
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Internasional |
Pulang ke Jepang setelah 30 Tahun DiculikTOKYO - Lima warga Jepang yang diculik Korut pada 1970-an, Selasa kemarin tiba di Tokyo untuk kunjungan pertama ke tanah kelahiran mereka dalam waktu 24 tahun terakhir. Sebuah pesawat Boeing 767-300 ER carteran yang membawa kelima orang itu dan juga para pejabat Pemerintah Korut, mendarat di Bandara Haneda pada pukul 14.20 (12.20 WIB), sekitar dua jam setelah meninggalkan Bandara Sunan Pyongyang. Beberapa menit setelah turun dari tangga pesawat, mereka tersenyum ketika para keluarga yang menunggu di landas pacu mengibarkan bendera-bendera Jepang dan membawa spanduk bertuliskan "Selamat Datang Kembali". Senyum kelompok itu segera berubah menjadi tangis mengharukan, ketika mereka menjejakkan kaki di landas pacu. Mereka langsung memeluk para orang tua dan saudara kandung masing-masing, yang tidak pernah mereka lagi temui sejak 1970-an. Setelah sekitar lima menit, kelima orang yang mendapat kalungan karangan bunga mawar itu dikawal ke sebuah gedung terminal untuk melanjutkan pertemuan dengan para keluarga mereka. Kembalinya kelima warga Jepang itu ter-wujud, setelah pemimpin Korut Kim Jong-il mengakui penculikan yang dilakukan para agen mata-mata Korut terhadap sejumlah warga Jepang. Pengakuan kali pertama tersebut disampaikannya, saat dia mengadakan pertemuan dengan PM Jepang Junichiro Koizumi di Pyongyang (ibu kpota Korut), bulan lalu. Pengakuan itu memicu Koizumi untuk bersedia memulai kembali perundingan mengenai pemulihan hubungan diplomatik, Oktober ini, kendati Korut mengatakan delapan dari 13 warga Jepang yang diculik telah meninggal. Untuk kali pertama inilah kelima warga Jepang yang diculik itu, semuanya kini berusia 40 tahunan, menginjakkan kaki lagi di bumi Jepang, sejak mereka diculik dari kota-kota pantai yang menghadap Semenanjung Korea pada Juli 1978. Anak Tak Diperkenankan Mereka diculik untuk dilatih menjadi mata-mata Korut, yang kemudian disusupkan ke Korsel sebagai wisatawan Jepang. Mereka yang datang ke Tokyo itu adalah Hitomi Soga (wanita berusia 43 tahun), dan dua pasangan suami-istri: Kaoru Hasuike (45) dan Yukiko Okudo (46) serta Yasushi Chimura (47) dan Fukie Hamamoto (47). Enam anak para terculik itu dan juga suami Soga, yang kabarnya warga Amerika yang membelot ke negara komunis Korut ketika menjadi tentara AS, tidak diperkenankan oleh penguasa Korut untuk ikut dalam kunjungan tersebut. Chimura, yang diculik bersama Fukie Hamamoto (kini istrinya) dari Perfektur (Provinsi) Fukui di Jepang utara, merangkul erat bahu ayahnya sambil menangis. Empat bulan setelah keduanya diculik dan dibawa ke Korea Utara, mereka menjadi suami istri. Mereka dikaruniai seorang putri dan dua putra. Sementara itu Kaoru Hasuike yang tinggi kurus, tersenyum saat bersalaman dengan Toru, adiknya. Dia dan Yukiko Okido (teman sekolah di Jepang) diculik dari kota Kashiwazaki secara bersamaan. Setiba di Korut dan tinggal beberapa lama, keduanya juga menikah dan dikaruniai seorang putra yang sekarang sekolah di Korut. Soga (43) direnggut paksa oleh para penculik ketika sedang berjalan bersama ibunya di Pulau Sado, Jepang utara. Dia belakangan menikah dengan seorang warga Amerika, Charles Robert Jenkins, yang disebut-sebut mantan GI (serdadu AS) yang membelot ke Korut pada 1965. Kelima orang Jepang yang sekarang warga negara Korut itu pada Selasa malam dan Rabu ini tinggal di sebuah hotel di Tokyo, sebelum menuju kota tempat kelahiran masing-masing, Kamis besok. Media Jepang telah berjanji akan menahan diri dalam peliputan mereka terhadap kunjungan tersebut, sehingga tidak mengganggu privasi para terculik, keluarga mereka, dan juga warga kota tempat kelahiran mereka. Yang Lain Mana? Jepang bersikukuh, isu penculikan itu belum bisa disebut "telah terpecahkan". Isu tersebut akan menjadi agenda utama Tokyo dalam perundingan normalisasi hubungan Korut-Jepang, yang akan dilangsungkan di Kuala Lumpur (Malaysia), dari 29 Oktober sampai30 Oktober. "Dengan kunjungan ini, isu penculikan telah melakukan langkah pertama menuju pemecahan," kata PM Koizumi dalam sebuah pernyataan. "Tetapi, masih banyak problem yang harus dipecahkan, termasuk kemungkinan pulangnya mereka bersama keluarga mereka ke tanah air untuk menetap kembali sebagai warga Jepang, juga kebenaran tentang nasib sejumlah warga Jepang lain yang belum diketahui nasibnya," tambahnya. Dia sebelumnya mengkritik media Jepang, yang mengutip dirinya seakan mengatakan "Korut adalah negara yang tidak bisa diampuni karena telah menculik dan membunuh warga Jepang". "Ia (Korut) memang negara yang payah. Tetapi, saya kan mengatakan kita (Jepang) akan berunding dengan mereka. Maka, saya rasa tidak baik bagi media hanya menulis sedikit kesalahan ucap saya," kilahnya. Para aktivis mengatakan, masih banyak warga Jepang yang diculik di luar 13 orang yang disebutkan secara resmi oleh Kim Jong-il. Mereka menekan pemerintahan Koizumi untuk menyelidiki nasib mereka, sebelum perundingan normalisasi dengan Korut diteruskan. (rtr-ed-30) |