logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 11 Oktober 2002 Sala  
Line

Bersih Kubur dan Nyekar Bulan Ruwah

PADA almanak Jawa, 1 Ruwah tahun Dal 1935 atau 1 Syaban 1423 H jatuh pada Selasa Pahing (8/10). Bagi masyarakat Jawa, bulan Ruwah sering ditandai penyelenggaraan ritual bersih kubur dan nyekar leluhur.

Tradisi bersih kubur ditandai kegiatan gotong-royong masyarakat untuk membersihkan makam. Paimin (50), warga Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri Kota mengatakan, kegiatan itu dilakukan pada awal Ruwah agar makam bersih untuk menyambut kunjungan para penziarah yang nyekar ke kuburan leluhur.

''Biasanya banyak yang nyekar ke makam pada bulan Ruwah,'' katanya.

Tradisi bersih kubur dan nyekar pada bulan Ruwah telah berlangsung secara turun-temurun.

Yang diingat oleh Mbok Tumiyem (60), warga dari Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Ruwah biasanya ditandai melonjaknya harga bunga tabur. ''Bakul bunga musiman pun ada di mana-mana.''

Pada masyarakat Jawa, nyekar ditradisikan setiap Ruwah. Ada yang pantang melakukannya pada bulan Puasa. Kalaupun pada bulan itu ada kegiatan ziarah, mereka menamakan tilik kubur dan baru dapat dilakukan pada hari-hari terakhir Ramadan.

Bagi sebagian ulama, ziarah kubur untuk mengingatkan manusia yang masih hidup bahwa pada akhirnya akan memasuki alam kubur, sebagaimana yang telah dialami para leluhur.

Mendoakan Arwah

Ziarah ke kubur bukan untuk meminta pada roh leluhur yang diziarahi. Ziarah lebih ditekankan untuk mendoakan arwah leluhur agar yang telah meninggal diampuni kesalahannya dan diberi anugerah untuk dapat diterima kembali di sisi-Nya.

Trah (dinasti) Puspayan, misalnya, telah ziarah kubur pada bulan Ruwah ke makam leluhur, yakni Bupati Gunung Wonogiri pertama Joso Sudarso di makam Nguntoronadi.

Keluarga besar Puspayan dipimpin Warsito Puspoyo dan Wijanarko Puspoyo MA, keduanya anggota MPR dan Kepala Bulog.

Di Wonogiri, mereka juga bersilaturahmi dengan Bupati H Begug Poernomosidi SH dan menyumbangkan 100 tangki air bagi masyarakat Wonogiri selatan yang mengalami kekeringan.

Terlepas dari ritual bersih kubur dan ziarah paa bulan Ruwah, Sultan Hamengku Buwono X dari Keraton Yogyakarta juga memilih awal Ruwah untuk melakukan labuhan ageng tahun Dal ke Kahyangan Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri.

Di petilasan pertapaan Panembahan Senopati (pendiri dinasti Mataram Islam) itu dilakukan labuhan yang dipimpin juru kunci Kahyangan Mas Ngabehi Surakso Budaya, juga dipersembahkan aneka sesaji untuk Danyang Widyanangga. (Bambang Pur-70c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA