logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Jawa Tengah  
Line

Tahun Ekowisata 2002 Tak Akan Optimal

MAGELANG- Pengamat politik UGM Yogyakarta, Drs Mashuri Maschab SU mengharapkan, Presiden tetap mencanangkan Tahun Ekowisata 2002 di Selo, Boyolali Kamis (17/10), meski terjadi ledakan bom di Legian, Bali.

''Karena pencanangan Tahun Ekowisata itu merupakan strategi besar yang telah diprogramkan lama. Jika sampai ditangguhkan, program atau strategi kita bisa dianggap kedodoran,'' katanya, Selasa (15/10) kemarin.

Ia memperkirakan dunia pariwisata Indonesia menjadi terganggu akibat bencana di Pulau Dewata Sabtu (12/10) malam, sehingga hasil dari program itu tak bisa optimal. Karena keberhasilan pariwisata sangat bergantung pada kemampuan ekonomi dan keamanan.

Tentang bom yang meledak di Bali, Mashuri yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang itu menengarai sebagai upaya konspirasi internasional untuk menyudutkan Islam dan Indonesia. Mengenai kemungkinan dilakukan oleh kelompok Islam radikal, ia membantahnya.

Mashuri meminta pemerintah Megawati agar aktif, karena selama ini ketika diminta untuk memberantas teroris di Indonesia, mengaku tidak punya cukup bukti. Ledakan bom di Bali, membuktikan di Indonesia ada teroris. ''Lawan,dong!, karena peristiwa ini bisa mengakibatkan Indonesia kekurangan devisa.''

Mashuri menilai, sikap Panglima TNI Jenderal Endriartono dan Menko Polkam Bambang Yudoyono terbelah. Badan Intelejen Negara (BIN) juga disesalkan tak bisa mendeteksi sejak awal.

Tetap Jalan

Sementara itu, Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Magelang, Triyono SH menandaskan, Presiden di Selo, Boyolali, Kamis (17/10) untuk mencanangkan Tahun Ekowisata 2002, bukan meresmikan Taman Nasional Merapi Merbabu (TNMM).

''Kami belum mengetahui konsep TNMM,'' katanya kemarin, dalam dialog antara pengurus Paguyuban Sabuk Gunung (Pasag) Merapi dengan Pemda dan DPRD Kabupaten Magelang.

TNMM dikatakan sebagai usulan dari Yogyakarta dan lokasinya di hutan. Karena lahan DIY terbatas, kemudian mengajak Jateng untuk sekalian menjadikan kawasan Merapi sebagai TNMM. Departemen Kehutanan sudah menyiapkan dana untuk membiayai uji kelayakan dan potensi kawasan Merapi. ''Program Solo-Selo-Borobudur adalah program Jateng. Sedangkan TNMM program pemerintah pusat,'' katanya.

Pola pariwisata yang dikembangkan Pemkab Magelang adalah pariwisata berbasis masyarakat. Tanpa ada TNMM, pembangunan pariwisata di daerah ini tetap jalan, karena sudah memiliki perencanaan sendiri.

Pengertian wisata disebutkan ada dua, yakni tertutup hanya berisi bangunan wisata. Kemudian terbuka, bila masih memungkinkan adanya pembangunan bagi masyarakat.

Ketua Pasag Merapi Suharno SSos mengemukakan, komunitasnya beranggotakan warga dusun-dusun seputar lingkar Lereng Gunung Merapi. Mereka meminta masukan untuk draf pengelolaan Merapi berkelanjutan dan berbasis masyarakat. (pr-74)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA