
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Jawa Tengah |
Relokasi Eksodan Terancam Mundur
KEBUMEN - Relokasi bagi 200 eksodan di daerah pesisir selatan Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kebumen, yang akan diresmikan Oktober ini, terancam mundur. Kemungkinan baru setelah Lebaran nanti bisa diresmikan. Sebab, dari pengamatan di lapangan sampai saat ini kondisi relokasi itu masih mengkhawatirkan, dan sarana prasarananya belum siap. Jalan masuk belum semua diaspal. Bangunan 200 rumah semi-permanen baru sebagian yang sudah jadi. Jalan masuk sepanjang sekitar 1 km dari pertigaan Jalan Selatan-selatan Jateng menuju kawasan pantai itu kini tengah diaspal. Adapun 200 rumah tipe 24 dari batako dan papan, juga baru sebagian yang telah berdiri dan siap huni. Sedangkan lingkungan permukiman di kompleks relokasi itu di atas tanah berpasir yang dekat dengan pantai selatan. Baru ada satu dua sumur dan sejumlah rumah. Banyak pihak mengkhawatirkan keamanan di relokasi eksodan, termasuk Kapolres Kebumen AKBP Drs Prasta Wahyu Hidayat SH maupun Komisi E DPRD saat mereka meninjau ke relokasi itu. Mengingat lokasinya terlalu jauh dari permukiman penduduk. Daerah itu masih sepi, serta lahan berpasir di sana sulit ditanami tanaman pertanian. Proyek di atas tanah negara itu didanai Pusat dan Provinsi, didukung Pemkab Kebumen. Bupati Dra Rustriningsih MSi semula menargetkan Oktober ini sudah bisa diresmikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Awalnya relokasi itu hanya untuk 100 KK, namun Provinsi Jateng menyetujui menambah 100 KK lagi. Ubah Kultur Secara terpisah, Kepala Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kebumen Drs H Marzuni melalui Kasi Transmigrasi Sutarno SH mengemukakan, untuk tahap awal 200 KK itu menerima rumah tipe 24 dan pekarangan seluas 200 m2. Saat ini dari 200 KK calon penghuni sudah diundi dan telah terisi semua. Mereka semua warga Kebumen yang pulang dari daerah Aceh, Kalteng, Kalbar, Maluku, serta ditambah 30 KK warga setempat. Di sisi lain, mengingat lahan di sana berpasir dan tidak mungkin untuk usaha pertanian, menurut Sutarno, mau tidak mau para penghuni harus bisa mengubah kultur petani ke industri kecil. Misalnya dengan usaha gula merah, minyak kelapa, atau usaha terasi dari udang. Dia menjelaskan, saat ini sudah diadakan pelatihan bagi 40 jiwa untuk industri kecil tersebut. Tentu saja masih terbuka peluang usaha dari sektor lain seperti perikanan, nelayan, dan pertanian lahan kering. Menurut Sutarno, untuk tahap awal 200 KK eksodan itu memang hanya menerima pekarangan 200 m2. Namun Bupati telah menyiapkan lahan sekitar 6,4 hektare tanah negara di sebelah barat dan selatan relokasi tersebut. Menurut keterangan, 200 rumah itu tipe 24 dengan nilai bangunan Rp 7,5 juta/rumah. Bangunan lantai dari semen, dinding separo batako dan separo papan, serta atap genting. Di permukiman itu disiapkan pula sumur dan jalan lingkungan.(B3-74) |