
| Kamis, 3 Oktober 2002 | Tajuk Rencana |
Kita Redam Riak-riak Isu Terorisme-- Mulai muncul riak-riak yang memprihatinkan sekitar isu terorisme internasional yang belakangan menjadi bahan polemik di negeri ini. Ulama terkenal Abu Bakar Ba'asyir mengaku malas menanggapi pernyataan mantan presiden Abdurahman Wahid yang menyebutnya teroris. Dia cuma menganggap Gus Dur kurang sehat dan tidak ada komentar lebih lanjut. Kita berharap, ungkapan tersebut memang cuma sebatas itu serta tidak perlu diperpanjang. Masalahnya sangat rawan. Saling komentar, misalnya dengan adu argumentasi dan menuntut bukti, bakal sangat tidak menguntungkan tidak hanya bagi kedua tokoh muslim terkemuka itu saja, melainkan juga kepentingan umat Islam dan bahkan bangsa ini secara keseluruhan. -- Pernyataan Gus Dur sebelumnya di depan Dubes AS Ralph L Boyce di Jakarta rasanya akan lebih bijak pula bila tidak dipertentangkan dan diperpanjang. Gus Dur ketika menerima Dubes AS di Kantor PB NU Jakarta Senin lalu mengemukakan, Amirul Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Baasyir adalah teroris domestik. Pendapat senada juga ditujukan kepada dua tokoh muda, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq dan Panglima Laskar Jihad Ja'far Umar Thalib. Abu Bakar adalah ulama yang oleh AS disebut-sebut memiliki kaitan dengan Al Qaedah dan Umar Al-Faruk. Al-Faruk disebut-sebut sebagai tokoh penting Al Qaedah untuk kawasan Asia. Mantan presiden Gus Dur menyatakan mempunyai bukti-bukti tentang tiga tokoh tersebut sebagai teroris domestik. -- Kita tahu, kedua tokoh tersebut ulama-ulama besar yang ucapannya selalu menjadi pusat perhatian masyarakat. Tidak hanya para pengikut mereka yang berjumlah besar, tetapi juga bangsa ini yang sedang sangat prihatin mengikuti isu-isu terorisme internasional. Apakah benar tiga tokoh tersebut tergolong teroris domestik, ataukah malah benar terkait dalam jaringan Al Qaedah, kedua-duanya sama membuat kita tidak tenang. Meskipun kita juga tak begitu saja percaya terhadap isu-isu tersebut. Andaikata kedua tokoh itu, Gus Dur dan Abu Bakar Baasyir, sampai terhanyut dalam polemik dapat berdampak buruk tak hanya bagi citra kedua ulama besar itu saja tetapi juga terhadap umat Islam di negeri ini. Sayang jika kita ribut sendiri. -- Kita dibuat kurang tenang, setidak-tidaknya menjadi tidak nyaman, oleh perkembangan isu-isu tersebut. Ada keraguan apakah isu itu benar atau salah. Sebab, sejak isu itu mencuat hampir satu tahun lalu setelah AS mengobrak-abrik pusat-pusat latihan Al Qaedah di Afghan, terus berkembang cepat. Ketika Singapura menangkap sekelompok orang yang disebut-sebut sebagai teroris dari Indonesia yang hendak mengebom objek-objek AS di negara pulau itu, isu tersebut seolah-olah begitu nyata. Apalagi ketika Kualalumpur kemudian menyebut-nyebut kelompok Mujahidin terlibat jaringan Al Qaedah yang antara lain juga terkait dengan Abu Bakar Baasyir yang sering berdakwah di negara itu. Apalagi ulama itu adalah Presiden MMI. -- Namun tim Polri yang dikirim ke Singapura tidak memperoleh bukti-bukti nyata tuduhan teroris yang semula dilontarkan oleh Menteri Senior Lee Kuan Yew itu. Abu Bakar Baasyir yang merasa bukan teroris, pada waktu itu akan mengajukan gugatan terhadap mantan perdana menteri negeri jiran tersebut. Akan tetapi masalahnya kemudian tidak berkembang. Kali ini, ulama tersebut ganti akan menggugat majalah Time, penerbitan yang kali pertama menyiarkan tuduhan tuduhan tentang Baasyir sebagai anggota jaringan Al Qaedah yang disebutkan bersumber kepada pengakuan Umar Al-Faruk. Majalah Time menyebutkan masalah itu semua bersumber kepada dokumen CIA. Gugatan itu berjalan atau tidak, atau akan ada klarifikasi atau tidak, akan melingkar-lingkar panjang. -- Kita berharap pernyataan Menko Polkam meminta akses kepada AS untuk memperoleh keterangan dari Umar Al-Faruk jangan hanya konsumsi politis. Umar Al-Faruk, kendati ditangkap di daerah Bogor, belum jelas benar sosoknya. Bahkan kewarganegaraannya pun masih meragukan. Dari sana barangkali akan diperoleh sisik melik persoalan-persoalan yang berkaitan dengan tuduhan ada jaringan Al Qaedah di negeri ini. Sementara itu, kita sebaiknya menunggu klarifikasi itu dengan sabar. Tidak malah saling tuduh dan melemparkan pernyataan yang belum jelas dasarnya. Isu-isu terorisme telah berdampak buruk di bidang ekonomi. Di Jateng misalnya, investasi asing turun dratis ekspor sangat merosot. Ribut sendiri semakin memperburuk situasi yang sudah sangat sulit. |