logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Ekonomi  
Line

Aset Properti BPPN di Jateng Diminati

SEMARANG-Aset-aset properti Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang ada di wilayah Jateng diprediksi akan paling diminati. Pasalnya, dibanding daerah lain, seperti Jakarta, Bogor dan Tangerang (Jabotabek) dan wilayah lain, provinsi ini lebih kondusif sebagai sarana investasi.

Demikian diungkapkan pengamat Properti Panangian Simanungkalit dalam Seminar ''Peluang dan Kiat Investasi Properti di Jateng dan Nasional'' di kantor BPPN Jalan Pemuda, kemarin. Hadir pula Kepala BPPN Center Semarang Lokyanto Hoetomo, Kepala Divisi Komunikasi BPPN Raymond Van Beekum dan sejumlah pengusaha properti Semarang.

Dari data BPPN, jumlah aset properti di Jateng yang akan dijual melalui Program Penjualan Aset Properti (PPAP) ada 138 unit yang terdiri pabrik, gedung, gudang, hotel, tanah dan rumah. Dari jumlah tersebut 64% berada di Semarang.

''Peminat nantinya tidak hanya dari Jateng dan sekitarnya, sebab dengan proses penjualan secara on-line pembeli dari luar daerah juga akan berminat,'' jelas Direktur PT Panangian Simanungkalit ini.

Menurutnya, teror bom di Bali juga tidak akan berpengaruh terhadap prospek investasi properti di Jateng. Selain lokasinya sangat jauh, selama ini Semarang sudah memiliki kesan aman di mata investor. ''Harga yang ditawarkan juga terhitung rendah bila dibanding dengan nilai jualnya,'' ujarnya.

Pada sisi lain, dia mengungkapkan, BPPN dapat mencapai penjualan yang optimal yakni kurang lebih 70 %, maka perlu melakukan persiapan tim pengarah yang handal untuk menangani marketing dan communication strategy yang sesuai dan membumi serta menyiapkan tim pelayanan penjualan yang proaktif, maka dia memprediksikan nilai transkasi PPAP akan ada pergerakan antara 101 % sampai 124 % dari floor price.

Menurut Panangian, sebanyak 1.687 unit properti yang sudah ditetapkan harga dasarnya oleh BPPN, harga penawaranya (asking price) sekitar Rp 810 miliar.

''Dalam penjualan aset properti dalam program PPAP ini, berapapun jumlah aset yang terjual dalam transaksi PPAP-BPPN, sudah pasti hasilnya akan mencapai recovery rate di atas 100%. Mengingat BPPN hanya akan memenangkan para bidder dengan harga penawaran di atas harga dasar (floor price) dan tertinggi,'' jelasnya.

Sehingga, lanjut dia, bila dilihat dari tingkat pemulihan (recovery rate), penjualan properti PPAP-BPPN tahun 2002 dengan mekanisme Full Access Maximum Entry (FAME) akan lebih baik bila dibandingkan penjualan melalui mekanisme lelang yang pelaksanaannya menggandeng balai lelang serta agen properti.

Tetapi, kata dia, untuk penjualan dengan PPAP bisa menghasilkan speed of recovery yang jauh lebih tinggi dengan menjual sebanyak 1.687 unit dalam waktu 1,5 bulan.

Lebih jauh dia berpendapat, bila penjualan aset PPAP-BPPN dapat mencapai tingkat penjualan sebesar 70%, maka program PPAP yang dilaksanakan dapat dikatakan sukses. Mengingat waktu yang ditetapkan BPPN hanya 1,5 bulan. ''Di samping itu bila penjulan ini benar-benar bisa mencapai kurang 70 %, maka akan menjadi trend setter dalam penjualan properti secara massif di Indonesia,'' tuturnya.

Kepala Divisi komunikasi BPPN Raymond Van Beekum menyatakan, harga dasar properti dalam PPAP yang ditetapkan BPPN berada di bawah harga pasar adalah untuk menarik minat konsumen.(G2-69)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA