
| Kamis, 3 Oktober 2002 | Jawa Tengah - Pantura |
Siswa SMU 2 Batang Mogok Belajar
BATANG-Ratusan siswa SMU Negeri 2 Batang kemarin melakukan aksi mogok belajar. Mereka mengeluhkan masalah pembayaran uang gedung, yang dianggap sangat memberatkan. Pada mulanya, siswa hanya bergerombol di jalan samping Balai Desa Pasekaran. Aksi mereka menarik perhatian masyarakat, karena jumlahnya semakin banyak dan tidak bergegas menuju ke sekolah. Melihat anak didiknya tidak masuk ke sekolah, beberapa guru mengambil inisiatif untuk menjemputnya. Tetapi mereka tetap bersikeras tidak mau belajar dan memilih mengadukan nasibnya ke Dinas Pendidikan di Jl Raya Baros, Matangan. Puluhan polisi dari Polsekta yang dipimpin Kaposekta Ipda Sunarto bersama Kaurpamsan Sat IPP Ipda Mashudi dan anggota yang berpakaian preman, diterjunkan untuk menenteramkan mereka. Namun, tekad siswa sudah bulat untuk menuju ke Matangan. Mereka berjalan kaki secara tertib sejauh kurang lebih 3 km. Ikut mengawal anggota Satlantas, sedangkan di belakang Kasat Shabara AKP Puji Irianto bersama anggota UPS. Kasatlantas memonitor rute yang akan dilalui. Sesampainya di Matangan mereka langsung disambut Kepala Dinas Pendidikan Drs H Abu Syairi dan staf. Ketua Majelis Permusyaratan Kelas (PMK) Kurniawan Ardianto menyampaikan keluhan para siswa. ''Kami keberatan dengan uang sumbangan BP3 yang dinaikkan dari Rp 20.000 menjadi Rp 22.500. Uang gedung untuk kelas II dan III agar ditiadakan, sedangkan untuk kelas I diturunkan.'' Pertimbangannya, untuk siswa kelas II dan III sudah. Mereka ditarik sumbangan pada waktu kelas I. Murid yang sekarang kelas III dulu sudah ditarik uang gedung Rp 75.000, sedangkan yang kelas II Rp 125.000. ''Sekarang kami yang kelas II ditarik kembali Rp 75.000, sedangkan siswa kelas III Rp 50.000 dengan diangsur tiga kali. Untuk kelas I Rp 225.000, diangsur lima kali,'' ujar Kurniawan. Kepala Dinas Drs H Abu Syairi menyatakan akan menindaklanjuti tuntutan itu dengan memanggil kepala sekolah. ''Namun yang perlu diketahui, kedatangan anak-anak itu tidak untuk demo. Hanya untuk 'kangen-kangenan' dan mengutarakan masalah. Karena itu akan kami tindaklanjuti.'' Menurut dia, urusan uang gedung dan BP3 diserahkan kepada orang tua murid dan sekolah yang bersangkutan. ''Karena itu, kami sarankan sekolah yang lain untuk hati-hati dalam mengambil keputusan masalah keuangan. Musyawarahkan dengan orang tua murid dan benar-benar harus transparan,'' papar Abu Syairi. Setelah mendapat penjelasan, siswa pulang dengan tertib. ''Kami akan menunggu hasil koordinasi sekolah,'' ujar Mita, salah seorang perwakilan. (ar-20k) |