
| Selasa, 1 Oktober 2002 | Surat Pembaca |
SE Rektor Unsoed tentang JilbabSurat Edaran Rektor Unsoed Purwokerto, yang mewajibkan mahasiswi berjilbab yang akan regristasi harus menandatangani surat pernyataan bermeterai Rp 6 ribu, bernada tendensius dan mendiskreditkan. SE tersebut tidak memberikan kebebasan beragama karena berjilbab adalah ekspresi dan refleksi keagamaan seseorang yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. SE juga bertentangan dengan semangat reformasi yang dimotori mahasiswa/ kampus dan hanya berdasar produk Orba yang mengarah pada otoriterisme . Sangat ironis jika jilbab di SLTP/ SLTA bebas tetapi di pendidikan tinggi justru tidak bernuansa/berwacana kebebasan. SE ini bertentangan dengan semangat kampus yang mandiri (baik dari pendanaan/anggaran maupun otoritas), yang memberikan service lebih kepada masyarakat untuk bersaing dan menarik konsumen. Untuk itu kami mengusulkan kepada Rektor segera membatalkan SE tersebut, memberikan kenyamanan dalam berekspresi di kampus. Rektor bukan hanya menjunjung tinggi nilai moral tetapi juga sebagai manajer dalam mencari anggaran maupun mewujudkan otoritas kampus yang mandiri. Edy Faozaeni SE At ***
Ingin Sekolah Ideal
Seorang guru sebuah SMUN di Banyumas bingung dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Pasalnya bidang studi yang diberikan di kelas 3 IPS yang seharusnya 6 jam pelajaran/seminggu, atas instruksi Kepala Sekolah dikurangi menjadi 4. Alasannya yang 2 jam pelajaran dipakai untuk menambah jam pelajaran bahasa Inggris. Dalam era desentralisasi tidak selayaknya kepala sekolah bersifat otoriter dan main instruksi. Bila bidang studi bahasa Inggris di SMUN tersebut hasilnya kurang memuaskan, tidak pada tempatnya mengorbankan studi lain. Tindakan sentralistik ini merusak pelaksanaan kurikulum dan proses belajar mengajar. Sebaiknya pimpinan sekolah beserta guru bidang studi yang bersangkutan mengadakan evaluasi guna mengambil langkah perbaikan. Dengan otonomi pendidikan berarti harus lebih memperhatikan aspirasi masyarakat yang yang mendambakan sekolah ideal atau berkualitas. Komite Sekolah dapat berperan serta meningkatkan kualitas pendidikan dalam beberapa bidang studi yang relevan. Adalah tugas Dewan Pendidikan di daerah untuk menyampaikan saran dan pertimbangan terhadap pelaksanaan kurikulum setelah diadakan penelitian meliputi aspek rancangan, sosialisasi dan sistem evaluasi. P Susilo Sastrosuwignya *** Lagi, Berkedok Menang Undian
Saya mendapat surat yang memberitahukan menjadi pemenang undian oleh PT Procter & Gamble Indonesia dan berhak mendapatkan 1 unit motor Kanzen Scudetto matic (fotokopi terlampir). Setiap pemegang wajib membayar pajak sebesar 25% dari harga hadiah kepada Dadang Bandiawan, SE sebagai Communication Manager. Saya bisa menemuinya, dan dia menganjurkan saya segera mengirimkan uang tersebut sebelum pukul 15.00, katanya karena kebetulan ada pengiriman motor ke daerah Jateng. Kejanggalan kedua, undian dilakukan tanggal 10 Juni 2002, tapi kenapa pemberitahuannya datang sangat terlambat. Saya harap pihak PT Procter & Gamble Indonesia menindaklanjuti masalah ini, dan bila ada maksud tertentu mohon pihak berwajib mengusut agar jangan sampai masyarakat menjadi korban. Yoga Pamungkas
***
Sampurna Foto Mengecewakan
Saya membawa kamera Canon Epoca saya ke Sampurna Foto, Jl Slamet Riyadi 24 Solo, untuk cuci lensa dan pekerjaan akan selesai 2 minggu (kopi terlampir). Ternyata saat dikerjakan ada kesalahan teknis yang menyebabkan kamera rusak. Mereka berjanji memperbaiki sekitar dua bulan. Tetapi sampai empat bulan, kamera belum jadi. Wajar bila saya mengeluh. Menjawab keluhan saya, 2 karyawan datang mengembalikan kamera yang mereka rusakkan, sambil membawa kamera bekas sebagai ganti. Saya tidak terima, karena kamera bekas itu cenderung dipaksakan sebagai pengganti. Mereka juga mengatakan solusi tersebut sudah maksimal, dengan dalih kamera saya sudah waktunya rusak, jadi belum tentu mereka yang merusakkan. Mohon tanggapan Pimpinan Sampurna Foto, karena saya sudah bosan berhadapan dengan karyawan dan kasus ini bukan melulu tanggung jawab karyawan. Belajar dari kasus saya, mohon pembaca lebih berhati-hati. L Herminah
***
Rencana Operasi Bedah Plastik Sukarti
PKH RS St Elisabeth telah menerima bantuan dari para donatur sebesar Rp 16.615.000 (data terlampir) untuk membantu biaya operasi Sukarti (9 bulan) Desa Pasan RT 01, RW IV Pati. Sukarti telah menyelesaikan administrasi perawatan secara pribadi (data terlampir) dan mulai 8 Agustus, team relawan PKH akan mengambil alih pembiayaan untuk melakukan operasi bedah plastik yang dipimpin oleh dr Soetoko. Tetapi mengingat kondisi fisik dan mental yang tidak mengizinkan, maka melalui keputusan Tim, Sukarti dipulangkan dulu dan 1 November dipanggil kembali guna mempersiapkan operasi. Surat pembaca ini dapat memberikan penjelasan mengenai dana yang diterima dan dikelola PKH RS St Elisabeth, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Suster Fidelia OSF/Margaretha ***
Penataan di PKL Kagok
Kondisi antara lapangan kerja dan pencari kerja tidak seimbang, di mana tersedianya lapangan kerja jauh lebih kecil dibanding dengan jumlah pencari kerja. Fakta ini menunjukkan perekonomian masyarakat semakin lemah dan memunculkan inisiatif beberapa warga untuk membuat PKL di tepi Jl Kagok Raya. Saat ini sudah berdiri beberapa PKL tetapi tanggal 10 September ada pembongkaran salah satu PKL oleh aparat Kelurahan Wonotinggal. Hal ini sebetulnya tidak perlu terjadi. Satu sisi mereka harus mempertahankan hidup, sisi lain menyangkut penertiban. Yang dibutuhkan PKL saat ini adalah penataan, pengarahan dan koordinasi bukan arogansi. Yohanes Budiyono
***
Untuk Masyarakat Muslim Demak
Kami mengundang muslimin dan muslimat di seluruh kecamatan Kabupaten Demak, untuk bergabung dalam wadah Komunitas Masyarakat Ekonomi Islam Kota Wali. Komunitas ini mempunyai misi sosial Islami, mempererat ukhuwah dan menyejahterakan umat muslim. Visinya meningkatkan derajat hidup serta peningkatan finansial ekonomi, sehingga masyarakat setempat dapat lebih terangkat, tercukupi, dan terjamin. Selanjutnya dapat mempelopori kesejahteraan ekonomi umat yang lain. Ainul Muthoo'in |