
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Jawa Tengah |
Selingkuh JabatanSELINGKUH, kata kemenakan saya si Bedot, tak hanya berkait dengan hubungan lelaki-perempuan di luar nikah. Sekarang, kata dia, jabatan dan kedudukan di lembaga Pemerintah Kabupaten pun diselingkuhi. "Itu tadi kata Pak Sten lo Om. Saya baru saja bertemu beliau di warung demokrasi, alun-alun," ujar dia. Tanpa diminta dia pun "mengekor" pembicaraan orang yang disebut-sebut Pak Sten. Menurut pendapat Pak Sten, kata dia, di lembaga Pemerintah Kabupaten ada seseorang yang belum lama ini dilantik dan dipercaya oleh pemimpin menduduki jabatan asisten sekda. Sebelumnya dia kepala dinas. Logikanya, seperti biasa dan lazim dalam surat keputusan penempatan seseorang untuk menduduki suatu jabatan pasti ada lampiran bernama lampiran surat keputusan. Dalam lampiran itu disebutkan nama, tempat/tanggal lahir, pangkat dan golongan, serta jabatan lama dan baru. Dengan demikian, jika seseorang ditetapkan menduduki jabatan baru, otomatis meninggalkan jabatan lama. Dengan kata lain, pejabat itu tak boleh lagi mengurusi urusan dinas sebelumnya, kecuali ada kebijakan dari pemimpin. Misalnya, dia mendapat mandat resmi atau sebut saja surat keputusan penunjukan sebagai yang menjalankan tugas (YMT) di dinas itu. Tetapi kenyataannya asisten sekda itu masih menandatangani undangan untuk urusan dinas. Sebenarnya bukan itu persoalannya, melainkan siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas dinas tersebut? Siapa yang selama ini bertanggung jawab atas anggaran dinas yang dikeluarkan setiap bulan? Kesimpulan Untuk memancing reaksi si Bedot, saya bertanya. "Kalau begitu menurut pendapatmu bagaimana?" Kalau kondisinya seperti itu, tegas dia, "Saya sependapat dengan Pak Sten bahwa asisten sekda itu diam-diam telah menyelingkuhi jabatan dinas yang pernah dipegang." Namun, kata dia buru-buru, kita tak bisa memvonis seperti itu. Sebab, siapa tahu ada kebijakan tak tertulis dari pemimpin yang memberikan peluang agar asisten sekda itu tetap memegang jabatan rangkap. Jika benar, kesimpulannya manajemen Pemerintah Kabupaten sekarang tak beda dari manajemen tukang cukur. Sebab, apa yang terjadi telah menciptakan satu peluang dan kesempatan bagi orang-orang tertentu dengan terang-terangan mengabaikan mekanisme. Jika dikaji lebih cermat hal itu akibat kekurangpemahaman terhadap tugas pokok dan fungsi. Padahal, dalam lembaga Pemerintah Kabupaten ada pemimpin dan wakil pemimpin tertinggi. Dengan demikian, tanggung jawab menyangkut tugas mengoordinasi badan, dinas, dan kantor ada pada wakil pemimpin Pemerintah Kabupaten. "Coba Om pikir, di lembaga itu selain ada sekda, asisten, kepala bagian, juga ada kantor, dinas, dan badan. Tugas mengoordinasi jelas ada pada wakil pemimpin Pemerintah Kabupaten. Dengan kata lain, seorang wakil pemimpin lembaga di Pemerintah Kabupaten berhak mutlak mengetahui seberapa jauh kinerja lembaga-lembaga itu melalui koordinasi. Untuk memudahkan tugas itu, wakil pemimpin tersebut bisa menanyakan segala sesuatunya melalui sekda." ***** Mendengar komentar si Bedot, saya membenarkan dalam hati. Sebab, jujur saja, kalau menyangkut urusan kedudukan dan jabatan, kebanyakan orang bisa menggunakan cara dan gaya apa saja, termasuk menggunakan jasa alternatif "orang pintar" agar pemimpin menaruh simpati dan perhatian lebih. Karena itu, tak mengherankan jika melakukan pendekatan khusus, seperti sowan (menghadap) dan memberikan glondhong pengareng-areng adalah hal lumrah menurut pemikiran mereka. Akibatnya, kolusi selamanya tetap tumbuh subur. Namun, untuk mencapai semua itu, ada yang lebih memprihatinkan. Yakni, kemunculan kebiasaan yang mengabaikan mekanisme. Agar lebih dekat dengan atasan, salah satu cara yang ditempuh adalah harus berani sluman-slumun, tak peduli hal itu harus dilakukan melebihi tugas dan wewenang. Dengan cara itu di lembaga Pemerintah Kabupaten, yang bangga dengan slogan Bumi Mina Tani, soal asisten atau kepala bagian sedikit-sedikit langsung "melambung" ke pemimpin dianggap biasa. Padahal, seorang asisten sekda seharusnya mempertanggungjawabkan tugas ke sekda. "Jika cara itu terus-menerus dilakukan, akan jadi apa daerah ini?" gumam saya tanpa sadar. Namun tiba-tiba si Bedot menceletuk, "Mengapa ikut-ikutan mikir, Om? Bukankah semua itu sudah ada yang bertanggung jawab?" "Benar Dot. Bodoh amat."(Alman Eko Darmo-58g) |