
| Kamis, 3 Oktober 2002 | Semarang & sekitarnya |
Dari Tes Urine Pejabat Pemkot (3-Habis)Seorang Lurah Ketahuan Pakai JokiRASA takut sejumlah pejabat Pemerintah Kota ketika dites urine masih muncul. Setelah urine dua lurah di Semarang atas ditolak karena membawa wadah sendiri, seorang lurah juga diketahui memakai joki. Bagaimana ceritanya? Sumber Suara Merdeka menuturkan lurah itu juga bukan PNS, sama seperti Bripka Ik yang tertangkap terlibat peredaran narkoba beberapa waktu lalu. Sebuah sumber mengemukakan ketika lurah itu mendapat giliran dites, setelah menerima wadah dari petugas, segera menuju ke kamar mandi ruang pertemuan Balai Kota. Di kamar mandi gedung pertemuan hanya ada seorang polisi yang setiap hari bertugas di Balai Kota. Sementara itu di kamar mandi belakang ruang staf Wali Kota dan ruang Sekda tak dijaga satu petugas pun. Di kamar mandi belakang ruang staf Wali Kota hanya ada seorang petugas wanita yang mengumpulkan wadah yang sudah terisi urine untuk diserahkan ke tim dokter RSUD dan petugas laboratorium. Nampan untuk menampung urine di ruang Sekda hanya ditempatkan di atas kursi. Setelah penuh, baru seorang petugas mengambil dan menyerahkankan ke tim dokter. Namun, kata sumber, beberapa lama kemudian seorang staf pemerintah yang mengaku menjadi joki lurah itu mengaku di hadapan tim dokter dan petugas laboratorium. Staf itu mengatakan, urine itu sebenarnya dari dia. Mendengar pengakuan itu tim dokter meminta sang lurah memberikan urinenya sendiri. Urine joki itu dibatalkan. Direktur Utama RSUD dr Abimanyu mengakui ada seorang pejabat memakai joki saat dites. Namun dia keberatan menyebut nama dan jabatannya. ''Ya, ada yang pakai joki, tapi diketahui. Maka saya minta diulang.'' (Setiawan HK-13g) |