logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 16 Oktober 2002 Budaya  
Line

Gantungan untuk Rakyat

DIALOG, gerak. Benda-benda di panggung, juga tubuh. Hm..., betapa sebenarnya begitu kuasanya ''mereka'' sebagai tanda dan simbol.

Maka, jika Sabtu (12/10) malam lalu Teater Lingkar Semarang -lewat lakon Rajakaya- berhasil membuat miniatur tentang keserakahan ke dalam pementasannya, tak lain karena para pemain mampu mengubah gerak dan dialog, juga benda-benda itu, sebagai semiotik.

Ya! Pementasan yang digarap Maston Lingkar itu, sebenarnya tidak saja memotret fenomena keserakahan, tapi juga sekaligus penistaan dan penghancuran yang dilakukan para orang kaya atas wong cilik (rakyat jelata).

Jika ditarik ke dalam tataran yang lebih luas, Rajakaya yang dipentaskan di Laboratorium Kebudayaan Lengkong Cilik Semarang itu bisa jadi juga sebuah lakon yang bercerita tentang orang-orang kecil, yang pada akhirnya selalu hanya menjadi ''pelengkap penderita'', menjadi korban, demi keberlangsungan sebuah hegemoni.

Bahkan sebagai judul lakon, raja kaya sebenarnya lebih dulu hadir sebagai sebuah simbol. Paling tidak, dari pemahaman atas idiom itu, yang ternyata bukan lagi sebagai ''orang yang memiliki banyak ternak'', melainkan sebagai ''orang yang kaya raya''.

Tapi sudahlah. Seberapa penting makna sebuah judul, jika apa pun title yang disandangkan pada lakon malam itu -misalnya diganti dengan rajapati- toh tetap enak dinikmati?

Ya, enak dinikmati; juga ditonton. Dibuka dengan tokoh Sugih Mblegedu (sesekali berperan sebagai pendeta Durna), dan empat buta (raksasa) -Buta Ijo, Buta Cakil, dan Buta Bindeng-, cerita mengalir lincah dalam kemasan komedi yang nyampak.

Dialog Kuat

Memasuki panggung, mereka berteriak, ''Ayo dienteki..ayo dienteki.'' Kekuatan pentas Lingkar malam itu, barangkali terletak pada dialog para aktor yang berkesan tak dibuat-buat. Mereka juga tak terlihat ingin sekadar ndagel, atau ingin tampil paling lucu, misalnya.

Berbeda dengan dagelan Srimulat, untuk menciptakan segala kelucuan itu -setidaknya menurut Maston- para pemain tetap taat pada naskah. Maka, jika penonton mengira komedi lahir dari improvisasi, mereka telah terjebak.

Ya, ya! Lewat lima tokoh utama yang semuanya kaya itulah, fenomena ketamakan mulai dibidik. Satire keserakahan muncul, ketika tokoh Sugih Mblegedu ingin menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk orang miskin.

Mendengar keinginan itu, para buta berjalan setengah merangkak. Konon, itulah gerak yang menyimbolkan sifat kebinatangan. Namun ketika tokoh Sugih Mblegedu menjelaskan bahwa sumbangan tersebut sebenarnya hanya sebagai taktik untuk menjebak para jelata, para buta berubah sumringah.

''Ha..ha.., mereka tidak tahu. Begitu menerima sumbangan, orang-orang itu akan segera kita gantung! Kita enteki (habisi)!''

Ending lakon itu pun, berjalan seperti kata tokoh Sugih Mblegedu. Para kere (kaum duafa) menerima bantuan, sumbangan, lalu digiring menuju tali gantungan. Mati? Mungkin tidak. Namun sudah pasti, wong cilik itu akan tercekik.

Agaknya, pencekikan (lewat tali) para penguasa atas para jelata seperti itulah, moral yang ingin disampaikan Rajakaya. Dan itu, sebuah tanda lagi, simbol lagi. Tentu saja, kelicikan dan ketamakan bukan tema baru. Namun, pentas Teater Lingkar malam itu setidaknya bisa disejajarkan dengan lakon Kamasutra, sedikit dari pentas-pentas Lingkar sebelumnya, yang bisa dinikmati.(Ganug Nugroho Adi-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA