
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Ekonomi |
Kualitas Kredit Pariwisata Terpengaruh
SEMARANG-Kasus pengeboman di Bali diperkirakan akan mempengaruhi kinerja pengembalian kredit perbankan, khususnya kredit yang disalurkan ke sektor pariwisata. Tidak hanya kredit investasi untuk bisnis di sektor tersebut, tapi juga kredit komersial yang diberikan kepada mereka yang bekerja di sana. Demikian disampaikan Pimpinan Divisi Internasional Bank BNI I Wayan Saputra. "Tidak menutup kemungkinan dalam jangka panjang, kredit perbankan yang disalurkan ke sektor pariwisata akan mengalami masalah dalam pengembaliannya," jelas dia usai berbicara dalam Corporate Gathering Bank BNI Wilayah 5 Semarang dengan mitra kerjanya di Graha Santika, kemarin. Wayan menambahkan, kemungkinan itu bisa terjadi apabila pascakasus pengeboman tersebut banyak tempat pariwisata di Indonesia sepi, hotel-hotel tidak ada yang menginap dan agen-agen perjalanan tidak ada yang menggunakan. "Dengan sepinya pasar, tentunya mereka akan kesulitan untuk mengembalikan kreditnya. Demikian pula dengan pekerja yang ada di sektor tersebut yang sebelumnya diperkirakan dapat membayar kredit karena bisnis di sektor itu ramai, dimungkinkan terhambat," tuturnya dalam acara yang dihadiri pula oleh Pimpinan Wilayah 5 Bank BNI Semarang Diding Fathuddin. Penundaan Ekspor Lebih jauh, Wayan juga menambahkan, pengaruh tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh sektor pariwisatan saja, tapi juga perdagangan internasional, khususnya ekspor. "Memang hingga saat ini belum ada kontrak ekspor yang dibatalkan. Namun menurut informasi dari para importir, sudah banyak kontrak yang ditunda setalah terjadinya pengeboman tersebut." Penundaan itu, tambah dia, memang hal biasa dalam perdagangan internasional. Namun yang perlu dikhawatirkan jika penundaan itu berlangsung dalam jangka panjang, tentunya akan memberatkan pengusaha nasional, karena barang dan modalnya menjadi macet. Menyikapi hal itu, kata dia, umumnya dunia perbankan mulai ancang-ancang untuk mengantisipasi jika kreditnya di sektor tersebut bermasalah dikemudian hari. Selain itu, perbankan juga makin mempergencar upaya meraih kembali kepercayaan asing yang sudah ada agar tidak hilang. "Caranya kami terus berusaha melakukan kontak dengan bank-bank koresponden di luar negeri untk menginformasikan perkembangan keamanan di sini. Tapi upaya ini tidak akan banyak berarti jika pemerintah sendiri tidak berusaha untuk cepat-cepat menyelesaikan kasus pengemboman ini," tandasnya. Mengenai melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS setelah kasus tersebut, Wayan yakin melemahnya nilai rupiah tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, turunnya nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran saja. Bukan krisis. "Begitu permintaan mulai berkurang, saya yakin nilai tukar rupiah akan kembali menguat. Apalagi cadangan devisa kita saat ini cukup kuat," ujarnya.(G2-69) |