
| Kamis, 3 Oktober 2002 | Sala |
Artis Solo Tak Maju sebab Rumangsa Bisa
PADA era 1970-an banyak musikus dan artis Solo mampu menembus blantika musik dan rekaman di Ibu Kota. Sebut saja antara lain band Trencem, Yap Brathers, Favorit's, penyanyi Tanti Yosepha, Waljinah, dan Titik Sandora. Namun era 2000-an ini agaknya kemampuan para musikus Solo seakan tenggelam, tak mampu berbicara di tingkat nasional. Kenyataan demikian memprihatinkan Gendon Murdiyanto (56), pelawak Solo yang sudah malang melintang di dunia artis sejak 1970-an. Di matanya, kemampuan musikus dan artis Solo sebenarnya bisa diandalkan. ''Sayang, mereka itu lebih rumangsa bisa.'' Gendon adalah sosok seniman serbabisa. Berangkat dari dunia lawak yang digeluti sejak SD, kini dia membuka usaha kafe. Dengan penampilannya yang kurus tinggi dan rambut panjang, selain melawak dia juga bisa menyanyi dan menjadi MC. Pernah bergabung dengan kelompok pelawak yang kini bisa hidup di Jakarta dan Surabaya. Pernah juga dipercaya Teguh, bos Srimulat, menjadi sutradara. Salah satu karyanya lakon ''Istri Setia'' yang melambungkan Gepeng lewat idiom ''Untung Ada Saya''. Dia menilai, ada jurang pemisah antara seniman yunior dan senior. Yang muda tidak mau belajar dari senior, sebaliknya yang senior tidak mau menuntun yang muda. Modal Nekat ''Hanya yunior nekat yang berhasil di Ibu Kota dan berani merangkak dari bawah serta menerima kenyataan hidup yang pahit. Tapi bila berangkat dari Solo sudah rumangsa bisa, ketika di Jakarta akan jatuh lantaran kagok menghadapi pergulatan hidup yang sengit.'' Kekurangberhasilan artis Solo hidup di Jakarta dan di dunia rekaman, jelasnya, karena tidak ada yang mengangkat. Peran sponsor menjadi kendala. ''Mengapa Anda juga kembali ke Solo?'' ''Prinsip hidup saya itu tenang dan senang. Berbagai pengalaman hidup di dunia artis sudah saya jalani. Dan ketika kembali ke Solo, saya bisa bekerja apa saja termasuk tukang nyapu sampai bartender di pub.'' Pada saat bekerja di pub dan restoran itulah muncul keinginannya membuka usaha serupa. Kemudian di Jalan Bayangkara, tepatnya depan Stadion Sriwedari, ayah lima anak itu membuka Kafe Sanex. Kok sama dengan produk motor, apa sponsornya? ''Memang sponsornya motor Sanex. Tanah ini dipinjami pengusaha bengkel mobil. Saya bondhone hanya tekad. Motor dan mobil saja dipinjami kok.'' Meskipun sudah mengelola kafe, Gendon tidak meninggalkan profesi awal sebagai pelawak, penyanyi, dan MC. (Sri Wahjoedi-51) | |||||