
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Jawa Tengah |
Dusun Banaran Kekurangan AirWONOSOBO - Dampak kemarau panjang tahun ini mulai dirasakan di Kabupaten Wonosobo. Daerah pegunungan yang selama ini memiliki curah hujan cukup tinggi dan hampir tidak pernah kekurangan air, kali ini tidak bisa menghindari dampak musim kemarau. Di antara desa yang mulai kekurangan air bersih itu adalah Dusun Banaran, Desa Kayugiyang, Kecamatan Garung. Desa di perbukitan kaki Gunung Sindoro yang terletak sekitar 8 km dari ibu kota Kecamatan Garung, merasakan kekurangan air bersih sejak dua bulan silam. Sumber mata air yang disalurkan ke Dusun Banaran debitnya merosot drastis, sehingga tidak mencukupi kebutuhan bagi 1.400 jiwa penduduk setempat. Sepanjang hari, siang sampai malam, masyarakat antre di sekitar bak penampungan air yang ada di tempat itu untuk mendapatkan air bersih. Diperkirakan debit mata air satu-satunya yang ada di Dusun Banaran, saat ini hanya mencapai 3liter/menit. Sejumlah masyarakat Dusun Banaran yang ditemui Suara Merdeka di lokasi bak penampungan air mengungkapkan, dengan turunnya debit air, maka tiap keluarga rata-rata hanya bisa memperoleh air bersih sebanyak satu jerigen. "Air sebanyak satu jerigen itu hanya cukup untuk minum dan memasak saja, sehingga untuk keperluan mencuci pakaian, kami terkadang harus pergi ke kali yang ada di bawah dusun atau ke Dusun Kalilang sejauh 4 km". Soal mandi, dengan agak malu-malu mereka mengaku, dalam kondisi seperti sekarang ini hal itu bukanlah prioritas utama. Diakuinya, saat ini mandi belum tentu dilakukan tiap hari. Penduduk Dusun Banaran menyebut, air bersih PDAM sampai sekarang belum bisa menjangkau wilayah tempat tinggal mereka, karena lokasi Dusun Banaran yang relatif tinggi dan jauh dari sumber mata air. Padahal di kawasan tersebut juga tidak terdapat sungai dan mata air yang memadai. Sehubungan dengan kelangkaan air bersih, banyak di antara warga pada hari pasaran tertentu berbelanja ke pasar Kecamatan Garung sambil membawa jerigen air. Sepulang dari pasar Garung, mereka mengisi jerigennya dengan air bersih. Dengan kondisi alam yang seperti itu, tokoh masyarakat Dusun Banaran mengusulkan kepada Pemkab Wonosobo untuk bisa membantu pembuatan sumur bor atau sumur artetis. Diperkirakan dengan sumur bor, kebutuhan air bersih masyarakat akan bisa terpenuhi sepanjang tahun. Untuk meringankan beban masyarakat terhadap kebutuhan air bersih, Pemkab Wonosobo, sejak Senin (14/10) lalu mulai melakukan pengedropan dan pemberian bantuan air bersih secara cuma-cuma. Pemkab Wonosobo membantu air bersih yang diangkut dengan mobil tangki. Ratusan penduduk berbondong-bondong antre sambil membawa jerigen maupun drum. Bantuan air bersih itu akan dilaksanakan secara berkala selama musim kemarau masih berlangsung. Kepala Bagian Kesra Setda Wonosobo, Drs H Turmudzi Ch mengatakan, karena keterbatasan peralatan maka bantuan air bersih itu tidak bisa dilakukan tiap hari. Bantuan air akan dilaksanakan secara berkala. Pemberian itu dimaksudkan untuk meringankan beban masyarakat, khususnya kebutuhan akan air bersih. Sementara itu, Ny Sumarni, Supanti dan lainnya yang antre air bersih bantuan Pemkab menyatakan kegembiraannya. Bantuan itu dinilainya cukup berharga, terlebih selama ini mereka relatif kekurangan air bersih. Mereka berharap, bantuan itu bisa dilakukan secara rutin. (P55-74) |