
| Rabu, 16 Oktober 2002 | Budaya |
Kisah Si Pencari Laki-laki BernyaliKALAU Anda bertemu Lastri, atau tepatnya Nyi Sulastri, dan Anda terpikat pada kemolekannya, pikir-pikirlah dahulu sebelum menyatakan cinta dan berkehendak memperistrinya. Sebab, perempuan itu akan bertanya, ''Apa Anda lelaki yang bernyali? Jangan-jangan untuk menutupi kekerdilan nyali Anda, maka perempuan macam saya yang lalu Anda tindas. Tidak! Jangan mengira semua perempuan tidak berdaya.'' Tak perlu khawatir dahulu. Perempuan bernama Sulastri itu, hanya sosok fiktif dalam lakon drama karya St Wiyono berjudul ''Nyi Sulastri''. Lakon yang banal milik tokoh teater dan ketoprak Solo itu, digarap pula secara banal dan bersahaja oleh sutradara Gigok Anuraga dari Teater Lentera Alam Solo. Di panggung Teater Arena TBS Solo 10/10 lalu, sosok Sulastri ditahbiskan sebagai perempuan perkasa yang mampu keluar dari jeratan kaum lelaki. Agaknya demi memunculkan sosok seperti itu, sutradara atau penulis lakon menderaskan banyak dialog yang mirip kotbah LSM pemerjuang keperempuanan. Dari segi cerita, kisah bergulir begitu sederhana. Bahkan, ada sementara penonton yang menyebutnya bergaya sinetron remaja yang linear. Dan semacam apologia atau pemerjelas pementasan, Gigok, si sutradara harus berbicara pada penonton sebelum pementasan. ''Ini hanya pentas sederhana, berlakon sederhana, dan dimainkan oleh pemain sederhana. Bukan aktor dan aktris hebat,'' katanya. Kisahnya berawal dari nasib buruk Nyi Sulastri. Ia anak perempuan yang mendapat sebutan ''pelacur'' di kampungnya; dan lahir dengan nasib buruk. Wajahnya tak secantik sang ibu. Begitu beranjak dewasa, dia hanya jadi objek penindasan kaum pria. Lalu dia berontak, dan keluar dari lingkungannya. Juga dari Larno, suaminya, yang dianggapnya tak punya nyali. Di kota, dia menjadi perempuan karir yang sukses. Tapi, dia begitu membenci lelaki. Berjenis-jenis pria yang berusaha memikat hatinya, hanya dilirik dengan sebelah mata. Tak seorang pun bisa, sebab Lastri menikmati kebebasannya sebagai perempuan yang berdaya. Hingga, datanglah Larno, menyusulnya. Laki-laki itu membawa cinta untuk Lastri, sesuatu yang tak pernah dijumpai perempuan tersebut di kota. Tapi, Lastri menolaknya. Katanya, ''Ternyata kau masih sama sebelum kutinggalkan. Kau tak punya nyali, Larno!'' Tendesius Secara umum, lakon yang digelar itu sangat tendesius. Isinya lebih mirip wacana para pejuang feminisme. Bahkan, di akhir adegan, tokoh Lastri ''dipaksa'' berkotbah banyak-banyak mengenai sosok perempuan yang berdaya. Apakah pementasan itu memang pesanan salah satu LSM pemberdayaan perempuan, seperti dibisikkan beberapa penonton? Pesanan atau tidak, itu tidak penting. Tapi yang pasti, plot cerita yang lurus, hampir tanpa suspensi, menjadikan permainan seperti lesu darah. Walaupun, pada adegan-adegan tertentu penonton juga sempat tertawa. Untungnya, keaktoran St Wiyono yang berperan sebagai seorang kakek memang cukup bagus dalam soal artikulasi dan akting. Walaupun sebenarnya dia tak mampu keluar banyak dari pola berakting ketopraknya. Akting Rias yang berperan sebagai Sulastri, juga sangat memikat. Dia bahkan mampu memerankan sekian peran dalam dialog-dialognya. Tapi efeknya, dia seperti sedang bermonolog di panggung. Apalagi -dan itu tanggung jawab penulis lakon- pilihan bahasa yang harus diucapkan tokoh Lastri, juga sangat berbeda; tak selugas dialog pemain lain. (Saroni Asikin-41) |