logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 3 Oktober 2002 Sala  
Line

Sepuluh Waduk di Jateng Kering Kerontang

  • Disiapkan Hujan Buatan

SOLO- Sejumlah waduk di Jawa Tengah, pada masa kemarau tahun ini terancam kering total. Dari 34 waduk di daerah itu, 14 kondisinya kini kering kerontang dan 10 dalam kondisi kritis.

Sepuluh sisanya meski masih berair tapi tidak mampu digunakan untuk irigasi. Demikian diungkapkan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Dr Ir Soenarno Dipl HE kepada wartawan, seusai meresmikan Proyek Sanitasi Kota Surakarta di Solo, kemarin.

''Dibanding sejumlah wilayah lain di Indonesia, kondisi kekeringan di Jateng merupakan yang terparah,'' tegasnya.

Karena itu, lanjut dia, pemerintah berusaha sekuat tenaga untuk mengeliminasi dampak yang ditimbulkan dari musim kemarau ini. ''Untuk mengatasi kekeringan, sejumlah resevoar akan digunakan semaksimal mungkin. Kita tahu bahwa dari 165 waduk yang ada Indonesia, 34 buah berada di Jateng. Tapi kondisi airnya mulai kritis,'' jelas dia.

Untuk itu, menurutnya, konsentrasi pemerintah saat ini lebih difokuskan pada ketersediaan air bersih. Dalam kondisi air yang terbatas, pemerintah tetap wajib memprioritaskan ketersediaan air minum bagi masyarakat.

Sementara kebutuhan air untuk irigasi dan pembangkit listrik, bisa diperlakukan pola bergilir. ''Prioritas pembagian air itu diatur dalam undang-undang, sehingga bukan tindakan menyimpang,'' katanya.

Hujan Buatan

Bagaimana dengan upaya lain misalnya hujan buatan? Menurut Soenarno, dalam menangani kekeringan itu, sebenarnya pemerintah telah menyiapkan hujan buatan.

Namun beberapa waktu lalu, terbentur dengan kepentingan lain. Yakni munculnya protes dari para petani tembakau yang takut tanamannya rusak akibat hujan buatan. ''Tapi kali ini, saya rasa sudah lewat musim panen tembakaunya. Karena itu, hujan buatan bisa dilakukan sekarang,'' katanya.

Untuk keperluan itu, lanjutnya, pemerintah menganggarkan dana sekitar Rp 3,5 miliar.

''Biar hasilnya efektif dan tepat sasaran, lebih baik jika pelaksanaan hujan buatan itu dikoordinasikan ke daerah-daerah. Mana daerah yang lebih membutuhkan, bisa mendapat prioritas.''

Menjawab pertanyaan tentang pengaruh tertundanya bantuan IMF, Menteri mengatakan pengaruh langsung belum ada. Sebab, hal itu tidak bersinggungan dengan program yang dijalankannya.

''Saat ini, belum terasa pengaruhnya, sebab dana itu memang tidak dialokasikan untuk program kami,'' jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga belum tahu persis tentang dana tersebut, sehingga belum pernah membahasnya. ''Saya sendiri kurang tahu, karena itu tak tak memberikan tanggapan.''

Proyek IPAL yang diresmikan di Semanggi, Kecamatan Pasarkliwon itu, di bawah pengelolaan PDAM.

Menurut Direktur Utama PDAM, Abimanyu BE proyek itu merupakan salah satu kegiatan yang ditangani Program Semarang Surakarta Urban Development Project bantuan Bank Dunia Loan No IBRD 3749-IND.

IPAL itu merupakan kegiatan lanjutan pembangunan sanitasi di Solo di samping yang sudah ditangani yaitu di Mojosongo dan IPLT Putri Cempo.

''IPAL Semanggi kapasitasnya 45 liter/detik melayani 7.700 sambungan rumah (SR) atau 38.500 jiwa. Cakupannya meliputi Surakarta bagian selatan yaitu sistem Kasunanan Surakarta dan Sistem Mangkunegaran,'' katanya. (san, sri-51)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA