hujan tiba. Upaya PDAM memasok air dengan mobil tangki, kata dia, cukup positif. Pelanggan bisa saja harus membayar air itu Rp 5.000/tangki dan ongkos kirim Rp 20.000. Biaya itu masih lebih murah ketimbang membeli air dari swasta. ''Namun upaya semacam itu hanya sementara,'' kata dia. Wali Kota H Sukawi Sutarip SH menyatakan untuk mengatasi masalah pasokan, PDAM masih mencari sumber air baku baru. Dia menyatakan sependapat dengan usul anggota Komisi D DPRD KOTA bahwa pleret Banjirkanal Barat perlu dinaikkan. Usul itu sebelumnya dilontarkan Ketua Komisi D H Sriyono. Dengan menaikkan pleret, air yang tertampung bisa lebih banyak. Namun, upaya itu tak perlu tergesa-gesa dilakukan. Karena, persediaan air baku di Banjirkanal Timur masih mencukupi. Ada wilayah mendapat pelayanan buruk. Hal itu, kata dia, karena faktor alam. ''Namun selama pelayanan belum baik, rekening pelanggan masih menggunakan tarif lama,'' kata dia. Warga Perumahan Bukit Sendang Mulyo membeli air dalam jerigen dari Sendang Stoom kawasan Tegalsari. Setiap kali pengiriman satu mobil pikap mengangkut 60 jerigen. Kapasitas setiap jerigen 20 l. Ke-60 jerigen air itu dijual Rp 40.000. Beberapa warga patungan membeli air tangki. Menurut penuturan seorang ibu, harga air setiap tangki Rp 50.000 dengan ongkos kirim Rp 10.000. Air itu dijual Rp 60.000/tangki. Ongkos ditanggung bersama. Namun muncul kekhawatiran pembagian air tak merata, sehingga malah menimbulkan ketidakpuasan warga yang membeli air secara patungan. (G6, F1-73g) |