
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Semarang & sekitarnya |
Catatan Setahun Kebakaran Gedung Moh IkhsanKasus Beruntun Itu Seolah TerlupakanTAK terasa setahun berlalu, sejak terbakarnya lantai VIII dan IX Gedung Moh Ikhsan Setda Kota. Tepatnya 13 Oktober 2001 lalu, dua lantai gedung kebanggaan masyarakat Semarang itu habis tak tersisa ''dimakan'' si jago merah. Berkait dengan peristiwa tersebut, sejumlah orang dicurigai sebagai pembakar gedung. Namun hingga kini tak jelas sampai di mana kelanjutan pengusutannya. Berikut catatan wartawan Suara Merdeka Setiawan Hendra Kelana mengenai kebakaran yang diwarnai dengan berbagai isu tersebut dalam dua tulisan. GEDUNG Moh Ikhsan saat ini sudah kembali seperti dulu. Bahkan renovasi yang sudah dilakukan menjadikan dua lantai yang terbakar terlihat lebih bagus dan mentereng dari sebelumnya. Selasa, 27 Agustus 2002 lalu, renovasi gedung tersebut diresmikan Gubernur Jateng H Mardiyanto. Namun, bukan berarti setelah bangunan itu kembali seperti semula, kasusnya dilupakan begitu saja. Apalagi untuk mengembalikan dua lantai itu bisa digunakan lagi dibutuhkan dana mencapai Rp 11,7 miliar. Tahap I berasal dari APBD Kota 2001 Rp 400 juta, APBD Kota 2002 Rp 1,1 miliar, dan bantuan Pemprov Jateng Rp 1 miliar. Dana tahap II berasal dari APBD Kota 2002 Rp 5 miliar, bantuan Pemprov Rp 1 miliar, dan APBD 2003 Rp 3,2 miliar. Biaya yang digunakan sudah termasuk asuransi dari PT Askrida Rp 2,1 miliar. Dengan demikian, apa sebenarnya yang telah terjadi dengan kebakaran tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja. Meski setahun berlalu, tentunya dugaan penyebab kebakaran yang sempat muncul tak bisa dianggap sebagai angin lalu. Memang, waktu itu berbagai dugaan penyebab kebakaran sempat bermunculan. Ada yang menduga sebagai musibah biasa, namun ada pula yang menduga kebakaran tersebut terkait dengan persaingan politik tingkat tinggi, sehingga ada unsur kesengajaan. Motivasinya? Jelas menjatuhkan lawan politik. Dugaan ada unsur kesengajaan menjadi semakin kuat setelah tim dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri menyimpulkan bahwa penyebab kebakaran bukan dari peristiwa alam (petir), bahan/senyawa kimia, mekanik (gesekan), ataupun hubungan arus pendek listrik. Disimpulkan, penyebabnya dari sumber api terbuka. Selain itu, juga ditemukan zat pemercepat nyala api. Untuk pengusutan lebih lanjut, dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan oleh Poltabes. Dugaan kebakaran tersebut semakin membuka mata pada peristiwa kebakaran sebelumnya, yakni di ruang proyektor lantai IX, yang akhirnya menjadi suatu rentetan peristiwa kebakaran di gedung Moh Ikhsan. Kebakaran yang terjadi Selasa, 2 Oktober 2001 itu ''hanya'' menghanguskan dua buah kursi sekitar pukul 16.30 . Peristiwa yang pernah diabaikan tersebut akhirnya mulai dihubung-hubungkan. Belum tuntas menduga ada apa di balik kebakaran dua kali hanya dalam tenggang waktu sebelas hari, kebakaran ketiga menyusul, tepatnya 10 November 2001. Kebakaran yang ketiga ini tampaknya seperti ngece petugas jaga, sebab yang dibakar tumpukan kertas di bawah tangga lantai I belakang lift, sekitar 10 meter dari pos jaga. Semua orang seperti dibuat pusing. Tapi belum hilang rasa pusing memikirkan siapa pelakunya, kebakaran keempat menyusul delapan hari setelah kebakaran ketiga, tepatnya 18 November 2001. Dan, kebakaran keempat ini yang akhirnya menjadi titik kulminasi dari sekian peristiwa kebakaran. Meski belum jelas siapa pelaku sebenarnya, namun pada kebakaran keempat tersebut ditetapkan dua orang tersangka oleh Poltabes, yaitu Kabag Pembangunan Setda Ir Agung Prijo Oetomo dan tenaga harian lepas Bagian Umum Supardi. Agung, menurut keterangan dari Poltabes, adalah orang yang dicokot Supardi. Sedangkan Supardi sendiri mengaku disuruh Agung untuk membakar gedung pada kebakaran keempat. Isu Disharmoni Tak bisa dimungkiri, serangkaian isu yang mengiringi rentetan kebakaran di Balai Kota makin meruncing pada disharmonis antarpejabat. Isu tersebut sedemikian runcing sehingga berbagai kalangan sering menduga-duga hal-hal yang sebenarnya di balik kebakaran tersebut. Parahnya, kebakaran tersebut dijadikan media untuk saling menjatuhkan. Meski itu belum terbukti sampai sekarang, kemunculan isu tersebut tetap menjadi opini publik yang tidak bisa dibendung lagi. Belum hilang isu disharmonis, muncul isu yang lebih heboh, yakni beredar selebaran 17 pejabat Pemkot yang tidak loyal pada Wali Kota. Ketujuh belas pejabat itulah yang akhirnya lebih sering disebut Kelompok 17. Dalam menanggapi isu kelompok ini, Wali Kota Sukawi Sutarip juga tak memberikan tanggapan jelas. Dia mengaku tidak percaya betul. ''Bisa ya, bisa juga tidak,'' kata dia suatu kesempatan. Isu lain yang sempat menyeruak ke permukaan adalah Wali Kota menerima Rp 5 miliar dari kebakaran. Juga isu rumah Ketua DPRD Kota Ismoyo Soebroto digunakan untuk rapat membahas kebakaran gedung dan ditemukan sebuah keris di reruntuhan bekas kebakaran lantai VIII. Tak hanya itu, dalam melontarkan berbagai isu yang akhirnya berkembang dengan tajam, terkadang pelontar tersebut menggunakan pernyataan yang dimunculkan seorang dukun. Berbagai isu yang berkembang membuat masyarakat makin bingung. Isu itu seakan-akan juga digunakan sebagai tameng sejumlah pihak ketika ''kubunya'' diterpa isu lain. Yang jelas, isu itu tak sekedar dimunculkan untuk berspekulasi. Namun benar-benar menghantam pihak yang diisukan. Akibatnya, berkesan terjadi sikap saling balas dalam ''melemparkan'' sebuah isu yang terkait pada kebakaran. Malam Minggu Satu hal yang tidak bisa dilupakan dalam rentetan kebakaran di Balai Kota adalah waktu kejadian. Kebakaran di Balai Kota lebih sering terjadi pada hari libur atau malam libur. Hanya kebakaran pertama yang terjadi hari Selasa. Kebakaran kedua, ketiga, dan keempat terjadi pada malam Minggu, Sabtu malam, dan Minggu dini hari. Kebakaran itu juga selalu terjadi saat Balai Kota ada acara keesokan harinya, sehingga muncul dugaan, si pembakar memanfaatkan waktu tatkala Balai Kota ramai didatangi orang dari luar. Akibatnya, si pembakar lebih leluasa beraksi. (71,73c) |