
| Kamis, 3 Oktober 2002 | Sala |
TERASPelajar Keluyuran Rawan Kenakalan
WONOGIRI- Kenakalan remaja awalnya lantaran pelajar keluyuran pada jam-jam efektif sekolah. Jika tak dikendalikan, itu dapat tumbuh menjadi problem masyarakat, memicu kerusuhan, dan memunculkan kasus kejahatan serta tindakan kriminal. Berkaitan dengan hal itu, Badan Koordinasi Pembinaan Anak Remaja (Bakopar) Wonogiri yang di dalamnya melibatkan unsur Polres, Kantor Kesatuan Bangsa Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas), Diknas, Pemkab, Dinso, belakangan giat men-sweeping pelajar. Hasilnya, tahap pertama dapat merazia 94 pelajar yang keluyuran. Tahap kedua, selang dua pekan berikutnya menangkap lagi 33 siswa. Belakangan, Polres juga menggagalkan insiden tawuran pelajar Wonogiri yang nglurug ke SMU Kecamatan Slogohimo. Dalam operasi tersebut, ditangkap 16 murid yang mengaku pelajar SMK PGRI 2 dan SMK Pancasila 1 Wonogiri. Sehubungan dengan kenakalan pelajar, Suara Merdeka mewawancarai Ketua Bakopar Wonogiri Drs Sudarno yang juga Kepala Kantor Kesbanglinmas Wonogiri. Begitu seriuskah gejala kenakalan remaja Wonogiri? Jika dikatakan serius, saya kira juga belum. Tapi bila gejala awal ini tak dicermati dan diantisipasi secara dini, kiranya kelak dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diharapkan oleh semua pihak. Yang tidak saja dapat merugikan para pelajar, tetapi juga orang tua murid dan bangsa yang sebenarnya sangat mengharap peranan mereka untuk menjadi generasi penerus. Dampak negatif, maksudnya? Bukankah perbuatan mereka yang keluyuran pada jam-jam efektif bersekolah itu telah menimbulkan dampak negatif. Mereka berangkat dari rumah pamit pada orang tuanya untuk belajar ke sekolah. Tidak tahunya, ketika telah berada di sekolah malah bolos untuk keluyuran. Padahal saat keluyuran, ada-ada saja ulah negatif yang dilakukan. Mereka ada yang merokok dan minum minuman keras secara bersama-sama sebagaimana dirazia di Stadion Pringgondani. Bukankah itu negatif? Bagaimana jika itu dibiarkan dan semakin berkembang? Habislah sudah kelak generasi muda sebagai harapan bangsa. Lalu sebaiknya bagaimana? Tolong guru di sekolah mendisiplinkan muridnya. Orang tua pun hendaknya memperketat pengawasan. Pelajar pun harus bertindak sesuai dengan darmanya. Artinya, ketika sebagai murid rajinlah belajar menuntut ilmu demi bekal menyongsong hari depan. Jangan terpengaruh hal-hal yang sebenarnya bukan menjadi dunia murid. Dunia murid adalah bersekolah dan belajar, bukan keluyuran, tawuran, serta mabuk minuman keras.(Bambang Pur-70j) | |||||