logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Jawa Tengah  
Line

Mereka Ronda Air Tiap Malam...

BELUM ada sejengkal pun sawah di Kecamatan Undaan yang ditanami. Sampai kemarin kalaupun ada petani beraktivitas, baru menebar benih serta mengolah lahan. Itu pun lahan yang diolah diperkirakan tak lebih dari 10% dari keseluruhan sawah 5.200 ha di Undaan.

Itulah yang dialami Achmad Sudir. Mantan Ketua P3A Desa Undaan Lor ini dalam penantian mengolah lahan menyewa sekotak sawah di dekat saluran sekunder. Sekotak sawah itu dia tebari benih sejak minggu lalu.

"Saya menyewa sekotak untuk pembenihan dengan 7 kuintal gabah (setiap kuintal berkisar Rp 100.000-Red). Kalau termasuk biaya garap, habis Rp 1,5 juta."

Dia berharap 25 hari lagi bisa mencabut bibit padi siap tanam. "Jadi pas bibit siap tanam, sawah kami yang berjarak sekitar 750 m dari saluran sekunder sudah bisa mendapat air," cetus dia.

Dia perlu memperhitungkan waktu sebab sebagian besar dari 3 ha sawah yang dia garap adalah lahan sewa. "Makin awal tanam molor, kerugian kami kian banyak," kata dia. Sesuai dengan jadwal, semestinya masa tanam 1 sejak 1 September.

Namun masa tanam I yang diundur menjadi per 1 Oktober karena Waduk Kedungombo kritis tetap tak bisa diwujudkan. Baru sebagian petani pada pertengahan Oktober bisa mulai menyiapkan lahan.

Agar Teratur

Penjelasan tokoh petani itu mengenai kemunduran tandur sangat beralasan. Sebab, kemarin petani yang mulai menebar benih atau mengolah lahan baru puluhan orang.

Mayoritas lahan masih gersang. Bonggol jerami sisa tanam musim panen lalu masih tertancap di tanah. Satu-dua traktor pengganti kerbau atau sapi penarik bajak digunakan mengolah lahan dekat saluran sekunder.

Seorang perempuan mencabuti bonggol jerami bekas panen di sawah. Tanah sawah yang mengembur karena sudah tiga hari basah membuat tangkai padi cukup mudah dicabut.

Sudir menuturkan pengaliran air dari saluran sekunder hingga masuk lahan yang paling jauh lewat pintu sadap saluran tersier sesuai dengan kebutuhan bisa mencapai tiga pekan. "Itu pun dengan catatan, tidak ada pihak yang mencuri air atau pembagian air dilakukan secara merata."

Karena itu agar air terbagi merata dan tak ada pencurian, setiap malam petani bergiliran piket di sepanjang saluran sekunder di kampung masing-masing. "Terutama agar benih yang ditebar bisa tumbuh karena tak kekurangan air," ujar dia. (Prayitno-78g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA