logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 7 Oktober 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Cikal Bakal Pasar di Bawah Pohon Johar

SEJAK dulu kawasan alun-alun di Semarang menjadi pusat kegiatan warga. Kawasan itu juga pusat pemerintahan Kadipaten Semarang. Menilik sejarahnya, kawasan alun-alun tak lepas dari keberadaan Kali Semarang.

Sungai yang biasa disebut Kali Berok itu dulu salah satu jalur transportasi penting. Kali yang kini dangkal dan berair hijau kehitaman ini semula dapat dilalui perahu.

Untuk memberi jalan pada perahu yang lewat, Jembatan Berok bisa dinaikturunkan. Dengan demikian para pendatang yang akan menuju ke Kadipaten Semarang atau Masjid Besar Kauman bisa menambatkan perahu di tepi Kali Semarang dan berjalan kaki melintasi alun-alun.

Keberadaan alun-alun sebenarnya tak terlalu jelas. Dalam grand design yang dibuat Bappeda tahun 2001 disebutkan, berdasar peta rencana kota yang dibuat tahun 1695 digambarkan Kadipaten Semarang berada di lokasi yang sekarang menjadi Kampung Melayu. Alun-alun digambarkan di bagian tenggara Dalem Kadipaten. Tempat itu digambarkan sebagai pelataran terbuka dengan deretan pohon di tepian.

Namun peta yang dibuat tahun 1719 menggambarkan, alun-alun berada di sebelah timur kadipaten. Diperkirakan posisinya saat itu berada di lokasi yang saat ini menjadi Kampung Sumeneban. Di sebelah barat ada Jalan Pedamaran, di selatan Jalan Gang Warung, dan timur berbatasan dengan Kali Semarang.

Berdasar peta buatan tahun 1741-1743, alun-alun masih berbentuk setengah elips. Namun berdasar peta rencana kota yang dibuat sekitar tahun 1800, kawasan itu berubah menyerupai layang-layang.

Dengan batas di bagian baratlaut Jalan Bodjong (Jalan Pemuda), timurlaut jalan penghubung antara Jembatan Berok dan Jalan Pedamaran, selatan kompleks dalem kadipaten, dan di baratdaya Masjid Kauman.

Setelah tahun 1934 alun-alun digambarkan secara jelas dibatasi Jalan Alun-alun Utara, Jalan Alun-alun Tengah (sekarang Jalan Agus Salim), Jalan Alun-alun Barat, Jalan Alun-alun Timur, dan Jalan Alun-alun Selatan.

Masjid Kauman

Amen Budiman dalam buku Semarang Sepanjang Jalan Kenangan menulis, berdasar sebuah peta kuno yang dibuat tahun 1695, Masjid Besar Kauman belum berada di mulut Jalan Kauman.

Dia memperkirakan masjid itu berada di tepi Kali Semarang di Pedamaran. Perpindahan masjid ke mulut Jalan Kauman, menurut pendapat dia, berkait dengan perang Semarang tahun 1742.

Karena perang besar itu, masjid terbakar. Baru pada tahun 1867 usaha membangun masjid kembali dilakukan. Namun usaha itu sia-sia, karena 10 April 1883 masjid itu terbakar lagi. Masjid itu baru bisa dibangun lagi pada 23 April 1889.

Dengan dukungan Asisten Residen Semarang GI Blume dan Bupati Semarang R Tumenggung Cokrodipuro, pembangunan masjid besar itu rampung 23 November 1890. Arsitek yang menangani proyek itu Ir GA Gambier.

Pohon Johar

Kemunculan Pasar Johar, seperti ditulis dalam buku itu, diperkirakan tahun 1800-an. Nama Pasar Johar kemungkinan diambil dari nama pohon johar yang tumbuh pada pertengahan abad ke-19.

''Pohon itu menjadi tempat bernaung orang-orang yang hendak membesuk saudara atau kawan yang dihukum di gedung penjara, tidak jauh dari alun-alun sebelah timur.''

Banyak orang berteduh di tempat itu menarik minat pedagang makanan. Tahun 1865 di areal itu ada 240 buah tempat dasaran.

Kini pedagang kian banyak. Bahkan setelah Pasar Yaik dan Kanjengan dibangun, mereka meluber ke jalan-jalan di sekitar pasar.

Jika pertumbuhan pedagang tidak dikendalikan, bukan mustahil mereka juga menempati sisa kawasan alun-alun di depan Masjid Besar Kauman.

Akibatnya, keberadaan kawasan itu hilang. Keinginan menjaga eksistensi kawasan inilah yang menjadi salah satu latar belakang revitalisasi.(71g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA