
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Semarang & sekitarnya |
Tersengat Aliran Listrik, Kedua Tangan DiamputasiSINGOROJO- Setahun sudah Paimin (40) menghabiskan hari-harinya di atas sebuah dipan atau ranjang kayu, dengan kasur tipis yang lusuh. Warga Desa Cening, RT 10/04, Singorojo, Kendal, itu kini hanya tergolek lemah tak berdaya. Sebagian tubuhnya sulit digerakkan. Apalagi, kedua tangannya hingga sebatas siku telah diamputasi akibat tersengat aliran listrik. Untuk keperluan sehari-hari, mulai dari makan, minum hingga buang hajat, Paimin yang sebelumnya adalah tukang kayu itu harus dibantu ibu dan adiknya yang setia menemani. Dia pun menceritakan kejadian yang menimpanya setahun lalu. ''Saat itu saya pulang dari kerja. Setelah menyimpan alat-alat pertukangan, saya segera menuju ke masjid yang sedang dibangun. Saya sempatkan untuk ikut bergotong-royong dengan para tetangga, karena hanya tenaga yang mampu saya sumbangkan.'' Tradisi gotong-royong di Desa Cening memang masih kental. Terlebih lagi warga punya hajat membangun sebuah masjid. Bapak satu anak itu diberi tugas menganyam besi cor untuk digunakan dak lantai dua. Saat itu Paimin langsung mengambil potongan besi cor sepanjang tiga meter untuk dianyam. Namun tanpa diduga, ujung besi cor menyentuh kawat listrik yang membentang di atasnya. Akibatnya, terjadi ledakan yang cukup keras. Listrik bertegangan tinggi itu mengalir ke tubuh Paimin melalui besi yang dipegangnya. Sebelum pingsan, dia merasakan tubuhnya terpental beberapa meter. ''Saya baru sadar saat dibawa ke rumah sakit. Sekujur tubuh terasa panas. Ternyata hampir seluruh kulit mulai leher hingga ke ujung kaki melepuh dan mengelupas.'' Luka paling parah adalah di kedua belah tangan hingga sebatas siku. Warnanya hitam legam seperti habis terbakar dan berlubang-lubang. Kedua tangannya juga tidak dapat digerakkan sama sekali. Tangan Palsu Malam itu juga, Paiman dibawa ke RSUP Dr Kariadi Semarang. Dia menjalani rawat inap selama 25 hari. Karena keluarganya sudah kehabisan uang, maka Paimin terpaksa dipulangkan lebih awal. Padahal, luka-luka yang dideritanya belum sembuh betul. Terutama luka bekas amputasi di kedua tangannya. ''Keluarga kami sudah mengeluarkan uang sekitar Rp 14 juta untuk biaya perawatan Mas Paiman selama di rumah sakit. Tiga ladang warisan orang tua seluas 1 hektare saya jual seharga Rp 9 juta. Keluarga yang lain membantu Rp 1,3 juta. Pengurus masjid juga memberikan sumbangan Rp 2,6 juta,'' kata Pariyem (30), adik kandung Paiman. Pihaknya, juga menyatakan rasa terima-kasih terhadap ibu-ibu yang tergabung dalam Himpunan Wanita Pejuang (HWP) Kendal, karena telah memberikan bantuan alat-alat dapur, pakaian pantas pakai serta uang tunai Rp 200 ribu. DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kendal juga memberikan bantuan Rp 450 ribu. ''Banyak pihak telah membantu meringankan beban kami. Kini kondisi Mas Paiman sudah lebih baik dari sebelumnya. Jika, bantuan itu tidak cukup untuk membeli obat di apotek, maka kami belikan obat-obatan yang tersedia di warung dan toko,'' kata Pariyem istri Sarwani (45) yang buruh tani itu. Bila, mempunyai cukup uang, kami sangat ingin membelikan Mas Paiman tangan palsu. Setidaknya dengan tangan palsu tersebut, dapat membantu dia untuk makan dan minum sendiri. Hanya saja, harganya sangat mahal bagi ukuran kami, yaitu sekitar Rp 5 juta perbuahnya.'' (Setyo Sri Mardiko-73) |