logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Jawa Tengah  
Line

Menjelang Ramadan

Sejumlah Pelacur di Baturraden Mengungsi

BATURRADEN- Sebanyak 127 pelacur yang biasa mencari nafkah di lokalisasi Gang Sadar Baturraden, sejak Minggu (13/10) lalu meninggalkan kompleks tersebut. Informasi yang berkembang, mereka meninggalkan lokalisasi itu karena ada ancaman dari sejumlah kelompok yang tidak senang dengan keberadaan dan kegiatan mereka.

Para pelacur tersebut, untuk sementara ''mengungsi'' ke beberapa rumah penduduk dan hotel kelas melati yang banyak terdapat di tempat wisata berhawa dingin itu. Seorang ''bapak angkat'' dari pelacur, Takun, menjelaskan, dirinya terpaksa memindahkan beberapa anak buahnya ke rumah penduduk.

Sedangkan Sinta, mengatakan dirinya dan teman-teman lain ingin dua sampai tiga minggu lagi menghuni lokalisasi sebelum datang bulan Ramadan. ''Tapi kondisinya sudah tidak nyaman lagi, kami waswas ada isu yang akan mengganggu tempat kami,'' kata wanita cantik asal Banjarpatroman Ciamis itu.

Mencari Sangu

Senada dengan Sinta, Eva mengungkapkan, dirinya bersama teman lainnya, berniat mencari sangu yang banyak sebelum libur pada Ramadan nanti. ''Tapi sampai sekarang belum ada bekal yang cukup untuk pulang kampung,'' imbuhnya.

Mereka mengaku, tidak tahu sampai kapan akan begini terus. ''Mau pulang kampung nggak ya,'' katanya ragu. Imbas dari sepinya lokalisasi Baturraden, para tukang ojek yang biasa memanfaatkan jasa mereka, ikut mengalami penurunan pendapatan.

Berapa tarif mereka?. Beberapa sumber mengungkapkan, bayaran untuk setiap ''ronde'' rata-rata Rp 70 ribu. Tetapi kalau dua ''ronde'' mencapai Rp 250 ribu. Dalam satu hari, mereka bisa melayani sampai empat pelanggan. Para pelacur itu biasanya menerima separo dari harga jadi. Sisanya dibagikan untuk induk semang dan keamanan.

Camat Baturraden, Sukmo Aji S Sos, ketika dimintai konfirmasi Suara Merdeka Senin lalu mengatakan, sebanyak 35 rumah yang biasa digunakan para pelacur di kompleks Gang Sadar, sengaja dikosongkan mulai 10 Oktober lalu. Pengosongan itu tidak terkait dengan adanya isu ancaman dari sekelompok orang yang akan menyerang lokalisasi itu.

Kegiatan pengosongan itu sudah rutin setiap tahun, terutama menjelang dan saat Bulan Ramadan. ''Jadi bukan karena ada ancaman,'' ujarnya.

Operasi Pekat

Kepolisian Sektor (Polsek) Sumpiuh berhasil menyita sekitar 400 botol berisi minuman keras, Sabtu lalu. Minuman tersebut diperoleh dari tujuh warung yang ada di Kecamatan Sumpiuh, Banyumas.

Menurut Kapolsek Sumpiuh, Ipda Sudarsono, minuman keras itu disita dalam Operasi Pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat). Antara lain bermerek Topi Miring, Mansion, anggur kolesom dan anggur putih.

''Kami heran ternyata minuman keras beralkohol tinggi dan mahal sudah beredar luas di wilayah pinggiran. Fenomena itu mewajibkan kami untuk meningkatkan kewaspadaan,''kata Ipda Sudarsono.

Di sisi lain, kapolsek berharap agar semua unsur masyarakat terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan peredaran barang-barang haram di wilayah itu.

Menjelang Bulan Ramadan, pihak polsek juga merencanakan operasi lain. ''Karena itu bantuan semua unsur masyarakat sangat kami butuhkan,''papar Sudarsono (jm,ms-47)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA