logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Internasional  
Line

Saudi Ingatkan, Islam Agama yang Bijaksana

DUBAI - Penguasa de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Abdullah, menyerukan rakyat Saudi agar menghindari ekstremisme. Diingatkannya, Islam ada-lah keyakinan moderat.

Peringatannya itu disampaikan, menyusul pernyataan Usamah bin Ladin (disiarkan oleh televisi Al-Jazeera) yang memuji serangan anti- Barat pekan lalu di Kuwait dan Yaman.

"Saya secara pribadi menyerukan pada anak-anak kita, para mahasiswa saat ini yang akan menjadi pria dewasa pada masa datang, dan setiap warga negara, untuk menganut keyakinan kita (Islam) tanpa berlebihan. Sebab Islam agama moderat dan bijaksana," kata Abdullah, ketika berpidato di sebuah seremoni universitas.

"Pada saat yang sama, kita harus sadar tentang penyimpangan dan perpecahan yang terjadi saat ini pada satu sisi, dan keyakinan berlebihan serta ekstremisme pada sisi lain," imbuhnya.

Arab Saudi menyuarakan keprihatinan pada keamanan wilayah Teluk yang kaya minyak, setelah di Kuwait terjadi penangkapan suatu sel yang berkaitan secara tidak langsung dengan jaringan Al Qaedah yang di-pimpin Usamah bin Ladin.

Lima belas dari 19 pembajak bunuh diri yang menabrakkan pesawat ke World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington pada aksi kamikaze 11 September, adalah warga negara Saudi.

Laporan pernyataan Usamah di TV Al-Jazeera memberi selamat pada kaum muslim atas serangan "yang berani dan heroik" pada pasukan AS di Kuwait Selasa lalu (yang menewaskan seorang marinir AS) dan atas ledakan yang menghancurkan supertanker Prancis, Limburg, di lepas pantai Yaman pada 6 Oktober.

"Tindakan heroik di Kuwait membuktikan tingkat bahaya yang mengancam tentara AS di negara-negara Islam," bunyi pernyataan Usamah tersebut.

Dituding Mata Rantai

Arab Saudi, tanah kelahiran Islam, ketempatan ribuan tentara AS sejak Perang Teluk 1991. Pada perang itu, Saudi mendukung perang AS terhadap Irak, sehingga membuat marah orang-orang seperti Usamah.

Setelah aksi kamikaze 11 September, Ke-rajaan Arab Saudi mendapat sorotan dari media AS dan beberapa anggota Kongres, yang menuding negara tersebut menyebarkan radikal Islam ke seluruh dunia.

Sebuah laporan yang disusun badan penasihat untuk Pentagon berpendapat, kerajaan tersebut merupakan "mata rantai terorisme yang aktif pada setiap tingkatannya".

Hubungan antara Washington dan Saudi, sekutu utama di kawasan Teluk, menjadi tegang gara-gara aksi kamikaze 11 September, kemungkinan serangan AS terhadap Irak, dan prasangka pro-Israel dalam konflik Timur Tengah.

Menlu Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal kemarin menegaskan lagi, negaranya menentang perang melawan Irak dan tidak akan terlibat dalam serangan AS ke negara tetangganya di utara itu.

Mengakhiri kunjungan resmi dua hari ke Aljazair, al-Faisal kelihatan mengisyaratkan bahwa Arab Saudi mengubah sikapnya terhadap arahan Washington sehubungan dengan Presiden Irak Saddam Hussein.

"Kami menolak memasuki kancah peperangan melawan Irak," katanya, dalam jumpa pers di Tiaret, setelah berbicara dengan Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika.

"Saya tidak pernah mengatakan Saudi sepakat mengizinkan penggunaan wilayahnya untuk menyerang Irak," katanya, ketika menjawab pertanyaan apakah Arab Saudi setuju AS memanfaatkan wilayahnya sebagai tempat peluncuran serangan terhadap Irak.

Filipina Siaga

Sementara itu, Filipina mengejar empat orang yang punya kaitan dengan kelompok militan Jamaah Islamiah (JI) yang dicurigai sedang menyusun rencana serangan baru di negeri tersebut, kata seorang petugas polisi, Selasa.

Empat orang tersebut, dua warga Filipina dan dua lagi orang asing, diyakini bagian dari kelompok yang mengebom sistem rel kereta api dan sasaran-sasaran lain di Manila pada Desember 2000, yang menewaskan 22 orang dan melukai lebih dari 100 orang, kata Roberto Delfin, kepala intelijen Kepolisian Nasio-nal Filipina.

Polisi telah meningkatkan usaha memburu empat orang tersebut, sehubungan dengan serangan bom di Bali, yang menewaskan lebih dari 180 orang dan melukai ratusan lainnya.

"Selama dua pekan terakhir, kami tidak memantau ada ancaman pada negara kami, tapi kami yakin mereka masih punya rencana dan kami sedang memantau aktivitas mereka. Kami yakin, mereka merupakan bagian dari Jamaah Islamiah," katanya kepada para wartawan.

JI dituding oleh badan-badan intelijen sedang berusaha mengebom sasaran-sasaran Barat. Kelompok itu disebut-sebut punya kaitan dengan jaringan Al Qaedah.

Fathur Rohman Al Ghozi, seorang warga Indonesia yang mengaku anggota JI, kini sedang menjalani hukuman penjara di Filipina, setelah divonis karena membawa bahan peledak 1,2 ton, yang menurut polisi hendak digunakan untuk mengebom Kedubes AS dan Israel di Singapura.

Presiden Arroyo menyiagakan pasukan polisi di seantero Filipina, di tengah-tengah ketakutan adanya serangan teror baru menyusul serangan bom di Bali. (rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA