logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Internasional  
Line

ANALISIS

Tanda-tanda Serangan ke Bali Sudah Terlihat Jelas

SINGAPURA - Dengan melihat ke belakang, tanda-tanda peringatan mengenai ledakan bom di Bali sebenarnya telah jelas terlihat semua pihak. Demikian diingatkan para pakar keamanan Asia, seperti dilaporkan kantor berita Reuters semalam.

Seorang serdadu Amerika terbunuh da-lam ledakan bom di Filipina, sebuah granat meledak di depan kompleks staf Kedubes AS di Jakarta, sebuah kelompok yang dicurigai sebagai sel teroris terbongkar di Ita-lia, dan serangan terhadap marinir AS di Kuwait.

Dengan menggabungkan peristiwa-peristiwa tersebut, jelaslah bahwa jaringan Al Qaedah yang dipimpin Usamah bin Ladin masih sangat aktif, lebih dari setahun setelah aksi kamikaze 11 September di New York dan Washington.

Jaringan itu juga telah memperluas jaringan kelompok-kelompok kecilnya yang mampu melakukan serangan dengan akibat mematikan, lapor Reuters.

Dan bahkan sebelum ledakan bom yang menghancurkan sebuah klab malam di Bali, yang menewaskan paling tidak 187 orang, Asia Tenggara benar-benar telah berada dalam incaran mereka.

"Ini sebenarnya bukan kejutan. Kejutan terbesar adalah ledakan itu terjadi begitu jauh dari sasaran kepentingan-kepentingan Barat," kata Andrew Tan, peneliti di Institute of Defence and Strategic Studies di Singapura.

"Kita seharusnya memperkirakan lebih banyak serangan akan terjadi," katanya. "Ini hanyalah awal dari apa yang telah sering kami lihat di negara-negara muslim lain di Timur Tengah."

Bukan hanya AS, tapi juga negara-negara tetangga di wilayah Asia Tenggara telah lama memandang Indonesia sebagai mata rantai yang lemah dalam perang mencegah serangan ekstremis di kawasan tersebut.

Malaysia dan Singapura selama ini vokal mendesak Indonesia agar mengambil tindakan. Mereka menyarankan Jakarta agar mulai bertindak, dengan menangani kelompok-kelompok yang dicurigai ingin membentuk negara Islam di Asia Tenggara.

Mungkin Ganggu Mega

Dengan tidak adanya klaim yang menyatakan bertanggung jawab atas ledakan bom di Bali, maka tudingan tunggal terhadap kaum militan muslim berisiko mengabaikan tersangka lain di kepulauan In-donesia yang rawan.

"Ada keraguan yang tetap hidup, me-ngenai sebab-sebab ledakan tersebut. Tetapi saya harus mengatakan, pada saat ini keseimbangan bukti tampaknya mengarah pada terorisme," kata Michael McKinley, seorang dosen politik internasional di Universitas Nasional Australia, pada TV Sky.

Serangan itu dapat saja bertujuan mengganggu kestabilan pemerintahan Megawati Soekarnoputri, katanya.

McKinley dan analis lainnya sepakat, yang paling mungkin menjadi pelaku pe-ledakan itu adalah sebuah kelompok yang punya kaitan dengan jaringan Al Qaedah.

"Tidak ada keraguan bahwa kita sepenuhnya telah meremehkan luasnya kerja sama organisasi-organisasi militan di Asia Tenggara," kata Alan Dupont, anggota Strategic and Defense Study Center di Universitas Nasional Australia, dalam sebuah wawancara tak lama sebelum ledakan di Bali.

"Sel-sel Al Qaedah berkembang seperti jamur," katanya, mengacu sejumlah serangan terencana, antara lain serangan yang digagalkan di Singapura, Desember lalu.

Operator-operator Al Qaedah telah melatih anggota kelompok radikal Abu Sayyaf, yang menyebarkan kekerasan di Filipina selatan.

Modus Operandi Al Qaedah

Pada Juni lalu, AS menahan Omar al Faruq (seorang warga Arab) yang ditangkap di Indonesia karena dicurigai menjadi seorang operator senior Al Qaedah di wilayah tersebut.

Paling tidak seorang pemimpin lain, Hambali (WNI), masih bebas dan AS khawatir dia dapat menjadi kekuatan penggerak di belakang serangan apa pun. "Ini perkembangan yang sangat signifikan, karena Bali selama ini menjadi tempat damai di Indonesia," kata Tan.

"Serangan di Bali bertepatan dengan laporan-laporan bahwa Al Qaedah telah mendesentralisasikan diri menjadi kelompok-kelompok radikal setempat, untuk menyerang Amerika," tambahnya.

"Mengingat situasi di dalam tubuh Al Qaedah sekarang, serangan itu tampaknya menjadi modus operandi mereka. Mungkin saja, kelompok-kelompok radikal setempat telah memutuskan untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut." (rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA